Kisah Seorang IRT di Balik Keindahan Kain Tapis, Rintis Usaha dari Jual 2 Tas
Robertus Didik Budiawan Cahyono May 05, 2026 04:31 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kain tapis tersusun rapi di rak pajangan Butik Alin Tapis yang berlokasi Jalan Pagar Alam No.23/171, Kedaton, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung pada Selasa (5/5/2026).

Di balik keindahan kain tapis yang menjadi warisan budaya Lampung ini, tersimpan kisah inspiratif seorang ibu rumah tangga yang memulai usahanya dari nol. 

Novita Ria (48) pemilik Alin Tapis membuktikan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga bukan penghalang untuk berkarya dan berkembang.

“Alin tapis mulai saya rintis sejak 2016, meskipun produk pertamanya baru benar-benar saya pasarkan pada April 2017,” ungkap Novi Selasa (5/5/2026).

Saat itu, produk yang ia jual adalah tas dengan motif tapis. Novita hanya memiliki dua tas sebagai hasil awal karyanya. 

Baca juga: Modal Nekat Desi Bikin House Tapis Citra Beromzet hingga Puluhan Juta, Mulai dari Nol

Dengan modal keberanian dan ketekunan, ia memasarkan produknya secara mandiri melalui Instagram.

“Dari dua tas itu saya jual, lalu hasilnya saya putar lagi untuk beli bahan. Dari dua jadi empat, empat jadi delapan, begitu terus,” ujarnya.

Perjalanan tersebut tidak mudah. Berangkat dari latar belakang sebagai ibu rumah tangga tanpa modal besar. Novita memanfaatkan sisa keuangan setelah kebutuhan keluarga terpenuhi untuk mengembangkan usahanya. 

Strategi sederhana namun konsisten itu menjadi fondasi pertumbuhan Alin tapis hingga dikenal seperti sekarang.

Ia menceritakan bahwa awalnya hanya bekerja sama dengan satu pengrajin tapis yang membuat motif sederhana seperti tapis cuping dan tapis abung untuk membuat produknya.

Melihat peluang, ia mulai berinovasi dengan mengaplikasikan tapis ke berbagai produk, salah satunya tas berbahan dasar pandan yang saat itu sedang tren.

Seiring meningkatnya permintaan, Novita mulai membentuk kelompok pengrajin pada 2017 di wilayah Lebak Budi. 

Ia secara mandiri melatih para ibu rumah tangga dengan membagikan bahan dan peralatan untuk belajar membuat tapis.

Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus. Dari 10 orang yang dilatih, hanya dua hingga tiga orang yang bertahan. 

“Saya memberikan pelatihan untuk bekal ibu rumah tangga sebagai mitra, namun seiring waktu banyak yg beralih ke pekerjaan lain,” tuturnya.

Hal ini mendorong Novita untuk memperluas jaringan hingga ke kampung halamannya di Pringsewu dan Tanggamus, yang dinilai memiliki keterampilan kerajinan lebih cepat berkembang.

“Di desa, mereka lebih cepat belajar dan hasilnya juga rapi. Ini memang soal keterampilan,” jelasnya.

Kini, Alin tapis berkembang menjadi jaringan pengrajin dengan sistem kelompok di berbagai daerah. 

Setiap wilayah memiliki spesialisasi berbeda, mulai dari tapis halus untuk fashion hingga tapis sederhana untuk produk turunan seperti dekorasi rumah dan suvenir.

“Untuk pola itu dari saya, kemudian baru di tapis oleh pengrajin di daerah tersebut,” katanya.

Kini produk Alin tapis pun semakin beragam, tidak hanya kain tapis, tetapi juga tas, taplak meja, hingga aksesori. 

Novita bahkan menginovasikan motif tapis, ia membuat tapis menggunakan motif burung yang sedang hinggap di pohon hingga suasana pedesaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terbesar datang dari pasar suvenir dan corporate gift dengan harga rata-rata di atas Rp.300 ribu. Salah satu produk terlarisnya yaitu rok tapis lilit dibanderol sekitar Rp350 ribu.

Dalam kondisi ramai, omzet bisa mencapai Rp100 juta per bulan. Namun, di masa sepi, pendapatan bisa turun hingga Rp10 juta.

“Tantangan terbesar kami adalah karena tapis bukan kebutuhan utama, harganya juga relatif tinggi dan pasarnya spesifik,” katanya.

Harga produk Alin tapis sendiri sangat bervariasi, mulai dari suvenir kecil seharga Rp 5.000 hingga kain tapis berkualitas tinggi yang bisa mencapai Rp. 5 juta, tergantung bahan dan tingkat kerumitan benang.

Selain berfokus pada produksi dan penjualan, Alin tapis juga membuka program kunjungan edukasi dan wisata kerajinan. 

Program ini banyak diminati sekolah dan instansi yang ingin mengenal lebih dekat proses pembuatan tapis sekaligus membeli produk sebagai oleh-oleh.

Menariknya, seluruh pengrajin yang terlibat mayoritas adalah ibu rumah tangga, baik di kota maupun desa. 

Bahkan, Alin tapis juga memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya. Bagi Novita, Alin Tapis bukan sekadar bisnis, melainkan wadah pemberdayaan perempuan.

“Saya ingin ibu-ibu bisa berkarya dari rumah, punya penghasilan sendiri, dan merasa berdaya,” tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.