Kuasa Hukum Datangi Ayah TNI Meninggal di Bangkalan, Siapkan Surat Permintaan Autopsi ke Koarmada II
Dwi Prastika May 04, 2026 09:48 PM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Kematian anggota TNI AL asal Bangkalan, Madura, Ghofirul Kasyfi (22) terus bergulir hingga ke meja kuasa hukum Sholeh and Partners Surabaya.

Secara resmi, pihak keluarga yang diwakili ayahnya, Mahbub Madani (55) menandatangani surat kuasa di rumahnya, Jalan Kartini nomor 12, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Senin (4/5/2026). 

Kuasa Hukum, Muhammad Sholeh atau yang dikenal dengan Cak Sholeh mengungkapkan, penandatanganan surat kuasa itu terkait kematian Ghofirul yang penyebabnya dinilai pihak keluarga masih simpang siur. 

"Besok (Selasa, 5 Mei 2026) kami akan berkirim surat ke Koarmada II Surabaya supaya dilakukan autopsi, harus ada pembongkaran makam untuk mencari seterang-terangnya sebab-sebab kematian korban," ungkap Cak Sholeh didampingi Mahbub, Senin (4/5/2026). 

Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka tempat tinggal ibu, di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan pada Senin (27/3/2026) dini hari.

Tahlilan malam ke-7 almarhum berakhir pada Minggu (3/5/2026) menjelang waktu Isya sekitar pukul 19.00 WIB.  

"Karena itu kami harapkan Koarmada II akan kooperatif segera melakukan autopsi, karena jasad ini semakin lama dibiarkan tentu pembusukannya akan semakin kuat," tegas Sholeh.  

Baca juga: Kejanggalan Kematian Prajurit TNI Ghofirul Kasyfi, Ayah Beber Curhatan Sang Anak: Saya Disiksa

Tak Dapatkan Berkas

"Hanya jasad yang dikasih, selebihnya tidak ada, tidak ada kronologi dan BAP. Kami tidak tahu faktanya seperti apa, tapi publik dan keluarga punya hak untuk tahu karena hingga saat ini penyebab kematian anaknya masih simpang siur," papar Cak Sholeh.

Usai dilantaik sebagai TNI AL Tamtama di Surabaya pada Desember 2025, Ghofirul mulai berdinas dengan penempatan Jakarta di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari 2026.

Selama tiga bulan, almarhum menjalani masa orientasi atau masa pengenalan lingkungan dinas.

Baca juga: Aksi Licik Pemuda Bojonegoro Tipu Penjual Nasi Goreng Tulungagung, Mengaku Anggota TNI

Ia menyatakan, ketidakwajaran itu berdasarkan keluhan yang sering disampaikan almarhum Ghofirul kepada ayahnya maupun ibunya karena sering mendapatkan kekerasan dari para senior di dalam kamar. 

"Satu hari hanya dikasih waktu tidur satu jam, kesehariannya seperti itu hingga Ghofirul meminta kepada orang tuanya agar dipindahtugaskan dari kapal. Dengan harapan tidak bertemu dengan senior-senior yang suka melakukan kekerasan," kata Cak Sholeh.

Baca juga: TNI Ditangkap Usai Bobol Banyak Minimarket, Ternyata Pernah Dipenjara, Dandim Tulungagung Minta Maaf

Selangkangan Korban Mengeluarkan Darah

Setelah gelaran tahlilan malam ke-7, Minggu (3/5/2026) malam, Mahbub Madani menyatakan sempat membuka jasad anak sulungnya sebelum dilakukan proses pemakaman.

Selain lebam pada wajah, terdapat pula darah pada bagian selangkangan almarhum Ghofirul. 
    
Cak Sholeh menjelaskan, beberapa hari sebelum meninggal, Ghofirul melalui pesan singkat bahkan sampai mengancam kepada orang tuanya dengan kalimat, 'Kalau mama tidak menuruti kemauanku, jangan harap bisa bertemu aku lagi.'

"Artinya korban ini sudah pasrah karena sering mendapatkan kekerasan, bisa jadi nyawanya sudah tidak akan bertahan lama. Dan itu terbukti kejadian tanggal 26 April 2026, ketika jasad dibawa pulang dan keluarga melihat, ada bukti-bukti foto kalau memang pada tubuh jasad Ghofirul ada lebam-lebam," jelas Cak Sholeh. 

Ia mengatakan, kala itu memang sempat ada perdebatan antara pihak keluarga dari ibu dan pihak keluarga dari ayah. Di mana pihak keluarga ibu tidak ingin dilakukan autopsi, sementara dari pihak keluarga ayah tetap dilakukan autopsi.

Sekarang ini, lanjutnya, dari pihak keluarga ayah juga menuntut keadilan, harus ada transparansi sebab-sebab kematian dari korban yang diawali dengan menyurati pihak Koarmada II Surabaya untuk permintaan agar dilakukan autopsi. 

"Kalau memang hasil autopsi ternyata tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, tidak ada lebam-lebam keluarga ikhlas. Tetapi ketika hasil autopsi menyatakan ada tanda-tanda kekerasan, maka mau tidak mau harus diusut tuntas. Siapapun pelakunya, senior-seniornya harus semuanya diusut, semuanya yang terlibat harus dihukum," pungkas Cak Sholeh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.