SURYA.co.id - Iran mengajukan proposal diplomatik 14 poin kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan. Usulan ini bertujuan mengakhiri konflik secara permanen, namun perbedaan tajam soal nuklir dan Selat Hormuz membuat kesepakatan sulit tercapai.
Usulan ini dikirim melalui Pakistan di tengah gencatan senjata rapuh sejak 8 April.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, Teheran menargetkan penyelesaian penuh dalam 30 hari.
Proposal ini mencakup tuntutan strategis yang lebih luas dibandingkan sekadar perpanjangan gencatan senjata.
Isi proposal antara lain jaminan tidak adanya serangan di masa depan.
Iran juga menuntut penarikan pasukan AS dari sekitar wilayahnya.
Selain itu, Teheran meminta pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan perekonomian.
Iran juga menuntut pembebasan aset yang dibekukan.
Iran menegaskan haknya melakukan pengayaan uranium sesuai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Poin ini langsung berbenturan dengan posisi Amerika Serikat.
Teheran juga meminta ganti rugi perang sebagai bagian dari kesepakatan. Mekanisme baru untuk mengatur Selat Hormuz turut diajukan.
Baca juga: Babak Baru Konflik Timur Tengah, Ini Alasan Trump Batalkan Serang Iran dan Nyatakan Perang Berakhir
Donald Trump menanggapi proposal dengan sikap skeptis. Ia mengaku masih mempelajari isi usulan tersebut.
“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi,” kata Trump, merujuk pada kemungkinan serangan militer.
Trump menilai Iran belum membayar harga yang cukup atas tindakannya selama puluhan tahun. Ia menyebut sulit membayangkan proposal diterima.
Washington tetap menuntut Iran menghentikan blokade Selat Hormuz. Program nuklir juga menjadi garis merah bagi AS.
Kebuntuan negosiasi terutama disebabkan oleh dua isu utama. Pengayaan uranium dan kontrol atas Selat Hormuz menjadi titik benturan.
Blokade de facto Iran terhadap selat merupakan respons atas serangan AS dan Israel. Sementara itu, AS juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Menurut Paul Musgrave dari Universitas Georgetown, dikutip dari Tribunnews, Iran menunjukkan sedikit pelunakan. “Ada indikasi bahwa Iran mulai membuka ruang diskusi,” ujarnya.
Namun, Musgrave menegaskan perbedaan soal nuklir masih sangat jauh. “Presiden Trump bersikeras bahwa Iran harus menyerahkan kemampuan nuklirnya,” tambahnya.
Kenneth Katzman dari Soufan Center menilai krisis kepercayaan jadi hambatan utama. “Iran benar-benar tidak mempercayai Trump dan Amerika Serikat,” katanya.
Iran disebut enggan memulai diskusi penuh sebelum blokade dicabut. Hal ini memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi diplomasi.
Analis Trita Parsi menilai kebijakan blokade AS justru memperburuk situasi. “Blokade ini menghambat kemajuan diplomatik,” ujarnya.
Parsi juga menyoroti dampak ekonomi global. Harga minyak disebut lebih tinggi dibandingkan saat perang berlangsung aktif.
Meski gencatan senjata masih berlaku, situasi lapangan tetap tegang. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan tetap dalam siaga penuh.
Hal ini menandakan potensi eskalasi kapan saja. Dunia menunggu apakah diplomasi akan menang atau konflik kembali meledak.
Poin-poin utama yang diajukan Iran: