Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Di tengah riuhnya kawasan wisata Pantai Pangandaran, tepatnya di wilayah Pantai Barat, terdapat kisah inspiratif dari seorang pedagang kecil yang memanfaatkan limbah laut menjadi berkah ekonomi.
Dia bernama Titin Suhartini (58), seorang wanita paruh baya yang menggantungkan hidupnya dari berjualan asesoris berbahan dasar kerang dan limbah laut.
Sehari-hari, Titin menempati sebuah kios bagian bawah di bangunan Nanjungsari, Pantai Barat Pangandaran. Sudah lebih dari delapan tahun ia bertahan di lokasi tersebut.
Sebelum memiliki kios tetap, Titin mengawali usahanya dengan berjualan keliling menyusuri bibir pantai, menawarkan dagangannya kepada para wisatawan.
Baca juga: Keseharian Ibunda Bupati Citra Pitriyami dan Cakra Khan di Pangandaran, Berkebun Sambil Ngonten
Di kios kecilnya, berbagai jenis asesoris khas Pangandaran tertata rapi. Mulai dari gelang, gantungan kunci, lampu hias, kaca dinding berbahan kerang, jam dinding, hingga tempat tisu.
Semua barang tersebut dibuat dari limbah laut yang disulap menjadi produk yang bernilai seni dan ekonomi.
"Sudah sekitar delapan tahun lebih saya berjualan. Alhamdulillah, masih ada saja yang beli. Apalagi kalau libur panjang, pasti rama," ujar Titin dengan senyum ramah kepada Tribun Jabar di kiosnya, Senin (4/5/2026) siang.
Menurutnya, momen libur panjang menjadi waktu paling dinantikan. Wisatawan dari berbagai daerah memadati kawasan pantai, dan kios kecil miliknya pun tak pernah sepi pengunjung.
Banyak di antara mereka yang tertarik membawa pulang asesoris unik berbahan kerang sebagai oleh-oleh khas Pangandaran.
Harga yang ditawarkan pun cukup beragam dan terjangkau. Untuk asesoris kecil seperti gelang atau gantungan, dibanderol mulai dari Rp 35 ribu.
"Kalau produk yang lebih besar seperti lampu hias atau jam dinding bisa mencapai Rp 75 ribu hingga lebih dari Rp 150 ribu, tergantung tingkat kerumitan dan ukuran," katanya.
Menariknya, produk yang dijual Titin bukan hasil produksinya sendiri. Ia menjadi penghubung antara perajin lokal dengan pasar wisata.
Seluruh kerajinan tersebut Ia beli dari warga sekitar Pangandaran yang mengolah limbah laut menjadi berbagai karya kreatif."Kalau harga, ya pasti di bawah penjualan," ucap Titin.
Dengan cara itu, Titin tidak hanya mencari nafkah untuk dirinya, tapi juga turut membantu roda perekonomian warga lain.
Limbah laut yang sebelumnya tak bernilai, kini berubah menjadi sumber penghasilan bagi Titin dan banyak orang.(*)