TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kasus penusukan yang menewaskan Indra Kusuma (39) di kawasan RT 10, Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, mengakibatkan guncangan besar bagi keluarga korban.
Selain meninggalnya Indra yang merupakan tulang punggung keluarga, anak korban, Muhammad Ferdi, juga menjadi korban penusukan hingga luka-luka.
Tapi kesedihan tak berhenti di situ. Istri almarhum Indra, Ina, mengalami trauma berat, begitu juga anak-anaknya.
Mereka pun masih diliputi kekhawatiran karena pelaku merupakan warga sekitar, meski polisi telah menangkap dua tersangka, sedangkan seorang anak SMA terduga pelaku masih berkeliaran.
Kini, selain tekanan psikologis, keluarga Ina mengalami guncangan ekonomi akibat kehilangan sosok tulang punggung keluarga.
Bagaimana kondisi keluarga korban pembunuhan saat ini? Berikut wawancara Jurnalis Tribun Jambi, Rifani Halim, bersama Ina, istri korban, Minggu (4/5/2026).
Tribun Jambi: Bu Ina, bisa ibu ceritakan bagaimana kondisi ibu dan keluarga setelah kejadian pembunuhan ini?
Ina: Sampai sekarang kami masih sangat trauma. Saya masih ketakutan. Setiap ada orang datang ke rumah, kami lihat dulu dari jauh. Takut. Kejadian itu tidak hilang dari ingatan saya.
Tribun Jambi: Saat kejadian, apa yang sebenarnya terjadi pada suami ibu?
Ina: Waktu itu bapak sama sekali tidak tahu akan ada penyerangan. Dia tidak ada masalah, tidak ada ribut. Tiba-tiba saja pelaku datang dan langsung menyerang bapak. Langsung. Tidak ada bicara apa-apa.
Tribun Jambi: Berarti serangan itu mendadak?
Ina: Iya, mendadak. Orang itu langsung menyerang bapak habis-habisan. Bapak sempat lari masuk ke rumah, tapi tetap dikejar dan ditusuk sampai bapak meninggal.
Tribun Jambi: Ibu melihat langsung kejadian itu?
Ina: Saya lihat semuanya. Saya lari mau melindungi bapak, tapi tidak bisa. Mereka banyak. Saya tidak luka, tapi saya menyaksikan sendiri.
Tribun Jambi: Sebelum kejadian, apakah ada masalah antara anak-anak?
Ina: Iya. Anak saya sering diejek. Dibilang “anak kamp*ng”, “anak b*bi”. Itu bukan sekali dua kali, tapi sering. Anak saya sampai lari ketakutan.
Tribun Jambi: Apakah ibu sempat mendatangi keluarga pelaku untuk membicarakan hal itu?
Ina: Sempat. Saya datang baik-baik, mau tanya kenapa anak saya dikejar dan diejek. Tapi jawabannya tidak jelas. Mereka bilang anak saya yang salah.
Tribun Jambi: Pada malam kejadian, apakah pelaku datang sendirian?
Ina: Tidak. Ada beberapa orang. Mereka bawa senjata tajam. Itu sudah seperti berencana.
Tribun Jambi: Selain suami ibu, apakah ada korban lain?
Ina: Ada. Saudara kami juga luka parah karena berusaha melerai. Hampir mati.
Tribun Jambi: Sudah satu minggu berlalu, apakah ada pendampingan psikologis dari pihak kepolisian?
Ina: Belum ada yang datang ke rumah untuk tes psikologi. Padahal kami sangat butuh, terutama anak-anak.
Tribun Jambi: Bagaimana kondisi anak-anak ibu sekarang?
Ina: Anak saya ada tujuh. Yang paling kecil masih 15 bulan. Ada yang sakit, ada yang masih sekolah dan ujian. Mereka kehilangan ayahnya, dan saya bingung harus bagaimana.
Tribun Jambi: Selama ini, suami ibu adalah tulang punggung keluarga?
Ina: Iya. Saya tidak pernah bekerja sejak menikah. Semua dari suami saya. Sekarang kami benar-benar kebingungan.
Tribun Jambi: Apa harapan ibu terhadap proses hukum kasus ini?
Ina: Saya minta keadilan. Mereka harus dihukum seberat-beratnya. Suami saya dibunuh dengan kejam, sudah direncanakan. Anak-anak saya kehilangan ayahnya.
Tribun Jambi: Apakah ibu berharap para pelaku dihukum seumur hidup?
Ina: Kalau menurut saya, hukuman seumur hidup pun belum sebanding. Suami saya tidak akan kembali.
Tribun Jambi: Terima kasih, Bu Ina, atas kesaksiannya. Semoga ibu dan keluarga diberi kekuatan.
Ina: Terima kasih. (Tribun Jambi/Rifani Halim)
Baca juga: Dua Pelaku Pembunuhan di Alam Barajo Jambi Ditangkap Polisi
Baca juga: 10 Pemeriksa Kemenkes Datangi 2 RSUD di Jambi, Buntut Kematian dr Myta