Tribunlampung.co.id, Kendari - Gadis remaja diduga korban rudapaksa oknum TNI, Sertu MB, di Konawe Selatan kini disebut mengalami depresi berat.
Kondisinya memprihatinkan, bahkan dalam beberapa momen ia kerap mencakar tubuhnya sendiri saat rasa takut datang tiba-tiba.
Perubahan itu dirasakan betul oleh keluarga. Anak yang dulu dikenal ceria, kini lebih sering diam dan menjauh dari orang-orang di sekitarnya.
Ia seperti hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang tak kunjung hilang.
Keluarga menyebut, kondisi korban makin terasa saat ia sendirian. Emosi yang selama ini dipendam bisa meledak, membuatnya menangis histeris tanpa sebab yang jelas.
Baca juga: Suami yang Gerebek Istri Sah Berduaan dengan Oknum TNI, Malah Minta Maaf, Ada Apa?
Upaya pendampingan sebenarnya sudah dilakukan. Psikolog anak didatangkan untuk membantu memulihkan kondisi mental korban, meski prosesnya berjalan pelan dan belum menunjukkan perubahan berarti.
Di tengah kondisi itu, keluarga hanya berharap satu hal, korban bisa kembali pulih, dan proses hukum terhadap pelaku berjalan tegas.
Dikutip dari TribunnewsSultra.com, murid SD berinisial A (12) itu, yang diduga menjadi korban pencabulan oknum TNI, dilaporkan mengalami depresi berat hingga menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan.
Kondisi psikologis korban saat ini berada di titik nadir.
Anak malang tersebut kini lebih banyak mengurung dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Tante A, DE (33), mengatakan kepedihan yang harus disaksikan keluarga setiap harinya.
Selama berada di rumah neneknya, A seolah kehilangan keceriaan masa kecilnya.
Ia enggan keluar rumah dan hanya diam membisu saat berada di tengah keluarga.
Namun, saat sendirian, emosi yang terpendam itu meledak secara menyakitkan.
"Kondisi korban semakin memprihatinkan karena mengalami depresi berat. Ia sering mencakar tubuhnya sendiri hingga luka dan menangis histeris karena ketakutan,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Rasa takut yang berlebihan tersebut muncul secara tiba-tiba, membuat pihak keluarga merasa sangat terpukul melihat penderitaan yang dialami sang anak.
Meski keluarga telah bergerak cepat dengan menghadirkan pendampingan dari psikolog anak, pemulihan mental korban ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Hingga saat ini, belum ada perubahan signifikan pada kondisi mentalnya.
“Pendampingan dari psikolog sudah ada, tetapi belum terlihat perkembangan yang berarti. Kami terus berupaya agar korban mendapatkan pemulihan yang lebih baik,” jelasnya.
Saat ini, keluarga masih terus berkoordinasi dengan tenaga profesional untuk memberikan perawatan intensif bagi psikologis korban.
Di sisi lain, harapan besar digantungkan pada proses hukum yang sedang berjalan.
Pihak keluarga mendesak agar proses hukum terhadap Sertu MB dari Kodim 1417 Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) dilakukan secara transparan dan tegas.