Keunikan 2 Bayi Harimau Sumatera di Lembah Hijau, Lahir dari Dua Indukan Cacat
Reny Fitriani May 04, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dua bayi Harimau Sumetera (Panthera Tigris Sumatrae) yang lahir di Taman Wisata Lembah Hijau, Bandar Lampung pada 14 Februari 2026, memilki keunikan tersendiri. 

Yakni terlahir dari dua indukan yang cacat. 

Harimau jantan bernama Kiay Batua dan yang betina bernama Sinta. 

Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M Irwan Nasution mengatakan, Harimau Batua diselamatkan setelah menjadi korban jerat pemburu liar di Desa Batu Ampar, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, 2 Juli 2019.

Pasca ditemukan terjerat, Kiay Batua dibawa ke Lembah Hijau Lampung oleh BKSDA Bengkulu-Lampung untuk dilakukan rescue atau penyelamatan. 

Baca Juga: Kabar Gembira, 2 Bayi Harimau Sumatera Lahir di Taman Wisata Lembah Hijau

Akibat mengalami luka serius pada kaki kanan depannya akibat jerat, pada 5 Juli 2019, Kyai Batua harus menjalani operasi amputasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Sehingga kondisinya kini mengalami cacat permanen dan kondisi serupa juga dialami induk betina, Sinta.

Betina Sinta merupakan korban jerat pemburu liar di wilayah Bengkulu pada Desember 2024.

Sinta pun harus kehilangan kaki kanan belakangnya sebelum akhirnya dibawa ke LK Lembah Hijau untuk dititipkan dan dilakukan perawatan.

M Irwan Nasution mengatakan kondisi anakan harimau tersebut sehat. 

"Harimau Sumatera yang dititipkan kepada kami oleh BKSDA Bengkulu melalui Seksi Wilayah III telah melahirkan dan kondisi anakan sehat dan terus dipantau oleh tim Lembah Hijau," kata M Irwan Nasution, Senin (4/5/2026). 

Kelahiran dua ekor anak harimau tersebut menjadi yang pertama pertama di Lembah Hijau dan di Provinsi Lampung.

Serta menambah populasi Harimau Sumatra dan sebagai cadangan genetik yang ada di Lembaga Konservasi (LK) Lembah Hijau. 

"Kelahiran ini merupakan suatu keberhasilan dari sebuah program Kementerian Kehutanan melalui program GSMP (Global Species Management Plan) khusus untuk Harimau Sumatera," terangnya.

Ia mengatakan, kemarin pada pertemuan GSMP di Taman Safari bahwa kelahiran dua bayi harimau mendapat apresiasi dari program GSMP. 

"Program GSMP ini diinisiasi oleh kementerian dan didukung oleh Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI)," terangnya.

Serta kebun binatang global di seluruh dunia yang memiliki Harimau Sumatera. 

"Saat ini sudah mencapai fase kelima. Batua sendiri pada program GSMP," kata Irwan. 

Sejalan Program GSMP

Kehadiran dari Panthera tigris Sumatrae menjadi catatan penambahan spesies langka. 

Perkawinan Harimau Sumatera Kyai Batua dan Sinta ini juga sejalan dengan program Kementerian Kehutanan dalam pelestarian Harimau Sumatera yakni Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV Tahun 2024/2025.

Bersama Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) terkait rekomendasi perkawinan terkontrol. 

Dalam rekomendasi GSMP itu, Batua memiliki Stood Book Harimau Sumatera (SB) dengan nomor ID 1886 dan Shinta SB ID 1998.

Kelahiran dua individu baru satwa dilindungi itu menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi Harimau Sumatera di LK Lembah Hijau. 

"Lahirnya dua anak harimau dari hasil perkawinan Kyai Batua dan Sinta tersebut memilik arti tersendiri bagi LK Lembah Hijau," kata Irwan. 

Tak hanya membantu pelestariannya, akan tetapi keunikan yang sama-sama dimiliki anak Harimau Sumatera ini yakni terlahir dari kedua indukan yang cacat.

"Kelahiran dua anak harimau Sumatera ini diharapkan tak hanya menambah jumlah individu atau tingkat populasinya," ucapnya.

Akan tetapi juga dapat semakin meningkatkan semangat dalam menggencarkan program konservasi demi kelangsungan hidup satwa endemik tersebut dari ancaman kepunahan.

Kelahiran anak harimau di kebun binatang seperti di LK Lembah Hijau Lampung ini semakin meningkatkan daya tarik wisatawan. 

"Kami mengharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian LK Lembah Hijau," kata Irwan.

