TRIBUNNEWS.COM - Gelombang ekspansi perusahaan ritel asal China ke Asia, termasuk Filipina, Hong Kong, Vietnam, dan Indonesia, mencerminkan strategi memperluas pangsa pasar regional.
Ekspansi ritel asal China ke Asia Tenggara semakin cepat, didorong oleh raksasa e-commerce dan jaringan ritel fisik yang mencari pertumbuhan di luar pasar domestik yang sudah jenuh.
Platform China, termasuk Alibaba, TikTok Shop, Shein, dan Temu, menguasai sekitar setengah pasar belanja daring di negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina, menurut laporan CNBC.
Contohnya di Indonesia, KK Group melalui KKV memilih membuka toko di sejumlah kota besar sekaligus, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Garut, dan Bekasi, sebagai langkah awal memperkuat jangkauan.
Data Kementerian Perdagangan China yang dilansir Xinhua menunjukkan sektor grosir dan ritel mencatat pertumbuhan stabil pada kuartal pertama (Q1) 2026.
Nilai tambah perdagangan grosir dan ritel naik 4,1 persen (yoy) menjadi 3,5 triliun yuan atau sekitar 510,4 miliar dolar AS, setara 10,5 persen dari PDB China.
Di sektor grosir, volume transaksi komoditas utama meningkat 8,6 persen, dengan material produksi naik 16,1 persen dan barang konsumsi industri naik 10,7 persen.
Penjualan ritel barang mencapai 11,3 triliun yuan, tumbuh 2,2 persen (yoy). Ritel daring juga mencatat kenaikan signifikan di wilayah pedesaan, dengan penjualan naik 11 persen, termasuk produk pertanian yang meningkat 14,7 persen.
Program tukar tambah barang konsumsi turut mendorong tren positif.
Produk kacamata pintar yang baru memenuhi syarat subsidi mencatat lonjakan penjualan, naik 42,4 persen dalam volume dan 46,8 persen dalam nilai.
Baca juga: 80 Ribu Toko Ritel di Indonesia Terapkan Pencatatan Digital untuk Royalti Musik
Pertumbuhan ini menegaskan sektor grosir dan ritel masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi domestik China, sekaligus mendukung ekspansi perusahaan ke pasar internasional.
Indonesia dipandang memiliki potensi pasar besar dengan karakter konsumsi yang beragam.
"Kami menyesuaikan diri dengan budaya serta kebutuhan lokal, dan tumbuh bersama pasar," kata COO International Business KK Group, Rojen Wu.
Langkah ekspansi ini berlangsung di tengah persaingan dengan pelaku ritel lokal maupun global, sekaligus mencerminkan upaya memperluas pangsa pasar regional.
Kota-kota besar seperti Surabaya dipilih menjadi pintu masuk penting untuk menjangkau pasar Jawa Timur, sementara Bali memiliki kekuatan sebagai destinasi wisata internasional dengan karakter konsumsi yang dinamis.
"Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar penting," ujarnya.
Pemerintah terus memperkuat sektor ritel sebagai salah satu motor utama penggerak ekonomi nasional.
Dengan dukungan kebijakan yang progresif, industri ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya optimisme pelaku usaha ritel terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dinilai memiliki pasar domestik kuat dan daya tahan tinggi.
“Seluruh pelaku ritel harus optimis terhadap perekonomian Indonesia. Ini penting karena Indonesia memiliki domestic market yang kuat dan resiliensi tinggi,” ujarnya dalam acara Pahlawan Ekonomi Bangsa: Kekuatan UMKM untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 persen di Jakarta.
Airlangga menjelaskan, sektor konsumsi masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 52 persen. Karena itu, industri ritel memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai skema pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditargetkan mencapai Rp300 triliun pada 2025.
Kebijakan ini bertujuan memperkuat daya saing pelaku usaha serta membuka peluang lebih luas bagi wirausaha baru di berbagai daerah.
Selain pembiayaan, pemerintah juga mendorong percepatan digitalisasi sektor ritel. Transformasi ini dinilai penting agar UMKM mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Airlangga menyebutkan, saat ini terdapat hampir 4 juta toko ritel di Indonesia. Jika seluruhnya mampu naik kelas dan meningkatkan kapasitas usaha, maka target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen diyakini dapat tercapai pada periode 2028–2029.
“Dengan optimisme dan kebijakan yang tepat, sektor ritel akan menjadi kekuatan utama dalam mendorong Indonesia menuju ekonomi maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.