Awal Mula Imam Masjid di Palopo Dikeroyok, Sempat Dituduh Pukul Bocah: Muka Saya Penuh Darah
Rusaidah May 05, 2026 12:03 PM

 

BANGKAPOS.COM --  Inilah kronologi Ahmad (62), imam Masjid As Salam di Kota Palopo, Sulawesi Selatan yang dikeroyok usai menegur bocah bermain mikrofon masjid.

Ahmad memberikan klarifikasi terkait insiden pengeroyokan yang dialaminya.

Hal ini menyusul beredarnya informasi di media sosial yang menuding dirinya melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan telah berdampak buruk pada dirinya, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan sosial.

Baca juga: Pria Asal Jakarta Ditangkap Polisi Gegara Mencuri Kabel Listrik di Taman Himpang Lima Toboali

Menurut Ahmad, kabar itu muncul tanpa dasar yang jelas dan memicu emosi sejumlah orang hingga berujung pada aksi kekerasan terhadap dirinya.

Ia pun membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan kronologi kejadian yang membuatnya justru menjadi korban.

Ahmad berusaha meluruskan informasi yang beredar agar tidak semakin menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Peristiwa itu, menurutnya, terjadi pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 15.30 Wita, sesaat setelah ia menunaikan salat Asar dan hendak pulang.

Situasi yang awalnya kondusif berubah ketika seseorang tiba-tiba mendatanginya dengan emosi tinggi.

“Dia marah-marah, bilang ‘Kenapa pukul anak saya? Nanti saya lapor polisi’. Saya jawab, saya tidak pukul. Kalau mau lapor, silakan, itu hak Anda,” ujar Ahmad, Senin (4/5/2026).

Ahmad mengatakan dirinya tetap berusaha tenang dan menanggapi tudingan tersebut dengan baik.

Namun, keadaan tiba-tiba memburuk ketika ia diserang dari belakang hingga terjatuh.

Dalam posisi terjatuh, ia kemudian dikeroyok oleh empat orang.

“Ada empat orang yang mengeroyok, tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka menyerang beruntun ke bagian wajah dan dada. Pandangan saya langsung nanar, muka saya penuh darah,” katanya.

Sejumlah warga sempat mencoba melerai, namun upaya tersebut terhalang oleh para pelaku sehingga pengeroyokan terus berlangsung hingga Ahmad mengalami luka cukup parah.

Laporan ke Polisi

Setelah kejadian, Ahmad membersihkan wajahnya lalu menuju Polsek Wara untuk membuat laporan.

Di sana, ia mengetahui bahwa pihak keluarga anak yang sebelumnya menuduhnya juga telah melapor lebih dulu dengan dugaan penganiayaan.

Namun, dari pemeriksaan awal disebutkan tidak ditemukan adanya luka pada anak tersebut.

“Polisi langsung periksa anak itu di tempat. Mana yang sakit? Ternyata tidak ada benjol. Karena saya memang tidak memukul,” tegasnya.

Meski demikian, Ahmad mengakui sempat menjitak kepala anak tersebut sebagai bentuk teguran atas perilaku yang dinilai mengganggu aktivitas di masjid.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak tersebut kerap membuat keributan, seperti bermain mikrofon hingga bersepeda di dalam area masjid.

“Sudah lama bikin ulah. Teriak-teriak di mimbar, main mikrofon, bahkan main sepeda di dalam masjid,” ungkapnya.

Kondisi Korban

Akibat pengeroyokan itu, Ahmad mengalami luka di bagian wajah dan dada, bahkan sempat kehilangan kesadaran akibat pendarahan.

Hingga kini, ia mengaku masih merasakan sakit dan gangguan pada penglihatannya.
“Masih sakit di dada, kalau bergerak masih terasa. Penglihatan saya masih kabur,” ujarnya.

Ahmad berharap kasus ini dapat ditangani secara hukum dan para pelaku segera diproses sesuai aturan yang berlaku.

Sementara itu, pihak kepolisian menyatakan bahwa kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan, dengan sejumlah saksi telah diperiksa untuk mendalami peristiwa dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.

(Bangkapos.com/Tribunnews Maker/Tribun Timur)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.