TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta bergerak melakukan tindak lanjut terhadap kondisi kesehatan anak-anak yang menjadi korban Little Aresha Daycare, Kemantren Umbulharjo.
Berdasarkan hasil asesmen awal terhadap 131 anak, ditemukan belasan korban yang terindikasi mengalami gangguan tumbuh kembang, mulai dari masalah gizi hingga keterlambatan bicara (speech delay).
Kepala Dinkes Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menuturkan tim gabungan dari enam Puskesmas telah diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Hasilnya, ditemukan fakta yang cukup memprihatinkan terkait kondisi fisik dan psikis para anak yang jadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran tersebut.
"Kemarin yang masalah gizi itu ada 17 anak. Lalu yang terkait gangguan perkembangan ada 13 anak," ujar Kadinkes, saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Emma merinci, 13 anak yang mengalami gangguan perkembangan tersebut menunjukkan berbagai gejala, mulai dari hiperaktif, kecenderungan ADHD dan autism, hingga keterlambatan bicara.
Meski demikian, ia menekankan, bahwa hasil tersebut masih bersifat diagnosis sementara dan memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan mendalam.
"Itu baru diagnosis sementara, harus diverifikasi lagi. Ada yang speech delay atau keterlambatan bicara itu tiga anak. Kemudian, ada yang kecenderungan ADHD dan autism. Nanti akan diperiksa lagi secara detail," jelasnya.
Baca juga: Hasil Asesmen Korban Daycare Little Aresha, Terungkap Kondisi Fisik Psikis dan kognitif Anak-anak
Untuk menangani temuan tersebut, Dinkes Kota Yogyakarta sudah menginstruksikan Puskesmas di wilayah tempat tinggal masing-masing korban untuk melakukan pendampingan intensif.
Setiap Puskesmas mengerahkan tim yang terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis atau ahli gizi, dan psikolog klinis.
Kemudian, bagi anak yang mengalami masalah gizi seperti berat badan kurang atau anemia, ditempuh langkah Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
"Kalau yang masalah gizi, nanti dikembalikan ke Puskesmas wilayah masing-masing untuk didampingi nutrisionis. Jika berat badannya kurang, nanti diberikan PMT," urai Emma. (*)