Renungan Harian Kristen 5 Mei 2026 - Janji Untuk Selalu Setia
Bacaan ayat: Yohanes 13:37-38 (TB) Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Sifat yang diinginkan dari seseorang ialah kesetiaannya. Setia yang dimaksud meliputi seluruh aspek kehidupan. Setia dalam bekerja, setia dalam membangun relasi, setia dalam bersikap, setia dalam bertindak, dan setia yang lainnya.
Seseorang bisa saja setia dalam satu hal, namun belum tentu setia dalam hal yang lain. Ini biasanya dikaitkan dengan kepentingan dan keuntungan yang mungkin akan diperolehnya.
Setia saat beruntung dan mengingkari ketika mengalami kerugian.
Petrus dengan pernyataan penting bahwa ia akan setia; bahkan ketika ia dirugikan. Apapun dijanjikan akan diserahkan demi kesetiaan, termasuk menyerahkan nyawanya.
Pernyataan ini baik. Namun ada hal tersembunyi yang luput dari perhatian Petrus. Pernyataannya justru menyimpan sebuah kesombongan.
Yesus sebagai Firman Allah yang menjadi manusia tentu paham akan resiko yang harus dihadapi oleh para murid saat memutuskan untuk mengikuti Dia.
Akan ada banyak penderitaan dan aniaya diamali oleh orang percaya.
Kecenderungan paling umum ada pada banyak orang ialah kekecewaan, jika mengikuti Yesus ternyata tidak seperti yang diekspektasikan.
Pernyataan Petrus justru menjadi dasar sebuah nubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok. Apakah ini semacam garis tangan yang telah ditetapkan demikian?
Tentu tidak. Yesus sedang menyampaikan sebuah peringatan penting bahwa tidak gampang memutuskan untuk menjadi murid-Nya. Akan ada banyak tantangan dan hambatan dalam perjalanannya.
Mengikut Yesus itu tentang pembaharuan akal budi. Dari satu point dasar ini saja telah mengubah banyak paradigma. Jika sesuatu diterima oleh dunia dan dianggap baik, belum tentu akan dinilai benar dalam Yesus Kristus.
Setiap motifasi harus diperbaharui. Sama-sama melakukan tindakan kebaikan, ternyata motifnya bisa berbeda. Berbuat baik bagi dunia bermotifkan nilai kemanusiaan, atau demi mendapatkan keselamatan nantinya.
Dalam Yesus, berbuat baik bermotifkan ucapan syukur karena telah mendapatkan kebaikan Tuhan, yaitu jaminan keselamatan.
Itu sebabnya kesetiaan bukanlah prestasi yang bisa disombongkan. Kesetiaan menjadi pilihan sadar akan keselamatan yang telah diterima dalam Yesus Kristus.
Tetaplah setia, bukan karena ingin dinilai hebat. Setialah karena Allah begitu setia menyelamatkan kita. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang