TRIBUNKALTIM.CO - Pada perdagangan hari ini, Senin (4/5/2026) sejumlah mata uang Asia bergerak melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Seiring penguatan dollar AS yang masih membayangi pasar emerging market, mata uang Indonesia, rupiah menjadi yang terlemah di kawasan Asia.
Nilai rupiah menjadi yang paling lemah di Asia.
Data Reuters pada pukul 02.07 GMT, rupiah tercatat melemah 0,20 persen secara harian ke level Rp 17.340 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya Rp 17.305 per dolar AS.
Baca juga: Makin Tersungkur, Rupiah Diprediksi Tembus Rp 17.550 per Dollar AS Pekan Depan, IHSG Juga Melemah
Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di antara mata uang Asia lainnya pada hari tersebut.
Lihat tabel Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS (4 Mei 2026) berikut ini:
Tak hanya melemah harian, rupiah juga tercatat mengalami depresiasi cukup dalam secara year-to-date (YTD).
Data Reuters menunjukkan rupiah telah melemah sekitar 3,86 persen sepanjang 2026, dari posisi akhir 2025 di level Rp 16.670 per dolar AS menjadi Rp 17.340 per dolar AS.
Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan tekanan terbesar sepanjang tahun berjalan.
Lihat tabel perubahan mata uang Asia sepanjang 2026 (Year To Date)
Secara regional, tekanan terhadap mata uang Asia menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve), pergerakan imbal hasil obligasi AS, serta volatilitas harga minyak dunia.
Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah menjadi perhatian karena berada di level psikologis Rp 17.300 per dolar AS, yang dapat memicu kekhawatiran lanjutan terhadap stabilitas nilai tukar di pasar domestik.
Pelemahan rupiah sudah diprediksi sebelumnya oleh sejumlah analis. Salah satunya adalah Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono.
Dia mengatakan, pelemahan ini dinilai dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang membentuk "badai sempurna" di pasar keuangan.
Dari sisi domestik, sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor global.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai struktur pelaporan yang terlalu terpusat meningkatkan risiko tata kelola.
"Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).
Di sisi global, eskalasi konflik Timur Tengah serta dinamika di pasar minyak turut memperburuk tekanan yang membuat harga minyak Brent naik sehingga meningkatkan beban impor energi Indonesia.
Wahyu memperkirakan, rupiah masih berada dalam tekanan, terutama pada awal bulan Mei.
Sejumlah sentimen negatif yang membayangi antara lain rilis data inflasi domestik yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga BBM non-subsidi, serta faktor musiman berupa aliran dividen ke investor asing yang mendorong arus keluar modal.
Di sisi global, sikap hawkish Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) juga menjadi faktor penekan tambahan.
Dalam skenario terburuk, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.800 per dolar AS jika tekanan eksternal dan domestik tidak mereda.
"Rupiah bisa berbalik arah jika terdapat intervensi BI yang lebih agresif, data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang kembali melebar, dan meredanya tensi geopolitik global yang menurunkan harga minyak ke bawah US$ 90," kata Wahyu seperti dikutip TribunKaltim.co dari kontan.co.id.
Sejauh ini, kebijakan stabilisasi melalui skema triple intervention, pasar spot, DNDF, dan obligasi, dinilai cukup efektif dalam meredam volatilitas.
Namun, langkah tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah.
Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$ 148 miliar masih tergolong memadai, tetapi pasar mulai mencermati kecepatan penggunaannya dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Pemerintah menegaskan akan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.000 per dolar AS, di tengah tekanan global yang juga dialami banyak negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan mata uang bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena yang juga dialami berbagai negara, khususnya di kawasan emerging markets.
"Pemerintah tentu akan melihat, tetapi juga terkait dengan pelemahan kurs kan bukan hanya monopoli Indonesia, tetapi berbagai negara menghadapi hal yang sama.
Jadi kita monitor terhadap peer country juga," ujar Airlangga kepada awak media di Kemenko Perekonomian, Senin (4/5/2026) seperti dikutip TribunKaltim.co dari kontan.co.id.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang kian dalam.
Sejumlah mata uang Asia tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/5/2026), seiring penguatan dolar yang masih membayangi pasar negara berkembang.
Mengutip Bloomberg, Senin (4/5/2026) pukul 11.25 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.370 per dolar Amerika Serikat, rupiah melemah 0,19 persen dibanding akhir pekan lalu.
Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 3,98 persen dari posisi akhir 2025 di level Rp 16.670 per dolar AS.
Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan tekanan terbesar sepanjang tahun ini.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah Rp 17.346 per Dollar AS, Ekonom Singgung Moratorium Sejumlah Program
(*)