Menjaga Api Tradisi di Jantung Candi: Ambisi Klaten Menjadi Pusat Tari Nusantara
Hari Susmayanti May 04, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Di bawah bayang-bayang kemegahan Candi Prambanan, sebanyak 850 penari dari 24 sanggar tari se-Kabupaten Klaten berkumpul bukan sekadar untuk menari.

Mereka sedang menyalakan kembali "api" kebudayaan dalam gelaran Klaten Menari #3 yang bertepatan dengan peringatan Hari Tari Sedunia, Minggu (3/5/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Silaturahmi Sanggar Tari (FSST) Kabupaten Klaten ini tak lagi sekadar ritual tahunan.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, melihat ada potensi yang jauh lebih besar transformasi kawasan Prambanan menjadi episentrum seni tari tingkat nasional, bahkan global.

Dalam pidatonya, Bupati Hamenang memberikan sebuah kiasan mendalam tentang regenerasi budaya.

Baginya, keterlibatan 850 penari lintas usia bersama 9 maestro tari tingkat internasional adalah bukti bahwa ekosistem seni di Klaten sedang membara.

“Hari ini bersama-sama kita melaksanakan acara peringatan Hari Tari Sedunia yang Alhamdulillah di Kabupaten Klaten diprakasai oleh rekan-rekan dari Forum Silaturahmi Sanggar Tari (FSST) Kabupaten Klaten,” ujarnya.

Merujuk pada penampilan Tari Klana Topeng Dalang yang menjadi ikon acara, Hamenang menekankan pentingnya esensi dalam pelestarian.

“Hari ini temanya sangat luar biasa, (terungkap saat pertunjukan Tari Klana Topeng Dalang Klaten). Bagaimana kita tidak mewarisi abu dari para senior kita tapi bagaimana api dari para senior kita ini bisa kita panaskan terus, kita jaga apinya dan kemudian kita kembangkan,” katanya.

Ambisi besar Hamenang tertuju pada relief-relief Candi Prambanan yang merekam sejarah gerak tari masa lampau.

Ia berencana membawa usulan serius ke tingkat pusat agar Prambanan mendapat predikat baru sebagai pusat pengembangan seni tari.

“Alhamdulillah hari ini kita berkolaborasi dengan 24 sanggar yang ada di Kabupaten Klaten, 850 penari dan juga dihadiri serta diikuti oleh 9 maestro tari yang luar biasa, levelnya sudah tidak hanya nasional tapi internasional yang berdomisili di Jateng-DIY,” ungkapnya.

Baca juga: Belasan Anak Korban Little Aresha Daycare Alami Gangguan Tumbuh Kembang, Ada Gejala Speech Delay

Lebih lanjut, ia melihat adanya keterkaitan spiritual dan historis antara relief candi dengan seni pertunjukan yang harus diakui secara luas.

“Kita juga ingin mengusulkan pada Bapak Presiden, agar Candi Prambanan tidak hanya sebagai pusat wisata religi sejarah (agama) Hindu, tapi juga di sisi lain karena relief-nya ternyata banyak yang bercerita dengan tari yang luar biasa. Kami berharap di sini juga bisa menjadi sebuah pusat tari Nusantara,” jelasnya.

Ke depan, kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Klaten dan FSST dipastikan akan semakin tajam.

Hamenang berkomitmen untuk tidak berhenti pada seremoni, melainkan menciptakan event-event yang mampu menarik mata dunia ke Klaten.

“Di sisi lain Insyaallah kolaborasi antara FSST dengan Pemda tidak berhenti di sini, tapi ke depan kita akan menghadirkan berbagai macam event yang mungkin akan lebih seru lagi,” lanjutnya.

Harapan besarnya adalah agar identitas Klaten, terutama Tari Topeng Dalang, tidak hanya menjadi cerita di rumah sendiri, melainkan menjadi bahasa diplomasi budaya di tingkat internasional.

“Mohon doanya agar kemudian ke depan regenerasi dari para penari di Kabupaten Klaten ini bisa terus dijaga. Sehingga tari-tarian yang asli dari Kabupaten Klaten bisa kita terus lestarikan, kita tampilkan dan kemudian agar warga masyarakat di Indonesia dan dunia ini bisa melihat,” tandasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.