TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU - Rendahnya minat belajar menjadi faktor utama penyebab anak putus sekolah di Kabupaten Pasangkayu, terutama saat memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pasangkayu, Henrik, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, pada fase peralihan dari SD ke SMP, banyak anak mulai kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Baca juga: Wabup Herny Ungkap Banyak Anak Tidak Sekolah di Pasangkayu karena Ingin Bekerja
Baca juga: 7.389 Anak di Pasangkayu Putus Sekolah di 2025 OPD Lintas Sektor Terjun untuk Putus Angka ATS
“Banyak kasus terjadi ketika anak mulai masuk SMP. Di fase ini, minat belajar mereka cenderung menurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut sering kali dipengaruhi lingkungan serta kurangnya dorongan untuk tetap bersekolah, sehingga anak memilih berhenti di tengah jalan.
Selain faktor minat, kondisi ekonomi keluarga juga turut memengaruhi. Tidak sedikit anak yang akhirnya memilih membantu orang tua mencari nafkah dibandingkan melanjutkan pendidikan.
Data Dinas Pendidikan Pasangkayu mencatat, jumlah anak putus sekolah mengalami peningkatan pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah daerah, kata dia, telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan anak-anak yang putus sekolah agar kembali mendapatkan akses pendidikan.
Upaya tersebut melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Keluarga Berencana (KB), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), hingga Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida).
“Dinas Sosial juga meminta data dari sekolah untuk diverifikasi dengan data yang ada di desa,” jelas Henrik.
Ia menambahkan, pendataan dilakukan secara menyeluruh mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, termasuk lembaga pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Henrik menegaskan, pemerintah tidak hanya sebatas mendata, tetapi juga berupaya mengembalikan anak-anak tersebut ke bangku pendidikan.
“Jika anak tersebut masih ingin sekolah, kami akan upayakan masuk ke sekolah formal sesuai domisilinya. Namun jika memilih jalur nonformal, maka PKBM akan memberikan pembelajaran,” tuturnya.
Ia pun memastikan pihaknya akan terus memberikan motivasi kepada anak-anak agar mau kembali bersekolah.
“Kami akan terus mendorong agar mereka bisa melanjutkan pendidikan,” jelasnya.
Wakil Bupati Pasangkayu, Herny Agus, menegaskan efisiensi anggaran, tidak mempengaruhi sektor pendidikan di Kabupaten Pasangkayu.
Hal itu ia sampaikan saat ditemui di Kantor Bupati Pasangkayu, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, anggaran pendidikan selama ini tetap berjalan optimal dan didukung oleh berbagai bantuan dari pemerintah.
“Sebenarnya kita banyak sekali menerima bantuan pendidikan,” ujarnya.
Herny menegaskan, alokasi anggaran telah tepat sasaran, mulai dari bantuan buku hingga pembayaran gaji tenaga pendidik.
Di sisi lain, berdasarkan data Dinas Pendidikan Pasangkayu, angka anak putus sekolah justru mengalami peningkatan pada 2025.
Pada tahun 2024, jumlah anak putus sekolah tercatat sebanyak 5.272 anak. Angka tersebut naik menjadi 7.389 anak pada 2025, atau bertambah 2.117 kasus.
Menanggapi hal itu, Herny menilai penyebab utama tingginya angka putus sekolah bukan pada anggaran, melainkan rendahnya minat belajar anak.
“Biasanya anak-anak sudah ingin bekerja dan menghasilkan uang sendiri, itu yang membuat mereka malas belajar,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada anak dan orang tua terkait pentingnya pendidikan.
Menurutnya, pemahaman tersebut harus terus diperkuat agar anak-anak tetap termotivasi melanjutkan sekolah.
“Langkah yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman kembali kepada anak dan orang tua tentang pentingnya pendidikan,” tuturnya.
Ia pun memastikan pemerintah daerah akan terus berupaya menekan angka putus sekolah melalui pendekatan edukatif dan kolaborasi lintas sektor.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pasangkayu, Henrik, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).
Menurut Henrik, faktor ekonomi menjadi penyebab dominan meningkatnya angka putus sekolah tersebut. Selain itu, rendahnya minat belajar juga turut memengaruhi. (*)