Harga Singkong Naik tapi Sebagian Petani di Lampung Tengah Pilih Tanam Jagung
Reny Fitriani May 04, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Harga singkong di Kabupaten Lampung Tengah tengah melonjak dan menjadi perbincangan di kalangan petani.

Di tengah pasokan yang terbatas, kondisi ini justru membuka peluang bagi petani yang masih bertahan menanam komoditas tersebut, meski sebagian lainnya memilih menunda tanam atau beralih sementara ke tanaman lain.

Di Kecamatan Bumiratu Nuban, Angga Tejo Murwanto menjadi salah satu petani yang merasakan langsung dinamika tersebut.

Namun alih-alih langsung menanam singkong, Angga saat ini justru memilih menanam jagung di lahan seluas 1 hektar miliknya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Angga menyebut, langkah tersebut diambil sebagai bagian dari peremajaan tanah sekaligus untuk menghindari risiko kerugian seperti yang ia alami pada akhir tahun lalu.

Baca Juga: DPRD Ingatkan Pelaku Industri Tidak Manipulasi Timbangan saat Harga Singkong Tinggi

Ia masih mengingat betul kondisi pasar singkong pada periode November hingga Desember yang menurutnya sangat tidak menguntungkan.

Saat itu, harga tidak stabil dan sistem penjualan ke pabrik dinilai memberatkan petani.

"Waktu itu penjualan benar-benar ruwet, potongannya besar mulai 25 sampai 30 persen, buka-tutup pabrik juga tidak pasti. Petani jadi serba salah," ungkap Angga kepada Tribunlampung.co.id, Senin (4/5/2026).

Potongan rafaksi yang tinggi, ditambah operasional pabrik yang tidak menentu, membuat Angga dan petani lain kesulitan menentukan waktu jual yang tepat. 

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama Angga untuk sementara beralih ke tanaman palawija.

Jagung dipilih karena masa tanamnya relatif singkat, sekitar tiga bulan.

Bagi Angga, komoditas ini bisa menjadi solusi sementara sebelum kembali menanam singkong.

Ia pun memastikan, setelah panen jagung, dirinya akan kembali ke singkong, terlebih dengan kondisi harga yang saat ini sedang tinggi.

Angga bahkan memperkirakan tren harga tersebut masih akan bertahan hingga Agustus mendatang.

Perkiraan itu bukan tanpa dasar. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar tanaman singkong belum memasuki masa panen.

"Banyak lahan yang baru ditanam atau masih dalam fase pertumbuhan, bahkan ada yang baru berusia sekitar lima bulan. Sementara itu, singkong umumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan masa pemeliharaan sebelum siap dipanen," jelasnya.

Situasi tersebut membuat pasokan singkong di pasaran menjadi terbatas. Kelangkaan inilah yang kemudian mendorong harga naik di tingkat petani.

Selain faktor produksi, Angga menilai kenaikan harga juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang membatasi impor tepung tapioka. Kebijakan tersebut membuat industri dalam negeri lebih banyak menyerap produksi lokal, sehingga permintaan meningkat.

Di sisi lain, faktor cuaca turut berperan. Memasuki musim kemarau, kadar air dalam umbi singkong cenderung lebih rendah.

Kondisi ini justru berdampak positif terhadap kualitas, karena meningkatkan kadar pati atau aci yang menjadi salah satu penentu harga jual.

Di Lampung Tengah, varietas singkong garuda saat ini menjadi yang paling diminati petani. Varietas ini dinilai lebih unggul dari sisi produktivitas dan kandungan pati. Selain itu, terdapat pula varietas lain seperti kasesa, thailand, dan cina yang masih dibudidayakan.

Meski harga tengah tinggi, Angga menyebut tidak semua petani langsung kembali menanam singkong. Sebagian memilih menanam palawija seperti jagung, cabai, dan padi darat sebagai langkah sementara.

Upaya tersebut dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.

Bahkan, tidak sedikit petani yang beralih secara permanen ke tanaman lain seperti kelapa sawit dan tebu yang dinilai lebih stabil dalam jangka panjang.

Di tengah berbagai pilihan tersebut, harapan petani tetap sama, yakni adanya kepastian dalam usaha mereka. Angga menegaskan bahwa stabilitas menjadi kunci utama.

"Kami tidak hanya butuh harga tinggi, tapi juga kepastian. Kalau harga stabil, potongan jelas, dan pabrik terus buka, petani pasti lebih tenang," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Tengah, Dasrul Aswin, membenarkan bahwa saat ini singkong menjadi komoditas yang cukup langka di pasaran.

Ia menyebut harga singkong kini mencapai Rp1.650 per kilogram dengan potongan rafaksi sekitar 15 persen.

Dengan kondisi tersebut, petani dinilai masih bisa memperoleh keuntungan yang cukup baik.

Menurutnya, momentum harga tinggi ini perlu dijaga dengan kebijakan yang berpihak pada petani, agar keseimbangan antara produksi dan penyerapan pasar tetap terjaga.

"Dengan harga seperti ini, petani bisa mendapatkan keuntungan bersih lebih dari Rp1.000 per kilogram. Ini kondisi yang cukup baik bagi petani," kata Dasrul.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.