Pesona Masjid Astana Sultan Hadlirin Jepara, Peninggalan Pahlawan Nasional, Ukiran Akulturasi Budaya
muh radlis May 05, 2026 01:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Sebagai Kota Ukir tak selamanya Jepara hanya dikenal dengan seni kerajinan ukir saja.

Berbagai potensi unik lainnya juga menjadi bagian dari Kabupaten Jepara.

Mulai dari sejarah, alam yang indah, hingga peninggalan-peninggalan lahirnya Jepara di pesisir Utara Pulau Jawa.

Jepara memiliki sebuah bangunan masjid yang melambangkan sebuah akulturasi budaya pada masanya.

Bernama Masjid Astana Sultan Hadlirin, terletak di sebuah kawasan Bangunan Cagar Budaya di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan.

Masjid tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai Masjid Mantingan lantaran terletak di Desa Mantingan.

Sekilas Masjid Astana Sultan Hadlirin terlihat layaknya bangunan masjid pada umumnya.

Sebuah bangunan tua yang sudah dipoles pada beberapa bagian, tanpa menghilangkan keaslian dari bangunan utama.

Masjid tersebut memiliki sejarah panjang berkaitan dengan Pahlawan Nasional bernama Retno Kenconon atau Ratu Kalinyamat.

Putri Sultan Trenggono atau cucu dari Raden Patah penguasa di zaman Kesultanan Demak.

Baca juga: Ini yang Dimiliki Banyumas Tapi Tak Ada di Daerah Lain hingga Bisa Rebut Proyek Nasional

Tak hanya itu, Masjid Astana Sultan Hadlirin juga menyimpan sejarah unik.

Sebuah bangunan masjid yang notabene tempat ibadah masyarakat muslim, namun memiliki makna lebih dalam perihal akulturasi budaya.

Bahkan jejak peninggalannya masih ada pada bangunan masjid, menjadikan Masjid Mantingan berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya.

Masjid Mantingan konon merupakan sebuah hadiah dari Ratu Kalinyamat kepada suaminya Sultan Hadlirin atau Raden Toyib.

Masjid tersebut lantas diberi nama Masjid Astana Sultan Hadlirin, guna mengenang suami Ratu Kalinyamat yang telah gugur terlebih dahulu.

Seiring berkembangnya waktu, masjid tersebut menjelma sebagai jujukan masyarakat dalam berwisata religi di Bumi Jepara.

Tak sedikit pengunjung Jepara yang sengaja menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Mantingan hanya sekadar ingin merasakan salat langsung di masjid bersejarah.

Ada pula yang menyempatkan diri untuk foto-foto berlatar belakang bangunan masjid tua.

 

Ornamen Batu Relief dari China

Masjid Astana Sultan Hadlirin merupakan cagar budaya yang berusia lebih dari 467 tahun.

Ya, usia bangunannya tidak kaleng-kaleng hampir lima abad.

Bangunan masjid utama merupakan cagar budaya nasional, yang juga menyimpan sejarah panjang berkaitan sejarah dua tokoh berpengaruh di Kabupaten Jepara.

Nama Sultan Hadlirin yang disematkan sebagai nama masjid merupakan putra pangeran dari Aceh yang menjadi suami Ratu Kalinyamat.

Masjid tersebut bagian sejarah peninggalan Ratu Kalinyamat ketika memimpin Kabupaten Jepara.

Dibangun sekitar tahun 1559, kini bangunan masjid masih berdiri kokoh dan menjadi tempat kajian-kajian Islam.

Letak Masjid Astana Sultan Hadlirin berada di sebuah kompleks yang dikelilingi bangunan pagar tembok dari batu bata khas peninggalan zaman Hindu-Budha.

Kompleks masjid terletak lebih tinggi dari jalan raya, menunjukkan sebuah tempat yang dinilai lebih privat bak singgasana.

Bahkan bangunan masjid juga dikonsep lebih tinggi dari pelataran.

Terdapat puluhan anak tangga sebagai penghubung pelataran dengan bangunan utama masjid.

Untuk bisa memasuki bangunan utama masjid, harus menaiki puluhan anak tangga yang memanjang terlebih dahulu.

Terdapat tiga pintu utama yang terbuat dari kayu jati sebagai akses masuk ke dalam masjid.

Di dalamnya ada empat tiang utama masjid, terbuat dari kayu yang dipercaya masih asli sejak masjid itu dibangun.

