BOLASPORT.COM - Kejutan tim bulu tangkis putra Prancis berakhir anti-klimaks dengan kalah di Thomas Cup 2026. Kegagalan ketika sudah di ujung ini coba ditanggapi dengan positif.
Prancis harus mengakui keunggulan China dalam laga final Thomas Cup 2026 yang digelar pada Minggu (3/5/2026) di Forum Horsens, Denmark.
China menang 3-1 dengan kemenangan dipastikan oleh ganda putra, He Ji Ting/Ren Xiang Yu, pada partai keempat.
Kekalahan ini tentu menyesakkan bagi Prancis mengingat mereka melalui pekan yang impresif di ajang bulu tangkis putra paling bergengsi ini.
Mereka lolos ke final dengan melibas negara-negara kuat dengan sejarah juara yaitu Indonesia di fase grup (4-1), Jepang di perempat final (3-0), dan India di semifinal (3-0).
Meski demikian, pencapaian pertama untuk lolos ke final Thomas Cup tetap disyukuri pasukan Negeri Mode.
"Medalinya memang perak, tetapi bagi kami rasanya seperti emas," ucap tunggal putra, Toma Junior Popov, dilansir BolaSport.com dari Badminton Europe.
"Rasanya luar biasa bahwa kami bisa mencapainya pekan ini. Kami kembali memberikan perlawanan yang hebat kali ini."
"Dua kekalahan kami terjadi dalam pertandingan tiga gim, dan tidak diragukan bahwa kami punya peluang menang." tambahnya.
Prancis menjadi kekuatan yang sulit dibendung di Thomas Cup 2026.
Menariknya, pencapaian ini didapat Prancis dengan memaksimalkan faktor kekuatan mereka di sektor tunggal putra.
Tunggal putra Prancis bisa dibilang kelas elite dengan trisula Christo Popov (peringkat ke-4 dunia), Alex Lanier (ke-10), dan Toma Junior Popov (ke-17).
Prancis dapat memaksakan susunan pertandingan yang menempatkan tiga partai tunggal putra lebih dahulu kemudian diikuti partai ganda kedua dan ganda pertama.
Mereka memanfaatkan aturan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) untuk Thomas & Uber Cup yaitu pemain yang bermain rangkap harus mendapat jeda laga dan memainkan sektor tunggal duluan.
Semuanya itu karena Christo Popov dan Toma Junior Popov sebagai tunggal pertama dan ketiga juga merupakan ganda putra pertama Prancis dalam ranking dunia.
China selaku unggulan pertama pun harus berjuang habis-habisan untuk bisa melewati tiga partai pertama dengan Prancis pada laga final Thomas Cup 2026.
Padahal, China menjadi satu-satunya negara yang pemainnya unggul dalam ranking dan head-to-head pada ketiga partai tunggal.
Raja bulu tangkis, Shi Yu Qi, berbalik tertinggal setelah dominan pada gim pertama ketika bersua Christo Popov pada partai pembuka.
Popov dapat memimpin hingga 14-12 pada gim ketiga. Kedudukan pun sama kuat hingga 17-17. Namun, Shi lebih solid dan minim kesalahan di momen kritis.
Begitu juga pada partai ketiga tatkala Toma Junior Popov menantang Weng Hong Yang (rank ke-15) dengan pertandingan yang berlangsung 1,5 jam lebih.
Popov besar kecolongan setelah unggul 19-16 pada gim pertama.
Kemudian memaksakan rubber game, dia masih bisa mengimbangi hingga 18-18 sebelum kalah dramatis dari sosok berjuluk titisan Lin Dan.
Sementara itu satu-satunya poin Prancis dipersembahkan oleh Alex Lanier pada partai kedua.
Pemain berusia 21 tahun itu tampil dominan tatkala menghadapi Li Shi Feng (rank ke-7) untuk menang lewat straight game.
HASIL FINAL THOMAS CUP 2026
China 3-1 Prancis
"Luar biasa bagi kami untuk bisa berada di sini dan menjadi bagian dari pencapaian semacam ini di ajang yang besar," kata Toma Junior Popov lagi.
"Kami benar-benar sangat bahagia dan bangga, dan kami akan menikmatinya."
"Mungkin ada untungnya kami tidak menang sekarang, mungkin itu membuat kami lebih lapar untuk memenangi medali emas berikutnya," imbuhnya.
Prancis sendiri punya peluang di Thomas Cup 2028.
Ketiga pemain tunggal putra andalan masih berada di usia emas dengan Toma sebagai yang paling tua lahir pada 29 September 1998.
Tentunya, Prancis juga harus menutup celah di ganda putra mengingat final kemarin juga menjadi bukti bahwa kuat di satu sektor saja tidak cukup.
Ganda putra Prancis hanya menyumbang satu poin walau krusial karena terjadi ketika mereka butuh 4 kemenangan saat menghadapi Indonesia.
Kelas duet Popov bersaudara masih terbilang semenjana di ganda putra. Mereka beberapa kali bisa mengalahkan pasangan top tetapi sering kalah dini dalam turnamen.