Iran Dilaporkan Serang Kapal Perang AS di Selat Hormuz, Militer Amerika Langsung Membantah
Malvyandie Haryadi May 04, 2026 09:35 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Iran dilaporkan menembakkan dua rudal antikapal ke arah kapal-kapal perang Amerika Serikat yang hendak memasuki Selat Hormuz.

Masih berdasarkan laporan Fars, dua rudal ditembakkan telah menghantam kapal perang tersebut di dekat pelabuhan Jask, di pintu masuk selatan selat di mana angkatan laut Iran memiliki pangkalan. 

Namun, seorang pejabat senior AS segera membantah laporan tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Barak Ravid dari Axios.

Reuters, yang dikutip, sejumlah media internasional, tidak dapat memverifikasi laporan-laporan tersebut secara independen.

Iran telah memperingatkan pasukan AS hari ini (4 Mei) untuk tidak memasuki jalur air strategis tersebut setelah Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan "memandu keluar" kapal-kapal yang terdampar di Teluk akibat perang AS-Israel melawan Iran.

Trump memberikan sedikit rincian mengenai rencana untuk membantu kapal-kapal beserta krunya yang terjebak di jalur air vital tersebut, yang kini mulai kehabisan makanan dan persediaan lainnya setelah lebih dari dua bulan konflik berlangsung.

"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini, sehingga mereka dapat melanjutkan bisnis mereka dengan bebas dan cakap," kata Trump dalam sebuah unggahan di situs Truth Social miliknya pada hari Minggu.

Sebagai tanggapan, komando terpadu Iran memberi tahu kapal dagang dan kapal tanker minyak untuk menahan diri dari gerakan apa pun yang tidak dikoordinasikan dengan militer Iran.

"Kami telah berulang kali mengatakan bahwa keamanan Selat Hormuz ada di tangan kami dan bahwa jalur aman kapal-kapal perlu dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata," kata Ali Abdollahi, kepala komando terpadu pasukan tersebut, dalam pernyataannya.

"Kami memperingatkan bahwa setiap angkatan bersenjata asing, terutama Angkatan Darat AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz."

Iran telah memblokir hampir semua pelayaran masuk dan keluar dari Teluk, kecuali kapal-kapal miliknya sendiri.

Bantahan AS

Klaim Iran soal serangan ke kapal-kapal perang AS, langsung dibantah oleh pihak militer Paman Sam. Komando Pusat AS menegaskan bahwa tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan. 

Mereka juga menyatakan bahwa pasukan AS saat ini tengah mendukung operasi yang disebut “Project Freedom” sekaligus memperkuat blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

Seorang pejabat AS juga memastikan bahwa tidak ada kapal perang mereka yang ditolak masuk ke Selat Hormuz pada hari itu. 

Ia menambahkan bahwa militer AS telah mulai mengawal kapal-kapal melalui selat sebagai bagian dari misi baru yang diumumkan Trump.

Komando Pusat AS mengungkapkan bahwa operasi ini melibatkan sekitar 15.000 personel militer, kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta berbagai platform tanpa awak lintas domain. 

Selain itu, pusat informasi maritim gabungan menyebut AS telah menetapkan zona keamanan tambahan di selatan jalur pelayaran utama guna mendukung proses transit kapal.

Di sisi lain, ketegangan yang terus berlangsung membuat ratusan kapal dan ribuan awak masih terjebak di kawasan tersebut sejak lebih dari dua bulan terakhir. 

Seiring mandeknya perundingan damai, harga energi pun terus merangkak naik, dengan harga minyak dunia menembus lebih dari 112 dolar AS per barel, mencerminkan tingginya risiko geopolitik di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.

Arti penting Selat Hormuz

Bagi Iran, Selat Hormuz adalah senjata geopolitik utama. Dengan menguasai sisi utara selat, Iran dapat menekan Amerika Serikat dan sekutunya melalui ancaman blokade jalur minyak dunia.

Dalam perang kali ini, penutupan atau gangguan di Selat Hormuz menjadi cara Iran menunjukkan bahwa mereka mampu mengendalikan denyut ekonomi global.

Hal ini sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di tengah tekanan militer dan sanksi internasional.

Bagi Amerika Serikat, Selat Hormuz adalah jalur vital yang harus dijaga agar tetap terbuka.

AS sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi global, bukan hanya untuk kepentingan domestik tetapi juga demi stabilitas sekutunya di Asia dan Eropa.

Dalam perang kali ini, kehadiran militer AS di sekitar selat menjadi simbol komitmen menjaga keamanan energi dunia sekaligus mencegah Iran menggunakan selat sebagai alat tawar yang bisa melumpuhkan pasar minyak internasional.

Bagi dunia internasional, Selat Hormuz adalah titik rawan yang langsung memengaruhi harga minyak dan stabilitas ekonomi global.

Gangguan di jalur ini, seperti serangan terhadap kapal tanker atau ancaman penutupan, segera berdampak pada lonjakan harga energi, inflasi, dan krisis pasokan di banyak negara.

Dalam konteks perang saat ini, dunia menghadapi risiko besar karena ketergantungan tinggi terhadap minyak Teluk yang melewati selat tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.