Selain itu, mimbar masjid juga masih asli peninggalan era pembangunan masjid pertama. Meski tempat tongkatnya pada mimbar sudah diganti.

Meski bagian dari cagar budaya, perbaikan-perbaikan bangunan juga sudah pernah dilakukan untuk menjaga agar bangunan tidak roboh dan tetap kokoh.

Pengembangan masjid pun sudah dilakukan secara bertahap.

Mulai dari pemasangan plafon, pembangunan serambi, pemasangan keramik, hingga pembangunan bangunan penunjang masjid di sisi kanan.

Semua pembangunan dilakukan tanpa merubah asli bangunan utama masjid.

Bentuk akulturasi budaya yang menjadi ikon Masjid Mantingan adanya ornamen batu relief yang dibawa dari negeri China.

Pada mulanya, akulturasi budaya sangat kental pada setiap sudut dan sisi bangunan.

Satu hal yang paling menonjol adalah ukiran relief pada batu sebagai hiasa bangunan.

Ukiran batu pada masa awal berdirinya masjid mencerminkan sebuah hewan-hewan, kemudian diubah oleh Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat dengan motif dedaunan.

Sejak berdirinya masjid, keberadaan Masjid Mantingan dijadikan sebagai pusat aktivitas masyarakat, dalam upaya penyebaran agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa.

Pada mulanya lokasi masjid tersebut sebagai tempat ujlah atau menyendiri bagi Ratu Kalinyamat.

Disulap menjadi bangunan masjid sebagai tempat ibadah dan kajian penyebaran Islam.

Hiasan-hiasan atau motif pada batu hias yang ada di Masjid Mantingan dikelompokkan setidaknya menjadi tiga bagian.

Bagian pertama adalah hiasan bercorak flora yang didominasi bentuk bunga teratai, kedua tumbuhan menjalar dikenal dengan motif slimpetan, dan ketiga adalah motif hewan yang disamarkan atau distilisasi.

Meski motif atau relief pada batu sudah disamarkan, namun tidak mengurangi makna sebuah akulturasi budaya yang hidup pada bangunan masjid tersebut.

Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Dr Achmat Slamet (68) bercerita, Masjid Mantingan konon dibangun dua kali.

Tiga tokoh utama pembangunan masjid adalah Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, dan Tjie Hwie Gwan atau Pangeran Sungging Badar Duwung sebagai arsitek.

Menurut dia, pembangunan pertama diketahui sebelum era 1559 oleh tiga tokoh utama tersebut.

Mayoritas material pembangunan masjid dibawa dari China, tempat pertemuan Sultan Hadlirin dengan Tjie Hwie Gwan yang kemudian menjadi ayah angkat Sultan Hadlirin.

Di antara material bangunan masjid yang dibawa dari China adalah batu ukir bermotif relief sebagai hiasan bangunan masjid, juga kayu-kayu jati sebagai struktur utama bangunan.

Setelah bangunan masjid pertama berdiri, kata Achmat Slamet, banyak cerita menyebutkan bahwa bangunan masjid tersebut diminta oleh seorang tokoh agama atau ulama di Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Bangunan masjid tersebut diceritakan dibawa secara utuh ke Sendangduwur.

Selanjutnya, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Sungging Badar Duwung yang saat itu menjabat sebagai patih, membangun kembali masjid di Mantingan dengan konsep serupa.

Bahkan beberapa bahan utama pendirian masjid juga didatangkan kembali dari China.

Hingga terbangunlah masjid sejarah yang kini menjadi warisan budaya dan menjadi cagar budaya nasional.

"Menurut cerita dan kami pengurus sepakat bahwa ada dua kisah, di mana bangunan masjid ini dibangun dua kali.

Bangunan pertama dibawa ke Sendangduwur, bangunan kedua di Mantingan.

Kami sudah cek bangunan masjid di Sendangduwur, kondisinya tidak terawat," terang dia, Selasa (5/5/2026).

 

Sejarah Berdirinya Masjid Mantingan

Berbicara tentang Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan tidak terlepas dari sosok tokoh pejuang Jepara bernama Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono merupakan putri dari Sultan Trenggono, atau cucu dari Raden Patah, masih keturunan dari Brawijaya V.

Sementara Sultan Hadlirin merupakan keturunan seorang raja dari Aceh bernama Sultan Ibrahim dikenal dengan gelar Syeikh Muhayat Syah.

Di usia remaja, Sultan Hadlirin pergi ke China untuk menimba ilmu.

