Grid.ID - Aktor sekaligus presenter, Ibnu Jamil, menceritakan titik awal dirinya mulai meluangkan waktu untuk hadir bersama keluarga dan menjadi sosok family man. Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam kehidupannya.
Sebagai seseorang yang berkarier di dunia hiburan, kesibukan menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Jadwal pekerjaan yang padat kerap membuatnya sulit membagi waktu untuk keluarga.
Namun, Ibnu mengaku ada momen penting yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Momen itu terjadi setelah ia bertemu dan menikah dengan Ririn Ekawati.
Sejak saat itu, ia mulai memahami arti penting kehadiran dalam keluarga. Pernikahan menjadi titik balik yang membuatnya lebih sadar akan prioritas hidup.
“Ketika saya menikah dengan Ririn, kita memang punya masa lalu masing-masing, semuanya kita jadiin pegangan hidup," ujarnya dikutip dari YouTube @Merry-Riana pada Selasa (5/5/2026).
“Namanya manusia pasti punya kesalahan, kegagalan, tapi gimana caranya kita bisa keluar dari itu dan kita bisa maju terus melihat masa depan yang memang harus kita jalanin gitu," katanya.
Ibnu juga merasakan perubahan besar sejak menjalani kehidupan bersama Ririn. Ia mengaku mendapatkan banyak hal positif dari sang istri.
“Dan Ririn sebagai partner hidup saya banyak memberikan dampak positif banget,” ucapnya. Kehadiran Ririn membuatnya lebih memahami arti kebersamaan dan tanggung jawab.
Tak hanya itu, pria berusia 45 tahun ini juga belajar tentang pentingnya menentukan prioritas dalam hidup. Ia kini lebih mengutamakan keluarga dibandingkan hal lain.
“Saya diajarin yang namanya prioritas hidup untuk belajar mengutamakan orang atau keluarga terdekat,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Ibnu juga diingatkan untuk tidak melupakan orang tua. Peran Ririn sangat besar dalam membentuk kebiasaan tersebut.
“Selain istri sudah pasti yang mesti diingat anak juga. Selain itu, Ririn yang paling vocal untuk nanya ‘uda telpon mama, papa belum?’ gitu diingatkan,” tuturnya.
Ibnu mengakui bahwa dulu ia tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu. Fokusnya lebih banyak tertuju pada diri sendiri dan pekerjaan.
“Dulu cuma diri saya, itu pun kalau lagi libur atau gabut baru ajak orang tua atau baru nanya kabarnya,” katanya.
Kini, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk berkumpul bersama keluarga. Hal-hal sederhana seperti makan bersama menjadi momen berharga.
“Tapi waktu sama Ririn, dia yang ngajarin itu dan kebawa sampai sekarang. Pas hari libur atau apa, saya selalu ajak orang tua minimal makan ataupun ngunjungi aja tuh udah senang banget mereka,” tutupnya. Kebiasaan ini membuatnya merasa lebih dekat dengan keluarga.