BANGKAPOS.COM -- Inilah sosok Ghofirul Kasyfi, prajurit TNI AL Kelasi Dua (KLD) yang ditemukan tewas di kamar kapal.
Ghofirul adalah pemuda asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Ia tewas di kamar kapal trumah sakit KRI Radjiman Wedyodiningrat.
Pihak internal disebut menyampaikan bahwa korban meninggal akibat bunuh diri. Namun, keluarga menolak kesimpulan tersebut.
Namun pihak keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan, mulai dari dugaan kekerasan selama masa orientasi hingga kondisi jenazah yang dianggap tidak wajar.
Baca juga: Pemkab Bangka Selatan Terima Sapi Kurban Presiden, Bakal Disalurkan ke Desa Paku
Ayah korban, Mahbub Madani, mengungkapkan bahwa sejak ditempatkan di KRI Radjiman pada Februari 2026, putranya sering menyampaikan keluhan terkait kondisi yang dialaminya selama masa orientasi.
Menurutnya, Ghofirul yang biasa dipanggil Ovy kerap menghubungi keluarga, terutama ibunya, dan mengaku mengalami tekanan fisik serta mental.
Ia bahkan menyebut dirinya menjadi korban kekerasan oleh sejumlah senior.
“Anak saya bilang sering dipukul, bahkan oleh puluhan orang. Dia sudah tidak kuat dan minta pindah kapal,” ujar Mahbub, Senin (4/5/2026).
Selain itu, Ovy juga mengaku hanya memiliki waktu istirahat sekitar satu jam setiap harinya.
Ia disebut baru bisa tidur sekitar pukul 02.00 dini hari, lalu kembali dibangunkan satu jam kemudian untuk melanjutkan aktivitas.
“Siang kerja, malam dibantai. Itu yang dia sampaikan ke kami,” katanya.
Hal lain yang dianggap janggal terjadi pada 25 April 2026, ketika dua pria yang mengaku sebagai atasan korban datang ke rumah keluarga.
Mereka mencari keberadaan Ghofirul dan menyebut bahwa korban diduga meninggalkan kapal.
Keduanya bahkan menyampaikan bahwa kamar korban telah diperiksa, namun tidak ditemukan keberadaannya.
“Katanya kamar sudah digeledah dan anak saya tidak ada,” ungkap Mahbub.
Namun sehari setelah itu, keluarga justru menerima kabar bahwa Ghofirul telah meninggal dunia, dan disebut ditemukan di kamar yang sebelumnya dinyatakan kosong.
“Ini yang sangat janggal. Sehari sebelumnya tidak ada, tapi besoknya ditemukan meninggal di kamar,” katanya.
Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka di Bangkalan pada 27 April 2026 sekitar pukul 01.30 WIB.
Saat peti dibuka, keluarga melihat adanya kejanggalan pada kondisi tubuh korban.
Mahbub menyebut wajah anaknya dipenuhi lebam.
Ketika peti dibuka sepenuhnya pada pagi hari, ditemukan lebih banyak luka di beberapa bagian tubuh, termasuk leher dan area sensitif.
“Lebamnya banyak. Bahkan di bagian selangkangan keluar darah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti luka di bagian leher yang dinilai tidak sesuai dengan dugaan bunuh diri.
“Kalau bunuh diri, biasanya bekas jeratan di atas. Tapi ini di bagian bawah leher,” jelasnya.
Keluarga juga membantah anggapan bahwa lebam tersebut merupakan tanda lahir.
“Saya tahu betul tubuh anak saya. Tidak ada tanda lahir seperti itu,” tegasnya.
Mahbub menegaskan bahwa putranya bukan pribadi yang mudah putus asa. Ia menyebut Ghofirul memiliki mental kuat dan bahkan memiliki kemampuan bela diri.
“Dia anak yang tegar. Justru saya yang lebih lemah. Tidak mungkin dia bunuh diri,” katanya.
Keluarga kini mendesak dilakukannya autopsi guna memastikan penyebab kematian secara jelas.
Mereka juga meminta TNI AL melakukan penyelidikan menyeluruh terkait dugaan kekerasan selama korban bertugas.
Kasus ini kembali menyoroti isu dugaan kekerasan dalam lingkungan militer, khususnya pada masa orientasi prajurit baru.
Keluarga berharap proses pengusutan dilakukan secara transparan tanpa ada yang ditutupi, serta pihak-pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban.
“Kami ingin kebenaran. Anak kami tidak meninggal secara wajar,” ujar Mahbub.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi secara rinci terkait hasil investigasi internal maupun langkah hukum lanjutan dari pihak terkait.
(Bangkapos.com/Serambinews/Tribunnews)