Dia kemudian bertemu dengan Tjie Hwie Gwan, yang pada akhirnya menjadi ayah angkat.

Suatu ketika, Pangeran Toyib diutus ke Kesultanan Demak untuk medalami Ilmu Pemerintahan dan Agama Islam.

Dia pun datang bersama Tjie Hwie Gwan dan bersandar di Kabupaten Jepara.

Keduanya mendengar kabar bahwa ada sosok pemimpin daerah yaitu ratu yang tangguh di Kabupaten Jepara.

Di Jepara, Sultan Hadlirin bertemu dengan Ratu Kalinyamat.

Konon diceritakan bahwa Sultan Hadlirin menyamar sebagai pekerja untuk Ratu Kalinyamat agar bisa lebih dekat dan memahami karismatik yang dimiliki Retno Kencono.

Penyamaran Sultan Hadlirin pun terbongkar, hingga akhirnya dua tokoh Islam tersebut bersatu.

Kehadiran Tjie Hwie Gwan selanjutnya diberikan kedudukan diangkat menjadi patih setelah Sultan Hadlirin menikahi Ratu Kalinyamat.

Dia pun diberi gelar Pangeran Sungging Badar Duwung.

Sungging berarti memahat, badar merupakan batu atau akik dan duwung berarti tajam.

Gelar tersebut disematkan ke Tjie Hwie Gwan atas keahliannya di bidang seni ukir dan ahli pahat.

Dia juga terampil membuat hiasan ornamen atau relief bangunan, termasuk batu relief yang ada di Masjid Mantingan Jepara.

Keterampilan tersebut juga akhirnya ditularkan kepada Sultan Hadlirin semasa hidupnya, serta ditularkan kepada masyarakat di Jepara.

Ratu Kalinyamat pun membangun Masjid Mantingan sebagai hadiah untuk mendiang suaminya yang terkasih.

Bahkan suaminya Sultan Hadlirin dan dirinya juga ikut dimakamkan di kompleks pemakaman khusus, terletak di belakang Masjid Mantingan.

"Jadi, tokoh sentral atas berdirinya Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan ya tiga orang ini," ujar dia.

Di dalam kompleks cagar budaya itu, selain ada masjid, juga terdapat pemakaman dan sebuah museum yang di dalamnya tersimpan peninggalan batu relief dari China.

Kehadiran masjid dan makam di lokasi Mantingan menjadikan sebuah destinasi wsiata religi yang kerap menjadi jujukan wisatawan dari berbagai daerah.

 

Wisata Religi Bumi Kartini

Achmat Slamet menyebut, Masjid Astana Sultan Hadlirin kini dijadikan sebagai jujukan wisata religi.

Setiap adanya peziarah yang datang dari berbagai daerah, biasanya menyempatkan diri untuk melihat-lihat bangunan masjid.

Ada juga yang hanya sekadar numpang menunaikan salat di masjid yang sarat akan sejarah dan menjadi cagar budaya nasional.

Konon dikisahkan bahwa Sultan Hadlirin merupakan tokoh Islam ahli di bidang tasawuf.

Diceritakan, dia juga memiliki murid di Kabupaten Jepara, namun tidak banyak.

Salah satu muridnya dimakamkan di kompleks Makam Mantingan.

Kini masjid tersebut aktif dijadikan tempat ibadah jemaah salat lima waktu, kajian-kajian Islam, hingga selapanan, haul, dan peringatan hari-hari besar Islam.

 

Fasilitas Nyaman Bagi Pengunjung

Di lokasi Masjid Astana Sultan Hadlirin memiliki halaman parkir yang cukup luas.

Terbagi menjadi dua lokasi parkir, ada di halaman bawah, tersedia pula di halaman parkir atas.

Di lokasi masjid bagian luar, terdapat pula mesum yang menyimpan gambarblukisan dan tulisan-tulisan sejarah Ratu Kalinyamat lengkap dengan perjuangannya.

Masjid Mantingan juga memiliki serambi yang luas. Bahkan tempat khusus perempuan di masjid tersebut juga dibedakan tidak hanya terbatas oleh sekat saja.

Tempat pengunjung atau jemaah perempuan memiliki bangunan gedung tersendiri di sisi kanan masjid utama.

Semakin menambah suasana nyaman bagi pengunjung, baik dari pengunjung laki-laki maupun pengunjung perempuan. (ADV/Sam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.