TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Kenaikan harga aspal hingga hampir 40 persen berdampak langsung pada proses tender proyek perbaikan jalan di Bondowoso. Akibatnya, lelang proyek harus diperpanjang hingga tiga kali sejak awal April 2026, karena banyak kontraktor yang mundur.
Minimnya minat penyedia jasa konstruksi menjadi penyebab utama. Para kontraktor menilai harga satuan dalam dokumen lelang tidak lagi relevan dengan kondisi pasar saat ini.
Salah seorang penyedia jasa konstruksi berinisial S mengungkapkan, lonjakan harga bahan baku, terutama akibat kenaikan harga BBM, membuat perhitungan biaya proyek menjadi tidak rasional.
Baca juga: Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Dalam Kresek Pinggir Jalan Bondowoso
Menurutnya, jika tetap mengikuti harga dalam lelang, biaya pekerjaan bisa membengkak hingga 105 persen dari pagu anggaran.
"Ngepres sekali," ujarnya.
Ia menilai, perencanaan proyek sebenarnya telah disusun sejak jauh hari. Namun, kenaikan harga yang terjadi secara cepat membuat evaluasi ulang menjadi tidak terhindarkan.
Kondisi serupa, kata dia, juga terjadi di berbagai daerah lain, bukan hanya di Bondowoso.
Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Anshori, membenarkan situasi tersebut. Ia menyebut, kenaikan harga aspal dari sekitar Rp1,7 juta menjadi Rp2,4 juta per ton membuat penyedia jasa berpikir ulang untuk mengikuti tender.
Baca juga: Promosi di TikTok, Sepasang Kekasih di Bondowoso Live Streaming Hubungan Intim
"Di saat itu, mungkin teman-teman penyedia berpikir, ‘oh iya ya, ini kok terlalu jauh’. Mereka akhirnya enggan untuk ikut," jelasnya.
Pihaknya telah melakukan peninjauan ulang harga satuan dengan mengecek langsung ke Asphalt Mixing Plant (AMP) di Jember dan Situbondo. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses tender agar pengerjaan segera dimulai.
Baca juga: Danu Kaget Temukan Jenazah di Saluran Irigasi, Jadi Buah Bibir Warga Tenggarang Bondowoso
Tahun ini, pemerintah daerah menargetkan perbaikan pada 134 titik jalan dengan total panjang sekitar 35 kilometer. Seluruh titik tersebut dikategorikan sebagai prioritas mendesak.
Namun, kenaikan harga aspal dipastikan berdampak pada berkurangnya volume pekerjaan. Target panjang jalan sebelumnya dihitung berdasarkan asumsi harga normal, sehingga penyesuaian perlu dilakukan.
Meski demikian, Anshori mengatakan pagu anggaran, jumlah titik, dan lokasi proyek tidak berubah. Saat ini, pihaknya masih melakukan rekapitulasi ulang terkait volume pekerjaan yang bisa direalisasikan.
Ia menambahkan, seluruh anggaran proyek bersumber dari APBD, mengingat Bondowoso tidak memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 2026.
"Kita juga hati-hati dari sisi regulasi," tambahnya.