BOLASPORT.COM - Pebulu tangkis ganda putri China, Jia Yi Fan, tak kuasa membendung air matanya setelah gagal menyumbangkan poin pada laga penentu di final Uber Cup 2026.
Jia Yi Fan bersama partnernya, Zhang Shu Xian, bertanding pada partai keempat ketika China tertinggal 1-2 dari Korea Selatan.
Ganda putri kedua China itu menghadapi pasangan rombakan, Baek Ha-na/Kim Hye-jeong, pada laga yang dihelat di Forum Horsens, Denmark, Minggu (3/5/2026).
Mereka sebenarnya membuka harapan China untuk memperpanjang napas ke partai pamungkas setelah lebih dulu memenangkan gim pertama.
Namun, Jia/Zhang justru menelan kekalahan pada gim kedua dan gim ketiga dengan skor akhir 21-16, 10-21, 13-21.
Hasil tersebut memastikan Korea meraih gelar juara Uber Cup untuk ketiga kalinya, seluruhnya diraih dengan mengalahkan China di final pada 2010, 2022, dan 2026.
Kekalahan ini makin menyesakkan bagi Jia karena menjadi ulangan dalam kegagalan sebelumnya.
Pada final Uber Cup 2022, Jia Yi Fan dan Cheng Qing Chen juga kalah dari ganda putri Korea, Lee So-hee/Shin Seung Chan, dengan skor 21-12, 18-21, 18-21.
Jia Yi Fan sendiri telah menamatkan bulu tangkis ketika menjadi pasangan nomor satu bersama Chen Yu Fei.
Keduanya telah memenangi emas Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Uber Cup, Sudirman Cup, Asian Games (beregu dan individu), Kejuaraan Asia, All England, dan turnamen Finals.
Namun, kegagalan terkini tetap menyisakan rasa pahit.
Semangat Jia Yi Fan belum habis. Ketika Chen Qing Chen memutuskan berhenti setelah raihan puncak di Olimpiade Paris dua tahun lalu, dia melanjutkan karier.
"Bagi saya yang diperlukan adalah ambisi, ketekunan, dan rasa tidak mau menyerah," kata Jia Yi Fan kepada CGTN Sports Scene.
"Saya rasa ambisi memang diperlukan, yaitu keinginan untuk meraih lebih banyak, sebagai seorang atlet, saya rasa itu benar."
"Lalu ada ketekunan, yaitu bagaimana kita bisa tetap konsisten, baik saat kalah maupun menang, dan bagaimana menghadapi situasi saat ini."
"Yang terpenting adalah tidak mau kalah, bagaimana saya bisa bangkit setelah gagal. Saya masih ingin membuktikan bahwa saya masih bisa melakukannya."
Jia Yi Fan tak ingin membagi penyesalan terhadap rekan-rekan setimnya. Walau turnamen beregu berbeda dengan individu, menurutnya tetap penting untuk berbenah dari diri sendiri.
"Pertama-tama harus memperbaiki diri sendiri, baru bisa memikirkan tim."
"Karena terkadang saya merasa mungkin tidak cukup kuat, saya ingin berada di lapangan dan membuktikan bahwa masih layak berada di level sekarang dengan kemenangan."
Jia melanjutkan dengan kekecewaan karena sebagai pemain paling senior di tim putri bulu tangkis China, dia justru tak mampu melakukan yang terbaik di lapangan.
Kepercayaan untuk membimbing adik-adiknya sempat membuat pemain berusia 28 tahun itu lebih kuat.
Ketegaran ditunjukkannya dalam wawancara dengan berusaha tersenyum serta melindungi Zhang Shu Xian yang menundukkan kepala.
"Saya merasa saya sendiri belum bermain dengan baik."
"Saya ingin melakukan yang terbaik untuk diri sendiri sekaligus membantu Shu Xian, tapi saya merasa gagal dalam menjaga ketenangan," ucap Jia.
Jia Yi Fan bertekad bangkit pada kesempatan selanjutnya.
Terutama untuk negara-negara kawasan Asia, ada gengsi besar yang dipertaruhkan ketika Asian Games 2026 digelar pada September mendatang.
Kesempatan revans berada di depan Jia Yi Fan dkk. karena pada final beregu putri sebelumnya juga dikalahkan Korea Selatan.
"Jika kami bisa mempertahankan level permainan seperti ini di tim nasional China, tentu saja saya merasa kami masih memiliki ruang untuk berkembang," kata Jia.
"Kami akan menghadapi tekanannya dan berjuang lagi," ujarnya.