SURYA.CO.ID SURABAYA - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kualitas kesehatan hewan di Indonesia.
Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat yang pada 4–5 Mei 2026 di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari dokter hewan, paramedik veteriner, serta praktisi klinik hewan di wilayah Bojonegoro.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat berkelanjutan selama lima tahun yang diinisiasi oleh FKH Unair, sekaligus terintegrasi dengan program desa binaan.
Pelaksanaan pada Mei ini menjadi kelanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilakukan pada Januari sebelumnya, dengan fokus memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan hewan.
Baca juga: Tekan Zoonosis, FKH Unair Surabaya Gelar Kastrasi Massal Kucing Liar di Kampus C
Dalam sambutannya, mewakili Ketua Pengabdian Masyarakat FKH Unair, Prof. Dr. drh. Wiwik Misaco Yuniarti, lM.Kes., menyampaikan kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
"Pihak dinas menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan hewan," ujarnya.
Perwakilan FKH Unair, Prof. Dr. drh. Widya Paramita Lokapirnasari, MP juga mengatakan kolaborasi FKH Unair dan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro sudah berlangsung sejak lama.
"Sehingga kami berharap pengmas yang berkelanjutan di Bojonegoro ini akan berjalan dengan baik, berdampak, yang dapat dirasakan manfaatnya bagi kedua belah pihak," ujarnya.
Perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Lutfi Nurrahman, M.Vet menyambut antusias kehadiran FKH Unair di Bojonegoro.
Baca juga: Jelang Idul adha 2026, Disnakeswan Lamongan Fokus Pendataan dan Kesehatan Hewan Kurban
Dikatakannya Dinas Peternakan dan Petikanan serta masyarakat peternak sangat terbantu.
"Bantuan itik sudah berproduksi dan dipasarkan di area CFD dan sambutan masyarakat untuk membeli juga besar. Semoga dalam lima tahun ke deoan lebih banyak dampak positif yang dirasakan peternak," ungkapnya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti serangkaian bimbingan teknis (bimtek) dan penyuluhan yang mencakup berbagai topik strategis.
Pada hari pertama, (Senin 4/5/2026) materi difokuskan pada penyakit dan gangguan reproduksi ruminansia, penyakit hewan kecil, serta kesehatan hewan ternak secara umum.
Sementara itu, hari kedua Selasa (5/5/2026) membahas penyakit viral, parasiter, serta zoonosis yang memiliki dampak penting terhadap kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar dari FKH Unair, antara lain Prof. Dr. drh. Imam Mustofa, M.Kes., Dr. drh. Nusdianto Triakoso, M.P., Prof. Dr. drh. Fedik Abdul Rantam, Prof. Dr. drh Suwarno, M.Si., Prof. Dr. drh. Lucia Tri Suwanti, M.P., serta Prof. Dr. drh. Mustofa Helmi Effendi, DTAPH.
Materi disampaikan secara interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab, sehingga memungkinkan peserta untuk membahas kasus-kasus yang mereka hadapi di lapangan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pembelajaran, seluruh peserta juga mendapatkan materi dalam bentuk buku saku yang dapat digunakan sebagai referensi praktis dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan hewan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penyakit infeksi, gangguan reproduksi ternak, hingga penyakit zoonosis yang berpotensi menular ke manusia.
Upaya ini sejalan dengan pendekatan One Health yang menekankan keterkaitan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, FKH UNAIR berharap dapat memberikan dampak nyata dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan hewan di daerah, sekaligus memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi, dan pemerintah daerah.
"Ke depan, program ini akan terus dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi melalui kegiatan pendampingan dan pengembangan desa binaan," ungkapnya.