UM Bandung Gelar INCODE 2026: Tantangan Mahasiswa Hadapi Transformasi AI di Dunia Kerja Global
Muhamad Syarif Abdussalam May 05, 2026 12:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masifnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi. 

Perubahan dunia usaha maupun industri akibat perkembangan kecerdasan buatan turut dibahas dalam International Conference on Digital Economics (INCODE) 3rd 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis UM Bandung Ia Kurnia mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan menjadi keniscayaan terhadap riset di bidang ekonomi digital dan suistainability. 

Menurutnya, para mahasiswa saat ini telah adaptif terhadap tranformasi digital. 

Sebelumnya kegiatan ini juga menggelar beberapa perlombaan akademik maupun non-akademik.

”Banyaknya peserta mengikuti perlombaan, ini menunjukan adanya minat yang tinggi terhadap riset di bidang ekonomi digital dan sustainability,” ucap Ia Kurnia, Senin (4/5/2026). 

Kegiatan tersebut juga kolaborasi antara UM Bandung, UM Sidoarjo, dan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) PTMA.

Sekretaris Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) PTMA, Meika Kurnia Puji, mengatakan perguruan tinggi kini menghadapi tekanan besar untuk beradaptasi dengan perubahan global yang dipicu perkembangan teknologi.

"Kita hidup di masa ketika dunia berubah lebih cepat daripada yang bisa diadaptasi oleh banyak institusi," tuturnya.

Menurut Meika, AI tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga mulai mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.

Kondisi ini membuat lulusan perguruan tinggi harus bersaing bukan hanya dengan sesama pencari kerja, melainkan juga dengan sistem berbasis otomasi.

"Artificial intelligence atau AI sedang mentransformasi masa depan pekerjaan," ungkap Meika.

Ia menyebut, tantangan yang dihadapi mahasiswa setelah lulus semakin kompleks. Pasalnya, kemampuan akademik dinilai tak lagi cukup tanpa dibarengi adaptasi teknologi, keterampilan analitis, dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata.

Karena itu, Meika mendorong kampus untuk mengubah orientasi pendidikan tinggi. 

Menurut dia, perguruan tinggi harus berperan lebih luas, tidak sekadar sebagai tempat belajar, tetapi juga pusat inovasi dan transformasi sosial.

Sementara itu, Bahromjon Khalilov Bahodirovich dari The Asia International University, Uzbekistan, menilai penggunaan identifikasi biometrik tidak hanya tren teknologi. Namun, fondasi penting untuk meningkatkan keamanan transaksi sekaligus memberikan kenyamanan yang lebih personal bagi nasabah perbankan digital.

Selain itu, Khalilov menyebutt potensi besar asisten suara (voice assistants) dalam memandu pengguna melakukan transaksi perbankan yang kompleks. 

"Integrasi sistem suara ini dapat meminimalisir kesalahan manusia dan mempercepat proses layanan mandiri bagi nasabah di seluruh dunia," ucapnya. 

Sementara itu, Hisham Bin Sabri, pembicara dari Malaysia, menilai pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah ke dalam kerangka keberlanjutan global (ESG).

Dia menjelaskan bahwa maqasid al-shari'ah sangat sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. 

"Keduanya bertujuan untuk melindungi kesejahteraan manusia dan menjaga keseimbangan alam." 

Hisham menuturkan peran instrumen keuangan sosial Islam, seperti wakaf dan zakat sebagai penggerak ekonomi inklusif di era digital. 

Dia menilai bahwa digitalisasi instrumen-instrumen ini dapat memperluas jangkauan manfaatnya dalam mengurangi kemiskinan dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). 

"Keuangan Islam secara intrinsik bersifat berkelanjutan karena prinsip-prinsipnya yang melarang eksploitasi dan mendorong pembagian risiko serta keadilan sosial," jelas Hisham. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.