TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kecelakaan lalu lintas di traffic light Exit Tol Bawen kembali menjadi sorotan.
Kanalisasi kendaraan sudah diterapkan Dishub Kabupaten Semarang guna menekan fatalitas kecelakaan.
Namun, kecelakaan beruntun kembali terjadi melibatkan empat kendaraan pada Senin (4/5/2026).
Baca juga: Pemkab Kudus Tingkatkan Pengawasan Ternak Jelang Iduladha
Baca juga: PPPK Terlibat Kasus Perselingkuhan, Bupati Kendal: Langsung Pecat Tanpa Teguran
Kecelakaan beruntun tersebut dipicu kegagalan pengereman truk tronton yang kemudian menabrak tiga kendaraan di depannya.
Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang, Djoko Noerjanto menyebut, tidak adanya korban dari pengendara sepeda motor dalam kejadian tersebut menjadi indikasi awal keberhasilan sistem kanalisasi yang diterapkan. Meski demikian, kecelakaan tersebut tetap perlu menjadi bahan evaluasi.
Ia menilai, potensi kecelakaan masih ada mengingat karakteristik jalan menurun panjang yang rawan terjadi kegagalan pengereman.
Namun, menurut dia, kecelakaan bisa saja terjadi akibat human error.
"Nah, ini turunan yang panjang dari perambuan BPTD sudah memberi rambu. Nah, saya kok (melihat) perilaku kendaraan, sopir itu kan human error-nya mungkin sekitar 83 sampai 85 persen human error," jelasnya, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, kecelakaan yang kerap dikaitkan dengan rem blong tidak selalu murni disebabkan oleh kerusakan teknis kendaraan. Ada banyak faktor lain yang turut berperan, seperti kelebihan muatan hingga keterampilan pengemudi dalam mengendalikan kendaraan di jalur menurun.
"Nah, dari teknis kendaraan laik jalan ataupun apa kalau memang diberi beban yang tinggi akhirnya kendaraan itu jadi tidak layak. Nah, (kecelakaan kemarin) belum tahu ya ini kan belum dianalisa kendaraan itu penyebabnya apa? Rem blong itu penyebabnya apa?," terangnya.
Meskipun kendaraan dinyatakan layak secara teknis, sambung dia, kondisi di lapangan bisa berbeda jika kendaraan memiliki muatan yang berlebih atau tidak diimbangi dengan keterampilan supir.
"Misalnya soal kelebihan muatan, lalu keterampilan sopir saat melintas itu juga perlu dipertanyakan. Pernah ada kasus sebelumnya, kendaraan kontainer mengalami masalah pada kampas rem. Setelah kami cek, ternyata uji terakhirnya pada 25 Agustus 2019. Itu jelas masuk faktor teknis. Namun untuk kejadian yang sekarang, kami masih belum mendapatkan data pastinya. Mudah-mudahan segera kami peroleh, sehingga besok bisa dibahas bersama untuk menentukan solusinya," paparnya.
Selain itu, dia menyebut, pengaturan lampu lalu lintas di simpang tersebut memang perlu evaluasi. Saat ini, terdapat tiga siklus yakni dari arah Semarang, arah salatiga, dan arah tol.
"Nah, memang kami belum punya solusi untuk yang dari dalam (tol) dibuang ke salatiga, tapi putarannya belum layak malah membahayakan di titik yang lain," paparnya.
Untuk solusi jangka panjang, Dishub ingin menghilangkan perpotongan dari arah tol menuju ke Semarang. Langkah ini dinilai dapat menyederhanakan siklus lampu menjadi dua fase sehingga mengurangi antrean kendaraan saat lampu merah.
"Mudah-mudahan pada 2027, BPJN mulai memikirkan ini, kemudian pihak PTP sebagai pemilik lahan juga bisa mendukung untuk kepentingan bersama dengan menyediakan lahannya. Nantinya, itu digunakan untuk pengaturan perputaran arus sehingga tidak ada lagi perpotongan kanan," tuturnya.
Terkait ukuran dan posisi timer saat ini, sambung Djoko, perlu ditingkatkan agar lebih mudah terlihat oleh pengendara dari jarak jauh sehingga dapat mengantisipasi waktu berhenti dan mengurangi pengereman mendadak.
"Ke depan, kalau bisa timer diperbesar dan ditempatkan di lokasi yang lebih terlihat, supaya pengendara bisa membaca waktu dan mengerem secara bertahap,” ujarnya.
Lebih lanjut, Djoko mengungkapkan, saat ini sistem yang digunakan pada lampu apill di exit tol Bawen masih bersifat mandiri. Meskipun telah dilengkapi dengan multiprogram yang disesuaikan berdasarkan hasil survei kondisi lalu lintas di lapangan, pihaknya berharap, sistem lampu apill bisa ditingkatkan.
Pihaknya mengusulkan penerapan sistem lalu lintas yang lebih canggih, seperti smart traffic system hingga Area Traffic Control System (ATCS). Sistem smart memungkinkan pemantauan melalui CCTV dan pengaturan lampu secara jarak jauh, sementara ATCS mampu merespons kondisi lalu lintas secara otomatis menggunakan detektor.
"Kalau sudah ATCS, sistem bisa langsung menyesuaikan siklus lampu sesuai kondisi arus lalu lintas," katanya.
Meski demikian, ia mengakui, penerapan sistem tersebut masih bergantung pada dukungan anggaran dan kewenangan instansi terkait, mengingat lokasi tersebut merupakan bagian dari jalan nasional. (eyf)