Fakta Lebaran Haji: Begini Asal-usul Sebutan Idul Adha di Indonesia
Fidiah Nuzul Aini May 05, 2026 08:34 AM

Grid.ID -Inilah fakta lebaran haji. Asal usul sebutan Idul Adha di Indonesia jadi sorotan.

Menjelang perayaan Idul Adha, masyarakat Indonesia sering menyebut hari besar tersebut dengan nama lain, yakni Lebaran Haji.

Sebutan ini sangat dikenal luas dan bagi sebagian orang terdengar lebih akrab. Namun, bagaimana sebenarnya asal mula nama tersebut?

Di balik istilah sederhana itu, terdapat hubungan erat dengan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, sebuah momentum spiritual yang berlangsung bersamaan dengan peringatan Idul Adha.

Lebaran Haji dan Kaitannya dengan Ibadah Haji

Secara sejarah maupun budaya, istilah “Lebaran Haji” muncul karena Idul Adha bertepatan dengan puncak pelaksanaan haji di Makkah. Dalam ajaran Islam, sehari sebelum Idul Adha para jemaah haji menjalankan wukuf di Padang Arafah.

Wukuf merupakan rukun haji yang paling utama. Tanpa melaksanakannya, ibadah haji dianggap tidak sah. Dalam pelaksanaannya, jemaah berdiam di Arafah sejak matahari tergelincir pada 9 Dzulhijjah hingga menjelang subuh 10 Dzulhijjah.

Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa selama wukuf, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, serta shalawat sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah. Momen inilah yang semakin memperkuat hubungan antara ibadah haji dan Idul Adha, sehingga masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan Lebaran Haji.

Tradisi Lokal dan Istilah Lebaran

Kata “lebaran” sendiri bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan tumbuh dalam budaya Nusantara. Dalam kajian bahasa Jawa, kata “lebaran” sering dikaitkan dengan kata lebar yang berarti selesai atau usai, merujuk pada berakhirnya ibadah besar.

Jika Idul Fitri dikenal sebagai Lebaran Puasa, maka Idul Adha disebut Lebaran Haji karena berlangsung bersamaan dengan ibadah haji. Dalam buku Ensiklopedi Islam Nusantara karya Azyumardi Azra disebutkan bahwa istilah keagamaan di Indonesia sering mengalami perpaduan dengan budaya lokal, sehingga melahirkan istilah khas namun tetap berakar pada nilai Islam.

Sejarah Idul Adha: Ujian Nabi Ibrahim

Lebaran Haji juga tidak lepas dari sejarah besar yang melandasi Idul Adha, yaitu kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Dalam Surah As-Saffat ayat 100–111 diceritakan bahwa Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Sebagai nabi, beliau meyakini mimpi tersebut sebagai wahyu dari Allah.

Saat perintah itu disampaikan kepada Ismail, sang anak justru menunjukkan ketaatan luar biasa.

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Peristiwa tersebut mencapai puncaknya ketika Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Kisah inilah yang menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban pada Idul Adha.

Dalam buku Fiqh Kontemporer karya Sudirman dijelaskan bahwa kejadian ini mengandung nilai kepatuhan total manusia kepada kehendak Allah.

Makna Spiritual di Balik Lebaran Haji

Lebaran Haji bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga memiliki makna rohani yang mendalam. Dalam pandangan Islam, Idul Adha mengajarkan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.

Menurut Badan Pengelola Keuangan Haji, nilai utama Idul Adha terletak pada kesiapan seorang hamba mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi menaati Allah. Makna tersebut bukan hanya terlihat dalam penyembelihan hewan kurban, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, yakni kesediaan berkorban waktu, tenaga, maupun harta untuk kebaikan.

Antara Jemaah Haji dan Umat Islam Sedunia

Menariknya, Idul Adha menjadi momen yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, baik yang sedang berhaji maupun yang berada di negaranya masing-masing. Ketika jemaah haji melanjutkan rangkaian ibadah di Mina dengan melempar jumrah, umat Islam di berbagai belahan dunia melaksanakan salat Id dan menyembelih hewan kurban.

Keterhubungan ini menunjukkan bahwa walaupun berada di tempat berbeda, umat Islam tetap berada dalam irama ibadah yang sama.

Prediksi Idul Adha 2026

Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, Idul Adha 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan resmi nantinya akan diputuskan melalui sidang isbat. Sementara itu, Muhammadiyah juga telah menetapkan tanggal yang sama melalui maklumat resminya.

Apabila tidak terdapat perbedaan hasil rukyat, Idul Adha 2026 berpeluang dirayakan secara bersamaan di Indonesia.

Lebaran Sarat Nilai Kehidupan

Istilah Lebaran Haji bukan hanya sebutan populer, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan antara Idul Adha dan ibadah haji.

Di balik nama tersebut, tersimpan nilai universal tentang pengorbanan, keikhlasan, serta kedekatan kepada Allah, nilai yang diwariskan sejak masa Nabi Ibrahim hingga sekarang. Lebaran Haji pun menjadi pengingat bahwa setiap ibadah, sekecil apa pun, memiliki arti besar jika dilakukan dengan hati yang tulus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.