Fakta-Fakta Hantavirus di Kapal Pesiar, 3 WN Belanda Tewas dalam Perjalanan ke Afrika
Glery Lazuardi May 05, 2026 02:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga orang meninggal dunia menyusul dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar yang berlayar dari Argentina ke Cape Verde dan tiga orang lainnya dilaporkan sakit.

Hanya sedikit informasi baru yang tersedia pada hari Senin (4/5/2026).

Baca juga: Wabah Hantavirus Tewaskan Tiga Orang di Kapal Pesiar, Ancaman Pandemi Baru?

Namun ada beberapa fakta berikut yang diketahui sejauh ini:

1. Tiga orang yang telah meninggal dunia adalah warga negara Belanda. Pria berusia 70 tahun, dan seorang wanita berusia 69 tahun keduanya adalah pasangan suami istri dan diketahui telah meninggal dunia.

2. Satu pria meninggal saat kapal pesiar tiba di pulau St Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan. Jenazahnya hingga saat ini masih ada di kapal.

3. Wanita tersebut juga jatuh sakit di atas kapal dan dievakuasi ke Afrika Selatan, di mana ia meninggal di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan.

 

Dua awak kapal juga kapal pesiar mengalami sakit dan membutuhkan perawatan darurat.

Kapal tersebut tampaknya telah diam di lepas pantai Tanjung Verde setidaknya selama 24 jam - media lokal melaporkan bahwa penumpang tidak akan turun di kepulauan tersebut; operator mengatakan "tidak ada izin" yang diberikan.

Kapal ini memiliki panjang 107,6 meter, dengan lebar 17,6 meter. Terdapat 80 kabin di dalamnya, yang dapat menampung hingga 170 penumpang dan 57 awak kapal, 13 pemandu wisata, dan satu dokter, menurut perusahaan pelayaran tersebut.

Departemen Kesehatan Afrika Selatan mengatakan kapal tersebut membawa sekitar 150 wisatawan.

Baca juga: WHO Kritisi Larangan Berlabuh bagi Kapal Pesiar Klaster Hantavirus

WHO Tegaskan Risiko Hantavirus Rendah

World Health Organization menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap potensi penyebaran luas hantavirus tidak berdasar, meskipun muncul laporan tiga kematian dalam dugaan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.

Kepala Kantor Regional Eropa WHO, Hans Kluge, menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat global tetap rendah dan tidak memerlukan langkah drastis seperti pembatasan perjalanan internasional.

“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan,” ujar Kluge dalam pernyataannya, Senin (4/5/2026).

Menurut WHO, infeksi hantavirus umumnya terjadi akibat paparan lingkungan, terutama kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan antar manusia juga tergolong sangat jarang.

Kasus yang terjadi di kapal pesiar tersebut dinilai sebagai kejadian terbatas dengan sumber paparan spesifik, bukan indikasi awal dari wabah global.

Sebelumnya, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang diduga berkaitan dengan hantavirus di atas kapal tersebut. 

Namun, para ahli menilai situasi ini tidak mencerminkan penyebaran luas di masyarakat.

WHO mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa bereaksi berlebihan.

Upaya pencegahan difokuskan pada menghindari paparan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi hewan pengerat, terutama di area tertutup atau kurang terjaga kebersihannya.

Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit serius, termasuk sindrom paru hantavirus, dengan gejala awal seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot yang dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa kondisi saat ini masih terkendali dan tidak menunjukkan ancaman terhadap kesehatan publik secara global.

(BBC/Ria Novosti/X/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.