TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kecamatan Tallo bekerja beriringan dan berkolaborasi dengan penyuluh persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar untuk meningkatkan penataan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Di Kecamatan Tallo sendiri terdapat dua penyuluh yang bertanggung jawab mengedukasi dan membina pengelolaan persampahan di seluruh kelurahan.
Sekretaris Camat Tallo, Bau Asseng, mengatakan bahwa selain sosialisasi dan edukasi yang dilakukan penyuluh persampahan di tingkat RT/RW dan masyarakat, pihak kecamatan juga terus mengembangkan program Bank Sampah Sektoral (BSS) sebagai penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis wilayah.
Menurutnya, peran penyuluh dan kecamatan berjalan beriringan serta saling menguatkan dalam menata sistem persampahan.
Penyuluh dari DLH fokus pada pembentukan bank sampah unit (BSU) di tingkat RT/RW, peningkatan jumlah nasabah, serta edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
Sementara itu, pihak kecamatan berfokus pada penguatan aspek operasional persampahan, termasuk mendorong pengurangan dan pengumpulan sampah melalui skema bank sampah sektoral.
“Saling menguatkan, saling mendukung, menata persampahan,” ujar Bau Asseng kepada Tribun-Timur.com, Minggu (3/5/2026).
Ia menjelaskan, Bank Sampah Sektoral merupakan inovasi yang sebelumnya sempat berjalan dan kini kembali diaktifkan untuk memperkuat pengelolaan sampah di tingkat kecamatan.
Berbeda dengan bank sampah unit di tingkat RT/RW dan warga, bank sampah sektoral di tingkat kecamatan memiliki cakupan lebih luas karena melibatkan berbagai segmen, mulai dari petugas kebersihan, sopir armada, pegawai kantor, hingga pelaku usaha di sekitar wilayah kecamatan.
Dalam skema tersebut, sampah yang telah dipilah oleh petugas lapangan maupun instansi akan dikumpulkan ke bank sampah sektoral sebagai bagian dari sistem pengelolaan terpadu.
“Kalau bank sampah unit itu nasabahnya terbatas di lingkungan sekitar. Tapi kalau sektoral, segmennya lebih luas, termasuk petugas dan pelaku usaha,” jelasnya.
Bau Asseng menambahkan, penimbangan sampah di Bank Sampah Sektoral dilakukan secara rutin setiap Jumat.
Dari hasil penimbangan awal, pekan lalu, tercatat hampir 300 kilogram sampah berhasil dikumpulkan.
Ia optimistis jumlah tersebut akan meningkat seiring intensifikasi sosialisasi kepada masyarakat dan para pihak terkait.
“Ini kan masih baru, masih perlu sosialisasi lagi. Ke depan kita target per pekan bisa lebih dari 300 kilogram,” ucapnya.
Ia juga menegaskan, sistem operasional bank sampah sektoral dirancang mandiri tanpa menggunakan anggaran kecamatan.
Hasil penjualan sampah diputar kembali untuk membiayai operasional, termasuk tenaga pemilah, sehingga keberlanjutan program dapat terjaga.
“Semua operasional berjalan mandiri dari hasil penjualan sampah. Jadi perputaran keuangan kita usahakan cepat agar kepercayaan nasabah tetap terjaga,” katanya.
Sementara itu, Penyuluh Persampahan Kecamatan Tallo, Andi Nuraini, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya masih fokus pada pemetaan potensi wilayah, termasuk pendataan fasilitas pengelolaan sampah serta keberadaan bank sampah di setiap kelurahan.
Ia menjelaskan, pemetaan dilakukan melalui koordinasi dengan lurah serta RT/RW guna mengetahui kondisi terkini, sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di lapangan.
“Fokus awal kami adalah mapping potensi wilayah, seperti fasilitas pengolahan dan jumlah bank sampah. Setelah itu baru pembentukan, sosialisasi, dan pelatihan,” jelas Andi Nuraini.
Menurutnya, sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci utama dalam mendorong perubahan perilaku, khususnya dalam hal pemilahan sampah dari rumah.
Ia menekankan bahwa edukasi tidak hanya menyasar ketua RT/RW, tetapi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Masih banyak warga yang belum tahu apa itu bank sampah dan manfaatnya. Padahal ke depan sistem open dumping akan ditutup, sehingga masyarakat harus siap memilah sampah dari sumber,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini dirinya menangani delapan kelurahan di Kecamatan Tallo.
Karena itu, sinergi antara pemerintah kecamatan, penyuluh, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar upaya edukasi dan pengelolaan sampah dapat berjalan optimal.