Amerika Serikat (AS) akan meluncurkan upaya untuk "membimbing" kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz yang dikuasai Iran mulai Senin (4/5/2026) pagi waktu setempat.
Sementara itu, penembakan terjadi di pesta "Sunday Funday" di area perkemahan Danau Arcadia, Edmond, Oklahoma, pada Minggu (3/5/2026) malam.
Amerika Serikat (AS) akan meluncurkan upaya untuk "membimbing" kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz yang dikuasai Iran mulai Senin (4/5/2026) pagi waktu setempat.
Langkah AS ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, tanpa memberikan banyak detail tentang upaya besar-besaran yang berpotensi membantu ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut.
Trump berbicara beberapa jam setelah Iran mengatakan sedang meninjau tanggapan AS terhadap proposal terbarunya untuk mengakhiri perang dan menegaskan bahwa ini bukanlah negosiasi nuklir.
Gencatan senjata yang rapuh selama tiga minggu tampaknya masih bertahan.
Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial pada Minggu (3/5/2026) bahwa negara-negara "netral dan tidak bersalah" telah terpengaruh oleh perang Iran.
"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," katanya.
“Proyek Kebebasan akan dimulai pada Senin pagi di Timur Tengah," tambah Trump.
Saat ini, kata Trump, perwakilannya sedang berdiskusi dengan Iran yang dapat menghasilkan sesuatu yang “sangat positif bagi semua pihak.”
Dilansir AP News, penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang diberlakukan setelah AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari 2026, telah mengguncang pasar global.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Komandan unit komando operasional tertinggi Iran memperingatkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran akan menargetkan pasukan asing mana pun, khususnya militer AS, yang mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz yang strategis.
Mengutip PressTV, dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (4/5/2026), Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah wewenang angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya adalah pusat komando tertinggi militer Iran yang mengoordinasikan operasi antara Angkatan Bersenjata reguler (Artesh) dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Jenderal Abdollahi menekankan bahwa seluruh pelayaran melalui jalur air strategis tersebut harus dikoordinasikan dengan pasukan militer Iran.
Ia juga menyatakan bahwa para pemimpin kriminal dan tentara Amerika yang agresif, telah melakukan pembajakan dan perampokan di perairan internasional, yang membahayakan perdagangan global dan keamanan ekonomi.
Ia menegaskan bahwa Iran akan menjaga dan mengelola keamanan Selat Hormuz secara tegas.
Abdollahi juga menyerukan kepada seluruh kapal dagang dan kapal tanker untuk tidak melintasi selat tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan angkatan bersenjata yang ditempatkan di wilayah tersebut.
Ia memperingatkan bahwa kegagalan untuk melakukannya dapat membahayakan keselamatan mereka.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa AS akan menjamin kebebasan pergerakan kapal di Selat Hormuz melalui misi yang ia sebut sebagai Proyek Kebebasan.
Ia mengatakan bahwa langkah tersebut akan dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah.
Setelah pengumuman Trump, Ebrahim Azizi, kepala Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, memperingatkan bahwa setiap campur tangan Amerika di selat tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan diatur oleh unggahan khayalan Trump! Tidak seorang pun akan percaya skenario saling menyalahkan!” kata Azizi dalam unggahan di X.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Tingkat popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mencapai titik terendah selama dua periode jabatannya.
Dimana lebih dari enam dari sepuluh warga Amerika tidak menyukai kinerja presiden Donald Trump.
Popularitas Trump berada pada titik terendahnya dalam hal biaya hidup dan isu-isu ekonomi lainnya sejak melancarkan perang yang sangat tidak populer melawan Iran pada bulan Februari lalu.
Tindakan Trump telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam krisis minyak dan menyebabkan harga bensin meroket ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Dua pertiga warga Amerika kini merasa negara ini sedang menuju ke arah yang salah.
Level terendah saat ini
Tingkat ketidaksetujuan terhadap Presiden AS berada pada level tertinggi hingga saat ini.
