Bersabar di Tengah Panas Terminal, Kisah Petugas asal Sulawesi Doktor Brandes Jadi Kapos Terminal
Sudirman May 04, 2026 08:07 PM

Laporan Hasim Arfah

Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH — Di balik padatnya mobilitas jamaah haji Indonesia, terdapat sosok petugas yang setia bekerja di garis depan pelayanan. 

Salah satunya adalah Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir, Dr Iswan Brandes, yang memilih tetap bertugas di tengah terik panas, demi memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah.

Seorang Kapos terminal telah beberapa kali bertugas mengaku lebih memilih penempatan di terminal dibandingkan sektor lain. 

Meski sempat ditawari posisi berbeda pada musim haji tahun ini, ia tetap memilih kembali ke terminal tempat yang menurutnya memberikan pengalaman spiritual dan pembelajaran hidup yang mendalam.

“Dari lima kali penugasan, saya lebih nyaman di terminal. Di sini saya belajar sabar. Terminal itu seperti replika Padang Arafah, bahkan seperti padang pasir. Panasnya terasa dari atas dan bawah,” ujarnya Doktor Brandes dalam wawancara, Minggu (3/5/2026). 

Baca juga: Jamaah Haji Indonesia Tertua 103 Tahun Tiba di Madinah, Petugas: Merawatnya Adalah Kemuliaan

Baginya, terminal bukan sekadar titik transit, tetapi ruang pengabdian yang menguji kesabaran dan ketulusan dalam melayani tamu Allah. 

Ia menggambarkan kondisi panas ekstrem yang harus dihadapi setiap hari, namun justru di situlah ia merasakan “nikmat” dalam bertugas.

Pengalaman tersebut diperkuat dengan capaian kinerja yang membanggakan. 

Pada musim haji 2024, layanan bus shalawat di terminal yang ia tangani meraih tingkat kepuasan hingga 93 persen—tertinggi di antara sembilan sektor pelayanan.

“Alhamdulillah, pelayanan terminal saat itu peringkat pertama. Itu yang membuat saya yakin untuk kembali bertugas,” katanya.

Dari puluhan petugas yang terlibat, hanya segelintir yang kembali dipercaya untuk bertugas di tahun berikutnya. 

Ia menjadi salah satu yang terpilih, khususnya di bidang terminal—sebuah posisi yang menurutnya tidak mudah, namun penuh makna.

Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk merasakan pengalaman di berbagai terminal, termasuk di kawasan Jabal Ka’bah. 

Baginya, setiap terminal memiliki tantangan dan cerita tersendiri dalam melayani jamaah.

Di balik dedikasinya, tersimpan niat pribadi yang kuat. 

Ia mengaku sejak awal berdoa agar diberi kesempatan melayani jamaah dari wilayah Sulawesi, mengingat latar belakang keluarganya yang memiliki akar dari daerah tersebut.

“Saya selalu berdoa, bukan kepada siapa pun, tapi langsung kepada Allah, agar diberi kesempatan melayani jamaah dari Sulawesi. Alhamdulillah, doa itu terkabul,” tuturnya.

Sentuhan emosional juga terasa dari relasinya dengan sesama petugas. 

Ia menyebut banyak belajar dari senior yang telah lebih dulu bertugas, termasuk sosok yang kini telah berusia 70 tahun dan menjadi panutan dalam pelayanan di terminal.

Menurutnya, kekuatan pelayanan haji Indonesia terletak pada kualitas sumber daya manusia. 

Ia bahkan menyebut bahwa tidak sedikit petugas terminal yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, termasuk doktor.

“Hebatnya Indonesia, kepala terminal saja ada yang bergelar doktor,” ujarnya.

Kisah ini menjadi potret bahwa pelayanan haji bukan sekadar tugas administratif, tetapi juga ladang pengabdian dan pembelajaran spiritual. 

Di tengah panasnya terminal, para petugas justru menemukan makna mendalam dalam melayani jamaah—sebuah “nikmat” yang tidak semua orang bisa rasakan. (hasim arfah/mch 2026)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.