TRIBUN-SULBAR.COM- Seorang imam masjid di Kota Polopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi korban pengeroyokan oleh 3 pria dan satu wanita.
Korban diketahui bernama Ahmad (62), ia babak belur usai mendapat pukulan dari para pelaku pada, Rabu (29/4/2026) lalu.
Para pelaku ini awalnya ditegur oleh korban, namun berjung kekerasan hingga nyaris merenggut nyawa sang imam masjid tersebut.
Baca juga: Gempa Bumi Terkini Sulawesi, BMKG Catat Tiga Guncangan di Sulteng, Magnitudo 2,8 hingga 3,0
Baca juga: 639 Ribu Pelamar Berebut Posisi Jadi Manajer Kopdes Merah Putih, Diterima Hanya 35 Ribu
Kejadian itu, Ahmad dituding memukul, tapi ia membantah bahwa tudingan beredara di media sosial tidak benar.
“Itu tidak benar. Saya tidak memukul,” tegas Ahmad saat ditemui, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, kejadian bermula usai menunaikan salat Asar.
Saat berjalan pulang dari masjid, dirinya dihentikan seorang wanita yang langsung melontarkan tuduhan.
“Kenapa pukul anak saya? Nanti saya lapor polisi,” kata Ahmad menirukan ucapan wanita tersebut.
Ahmad mengaku telah membantah tuduhan itu dan mempersilakan jika ingin melapor ke polisi.
Namun situasi tiba-tiba memanas.
Ia mengaku dipukul dari arah belakang hingga tersungkur. Tak lama, tiga pria ikut menyerang bersama wanita tersebut.
“Mereka pukul wajah dan dada saya bertubi-tubi. Pandangan saya langsung gelap, muka penuh darah,” ungkapnya.
Dalam kondisi tak berdaya, Ahmad menjadi sasaran pengeroyokan. Sejumlah jemaah sempat berusaha menolong, namun dihalangi para pelaku.
Dengan sisa tenaga, Ahmad merangkak ke keran masjid untuk mencuci wajahnya yang bersimbah darah.
Usai kejadian, Ahmad mendatangi Polsek Wara untuk melapor.
Namun ia terkejut karena wanita yang menuduhnya sudah lebih dulu membuat laporan.Anak wanita tersebut diklaim dipukuli hingga benjol.
“Hasil pemeriksaan tidak ada benjol. Karena memang saya tidak memukul,” tegas Ahmad.
Ia mengakui hanya menjitak ringan sebagai bentuk teguran terhadap anak-anak yang kerap membuat keributan di dalam masjid.
Menurutnya, aksi anak-anak tersebut sudah meresahkan.
“Mereka teriak-teriak pakai mikrofon, salto di dalam, bahkan bawa sepeda masuk masjid,” ujarnya.
Akibat ulah tersebut, empat kaca railing masjid dilaporkan pecah.
“Hari itu saya marah karena mereka ganggu persiapan salat,” tambahnya.
Akibat pengeroyokan itu, Ahmad mengalami luka serius dan sempat pingsan saat berada di Polsek Wara.
Ia kemudian dilarikan ke RS Mega Buana sebelum dirujuk ke RS Palemmai Tandi untuk mendapatkan perawatan intensif serta visum.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Palopo, AKP Marzuki, mengatakan kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan.
“Empat saksi sudah diperiksa. Kami masih menunggu hasil visum untuk proses lebih lanjut. Terduga pelaku juga sudah dipanggil,” tandasnya. (*)