Enam bulan menjelang pemilihan paruh waktu AS pada bulan November, tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump telah mencapai 62 persen – yang terburuk dari dua masa jabatannya – menurut jajak pendapat baru Washington Post-ABC News-Ipsos .
Presiden memperoleh mayoritas ketidaksetujuan atas penanganannya terhadap setiap isu yang diukur, termasuk ketidaksetujuan warga Amerika terhadap penanganannya atas perang Iran sebesar 66 persen – dibandingkan dengan persetujuan 32 persen.
Sementara 76% tidak setuju dan hanya 23% yang setuju dengan penanganannya terhadap biaya hidup.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1531 pada Senin (4/5/2026).
Ukraina melancarkan serangan ke sejumlah target minyak milik Rusia pada Minggu, termasuk pelabuhan Primorsk di Laut Baltik.
Serangan drone pada malam hari memicu kebakaran di pelabuhan yang dioperasikan perusahaan minyak negara Transneft tersebut.
Pelabuhan ini memiliki kapasitas besar hingga ratusan ribu barel per hari dan berada lebih dari 1.000 km dari wilayah Ukraina, dekat perbatasan Rusia–Finlandia serta kota St. Petersburg.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa dalam operasi tersebut, pasukannya juga menargetkan kapal perang jenis korvet rudal berpemandu Karakurt, kapal patroli, serta kapal tanker yang diduga bagian dari “armada bayangan” Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi Barat.
Ia mengklaim salah satu kapal pembawa rudal Kalibr berhasil dilumpuhkan.
Selain itu, Ukraina juga menyerang dua kapal tanker lain di dekat pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari upaya Ukraina untuk mengganggu jalur ekspor energi Rusia sekaligus menekan kemampuan logistik dan militernya di tengah konflik yang masih berlangsung.
Rusia Tuduh AS Langgar Kekebalan dengan “Naturalisasi Paksa” Anak Diplomat
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, melontarkan tudingan serius terhadap Amerika Serikat.
Dalam sebuah opini yang dirilis pada Senin, ia menyebut Kementerian Luar Negeri AS telah melanggar hukum federal sekaligus norma diplomatik internasional dengan secara sepihak memberikan kewarganegaraan Amerika kepada anak-anak staf konsuler Rusia—tanpa opsi penolakan.
Menurut Zakharova, praktik tersebut tidak hanya kontroversial secara hukum, tetapi juga berpotensi merusak prinsip-prinsip dasar hubungan diplomatik.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Tragedi penembakan massal terjadi di sebuah pesta di area perkemahan Arcadia Lake, Edmond, Oklahoma, pada Minggu malam waktu setempat (3/5/2026).
Melansir dari NBC News, setidaknya 12 orang menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut keterangan resmi dari pihak kepolisian, penembakan terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat di lokasi pesta yang dihadiri sekelompok besar pemuda.
Polisi menerima banyak panggilan darurat melalui layanan 911 yang melaporkan adanya rentetan tembakan di area tersebut.
"Kepolisian Edmond, bersama Kepolisian Oklahoma City dan Patroli Jalan Raya Oklahoma, segera menuju lokasi dan menemukan banyak korban. Petugas medis darurat telah mengevakuasi 10 korban ke berbagai rumah sakit di wilayah metro," ungkap pihak kepolisian.
Juru bicara Kepolisian Edmond, Emily Ward, menyatakan bahwa para korban berada dalam kondisi yang beragam.
Selain menggunakan ambulans, beberapa korban diduga berangkat ke rumah sakit menggunakan kendaraan pribadi, sehingga total jumlah korban yang dirawat kemungkinan masih bisa bertambah.
Pelaku Masih Buron
Hingga Senin dini hari (4/5/2026), kepolisian belum menahan satu pun tersangka dan motif di balik serangan ini masih misterius.
Meski demikian, Ward menegaskan bahwa tidak ada ancaman lanjutan bagi masyarakat umum saat ini.
Pihak rumah sakit juga telah melaporkan sebaran terkait penanganan korban.
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)