BANJARMASINPOST.CO.ID- Konflik AS-Israel vs Iran yang masih berlangsung hingga kini, memberi dampak bagi para pelaku usaha di berbagai negara termasuk Indonesia, bahkan hingga ke daerah-daerah.
Terlebih dengan kembali diberlakukan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 4 Mei yang dinilai semakin membebani masyarakat secara umum.
Ketua Umum Kadin Provinsi Kalsel, Hj Shinta Laksmi Dewi SE, mengungkapkan, kenaikan BBM yang sangat tajam ini tentu sangat memberatkan bagi pelaku usaha, karena BBM subsidi saat ini ikut-ikutan naik di tingkat eceran.
"Sehingga tujuan pemerintah memberikan subsidi BBM terkendala karena perilaku sebagian orang yang mencari spekulasi di tengah isu ini," ungkapnya.
Baca juga: Penyelewengan BBM Bersubsidi di Kalsel Dibongkar, Polda Amankan 33 Tersangka
Kadin Kalsel, lanjut Shinta, menyuarakan keberatan ini di tingkat pusat secara bersama-sama dengan asosiasi dan himpunan yang terkait.
"Kita harapkan suara ini terdengar oleh pemerintah dan mendapatkan feed back yang positif," harapnya.
Jika terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya lagi, tentu hal ini akan berpotensi terjadi inflasi, harga-harga naik, daya beli menurun, juga memengaruhi secara negatif terhadap daya saing daerah.
"Menurunnya produktifitas daerah bisa menjadi masalah terhadap kelangsungan usaha dan industri yang berpotensi terjadi PHK," pungkasnya.
Sebagaimana dirasakan, kenaikan harga BBM non subsidi membuat resah pelaku usaha apalagi yang mendistribusikan barang menggunakan sarana transportasi.
Diakui Ketua Apindo Kalsel, Winardi Sethiono, ketegangan global mendorong kenaikan biaya bahan bakar di seluruh dunia, dengan efek domino yang sangat memukul terhadap para pelaku bisnis.
"Namun kenaikan tersebut hanya berlaku untuk BBM non Subsidi, bukan BBM Subsidi. Berarti Pemerintah masih memiliki pertimbangan yang sangat kuat terhadap kepentingan rakyat kecil," katanya.
Dugaan sementara, lanjut Winardi, kenaikan BBM tersebut ada kemungkinannya dengan subsidi silang yang dilakukan pemerintah untuk menjaga keseimbangan dari dana subsidi tersebut.
"Namun di tengah gejolak ini, dampak yang kuat dan sangat dikhawatirkan adalah para pelaku usaha akan cooling down, serta melakukan efisiensi seketat mungkin dalam menjaga kelangsungan usaha-usaha mereka, serta tidak menutup kemungkinan sambil merumahkan tenaga kerja yang kurang produktif," tandasnya.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Lagi, Jalur Pengisian Dexlite di Banjarmasin Semakin Sepi Antrean
Harga BBM dari Pertamina pada Senin (4/5/2026) kembali naik harganya yaitu jenis Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite.
Pertamax Turbo dari harga Rp20.250 menjadi Rp20.750. Pertamax Dex dari harga Rp24.950 menjadi Rp29.100 dan Dexlite dari harga Rp24.650 menjadi Rp27.150.
Sedangkan BBM lain tidak ada perubahan, yaitu jenis Pertalite tetap Rp10.000, Pertamax Rp12.900 dan Biosolar Rp6.800. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)