Pihaknya mengucapkan terima kasih atas dukungan, kerja sama dan kepercayaan yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Kehutanan.

BBKSDA Bengkulu-Lampung dan Balai TNBBS, serta PKBSI, dalam pelaksanaan program konservasi.

"Keberhasilan konservasi ini juga tidak terlepas dari kolaborasi yang baik dari tim rescue atau penyelemat di lapangan, dokter dan paramedis, Balai TNBBS, Balai BKSDA Bengkulu-Lampung Seksi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung dan Lembah Hijau yang merawat sehingga kini terjadinya kelahiran anak Harimau Sumatera," terangnya.

Pihaknya berkomitmen untuk terus menjalankan program konservasi dengan lebih baik dan akan mendukung rencana-rencana pemerintah dalam hal pelestarian satwa dan cadangan genetik.

"Sarana dan prasana pun telah disiapkan LK Lembah Hijau Lampung, seperti kandang tempat tinggal Harimau Sumatera yang didesain mirip dengan kondisi seperti di habitatnya," kata Irwan. 

Pihaknya berharap setiap individu Harimau Sumatera yang ada dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Proses Perkawinan

Rasyid Ibransyah, dokter hewan atau Manager Satwa Lembah hijau mengatakan, pihaknya memantau keadaan harimau jantan, Batua dan Shinta yang memiliki keterbatasan. 

Harimau Batua cacat pada kaki depan sebelah kanan dan Sinta cacat pada kaki belakang sebelah kanan. 

"Kita proses pengenalan antara keduanya memakan waktu dua bulan. Setelah perkenalan, itu hanya pengenalan bau, belum mengenal fisik," kata Rasyid.

Kemudian setelah mengenal bau selama satu bulan, pihaknya buka dengan pengenalan fisik tetapi dengan pembatas kandang.

"Kita nilai aman, satu bulan kemudian baru kita gabungkan. Ketika ada proses dimana betina menunjukkan estrus atau birahi, itu terpantau pada tanggal 26 Oktober 2025, di mana harimau Sinta sudah melakukan perilaku estrus seperti guling-guling dan lain-lainnya," ungkapnya.

Rasyid mengatakan, untuk perkawinannya sendiri itu terjadi selama tiga hari, pada tanggal 29 Oktober sampai dengan 31 Oktober 2025.

Setelah itu ada gejala positif hamil karena ada perubahan fisik pada Sinta, terpantau pada tanggal 30 November 2025 karena adanya pembesaran pada puting susu atau kelenjar mamae-nya.

"Ditambah pada 14 Desember 2025 itu bagian perut belakang juga sudah membesar. Untuk itu kita lakukan pemisahan di antara keduanya pada 22 Desember 2025, setelah kita nyatakan positif bunting dan kita pisah," kata Rasyid. 

"Kalau kehamilannya 105 hari, terhitung dari 1 November 2025 dan lahir pada 14 Februari 2026 atau hari valentine 2026."

"Kalau sekarang ini, sudah 2 bulan 20 hari usia anakan atau 76 hari sampai pada hari ini. Kenapa kita baru informasikan sekarang, karena tentu kita melalui tahapan-tahapan," imbuhnya.

Ia mengatakan, pada saat kelahiran pihaknya sudah langsung memberikan laporan.

Harimau tersebut telah dipantau secara intensif. 

"Kita sudah yakin mudah-mudahan ini akan berhasil, baru kita umumkan rilis hari ini," kata Rasyid. 

"Semuanya sudah melewati masa kritis, tetapi juga tetap kita masih pantau karena di beberapa tempat juga usia 3 bulan bahkan ada yang 8 bulan masih bisa menyebabkan kematian," terusnya.

Kepala seksi konservasi wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, Itno Itoyono mengatakan, pihaknya bersyukur dengan kehadiran dua ekor harimau di Lembah Hijau.

"Kemungkinannya itu jenisnya jantan dan betina, karena belum disentuh secara langsung. Aka  tetapi kita lihat dari apa namanya bentuk tubuh dan perilakunya secara tidak langsung melalui kamera CCTV itu mengindikasikan jenisnya adalah jantan dan betina," kata Itno. 

Pihaknya berterima kasih kepada LK Lembah Hijau terima kasih atas komitmen serta dedikasinya terhadap konservasi selama ini.

"Kedatangan dua ekor anak ke dunia ini tentu saja menjadi tambahan darah semangat buat konservasi," kata Itno. 

Lembaga Konservasi adalah kegiatan konservasi secara ex situ atau di luar habitatnya.

Dengan kedatangan dua ekor harimau ini tentu saja menjadi hal yang membanggakan bagi semuanya.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.