TRIBUNNEWS.COM - Keberhasilan Inter Milan mengukuhkan sebagai juara Liga Italia musim 2025/2026 diingiri dengan statistik luar biasa.
Tim asuhan Cristian Chivu ini unggul di berbagai hal seperti produktifitas gol, top skor hingga assist.
Inter Milan mengunci gelar Liga Italia setelah mengalahkan Parma 2-0 pada giornata ke-35, Senin (4/5/2026).
Kemenangan itu membuat Inter Milan unggul 12 poin atas Napoli, dan tak akan mungkin dikejar dengan hanya tiga laga tersisa.
Ini menjadi gelar spesial karena terjadi di musim pertama alias debut melatih Cristian Chivu di Inter.
Ia sempat diragukan di awal musim karena tidak cukup konsisten. Mereka saling bertukar posisi klasemen dengan Napoli dan juga AC Milan.
Namun, memulai putaran kedua awal tahun ini, Inter Milan justru menunjukkan karakter juara dengan penampilan paling konsisten dibanding Napoli dan AC Milan.
Meski sempat tersingkir dari kompetisi Eropa dan kalah di derby melawan Milan, Inter tetap mampu bangkit dan menjaga stabilitas performa.
Baca juga: Hasil Klasemen Liga Italia: Inter Milan Sah Juara, Zona Liga Champions Masih Panas
Salah satu kunci utama keberhasilan Inter musim ini adalah produktivitas lini serang. Nerazzurri telah mencetak total 109 gol di semua kompetisi:
Inter Milan menjadi tim paling subur di Serie A. Statistik produktifitas gol mereka sangat terpaut jauh dengan rival-rival mereka.
Napoli yang ada di runner up hanya mencetak 52 gol, alias ada gap 30 gol. Sementara dengan AC Milan lebih banyak lagi, karena hanya mencetak 48 gol.
Jumlah gol Inter Milan musim ini masih berpotensi bertambah, mengingat masih memiliki tiga laga liga dan satu final Coppa Italia.
Artinya, peluang meraih double winner sekaligus mempertebal catatan gol masih terbuka lebar.
Dominasi Inter juga terlihat dalam daftar pencetak gol terbanyak liga. Dua penyerang mereka memimpin perburuan top skor:
Keduanya menjadi motor utama ketajaman Inter sepanjang musim, mengungguli pesaing seperti Anastasios Douvikas dan Nico Paz (Como) yang sama-sama mencetak 12 gol, serta Donyell Malen (AS Roma) 11 gol.
Tak hanya tajam dalam mencetak gol, Inter juga unggul dalam kreativitas. Federico Dimarco menjadi raja assist Serie A dengan 18 assist.
Ia unggul jauh dari para pesaing seperti Armand Lauriente (Sassuolo) dan Nicolo Barella (Inter) yang masing-masing mengoleksi delapan assist.
Nama lain seperti Jesus Rodriguez dan Weston McKennie juga ikut meramaikan daftar, tetapi masih di bawah dominasi Dimarco.
Dimarco memang menjadi salah satu pilar andalan Inter. Ia juga mencetak 6 gol di musim ini, membuat namanya masuk dalam buku rekor.
Ia menjadi bek pertama yang melampaui 20+ keterlibatan gol, (6 goal+18 assist), total 24 kontribusi gol.
Kesuksesan ini terasa semakin spesial karena datang di musim debut Chivu.
Pelatih asal Rumania ini menjadi allenatore kelima yang mampu membawa Inter juara liga di musim pertamanya, mengikuti jejak Arpad Weisz, Alfredo Foni, Giovanni Invernizzi, dan Jose Mourinho, sebagamana dicatat Opta.
Ya, setelah kepergian Jose Mourinho yang memberikan treble winners lebih dari satu dekade lalu, Inter Milan silih berganti menggunakan berbagai pelatih.
Namun, mereka tidak bisa langsung meraih juara di musim pertamanya, termasuk saat dilatih Simone Inzaghi yang dua kali membawa Inter ke final Liga Champions.
Baru saat ini, pada kepemimpinan Chivu, Inter meraih juara saat di musim debut pelatih mereka.
Apa yang ditunjukkan Inter musim ini bukan hanya soal meraih trofi, tetapi juga bagaimana mereka mendominasi hampir semua aspek permainan—dari jumlah gol, top skor, hingga assist.
Dengan statistik tersebut, Inter Milan di era Cristian Chivu layak disebut sebagai salah satu tim paling komplet di Italia musim ini—tajam, kreatif, dan konsisten hingga garis finis.
(Tribunnews.com/Tio)