WARTAKOTALIVECOM — Gelombang demonstrasi anti-pemerintah kembali mengguncang Yerusalem Barat pada Sabtu (2/5/2026).
Ratusan warga Israel turun ke jalan menyuarakan kemarahan dan kekecewaan terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dalam aksi yang diwarnai ketegangan hingga bentrokan dengan aparat kepolisian.
Massa aksi yang terdiri dari aktivis, keluarga korban, serta warga sipil memadati sejumlah ruas jalan utama sambil membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan perubahan.
Mereka mendesak pemerintah untuk bertanggung jawab atas situasi keamanan yang dinilai kian memburuk, sekaligus menuntut transparansi atas peristiwa Serangan 7 Oktober 2023 yang menjadi titik balik konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas ketika sebagian demonstran mencoba mendekati barikade polisi.
Aparat kemudian membubarkan massa menggunakan tindakan pengendalian kerumunan, yang memicu aksi saling dorong dan bentrok di beberapa titik.
Di tengah kericuhan, suara kekecewaan warga terdengar semakin lantang.
Seorang demonstran bernama Yael menggambarkan kondisi psikologis masyarakat yang terus dihantui ketakutan akibat konflik yang tak kunjung reda.
“Hidup kami kacau. Kami hidup dari sirene ke sirene, dari bom ke bom, dan kami membutuhkan pemerintah kami untuk menjadi mitra bagi perdamaian,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan keresahan publik yang semakin meluas, terutama di kalangan warga sipil yang merasa menjadi korban langsung dari eskalasi konflik bersenjata.
Selain isu keamanan, para demonstran juga menuntut pemerintah membuka secara transparan seluruh fakta terkait kegagalan intelijen dan respons negara dalam menghadapi serangan pada Oktober 2023 lalu.
Sejak peristiwa tersebut, tekanan terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu terus meningkat.
Kritik tidak hanya datang dari oposisi politik, tetapi juga dari masyarakat luas yang mempertanyakan arah kebijakan perang terhadap Palestina serta dampaknya terhadap stabilitas dalam negeri Israel.
Pengamat menilai, gelombang protes yang terus berulang ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Ketidakpastian keamanan, trauma berkepanjangan, serta tuntutan akan akuntabilitas menjadi faktor utama yang mendorong warga turun ke jalan.
Hingga kini, situasi di sejumlah titik di Yerusalem Barat dilaporkan masih dalam penjagaan ketat aparat keamanan untuk mengantisipasi potensi aksi lanjutan.