Sosok Ahmad, Imam Masjid di Palopo Babak Belur Dihajar Warga, Sempat Tegur Bocah yang Main Speaker
Candra Isriadhi May 05, 2026 05:01 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sosok Ahmad (62), imam masjid di Kota Palopo, akhirnya buka suara usai menjadi korban pengeroyokan brutal yang sempat menghebohkan publik.

Di tengah berbagai narasi yang beredar di media sosial, Ahmad dengan tegas membantah tudingan bahwa dirinya telah menganiaya anak di bawah umur.

Dengan kondisi wajah masih menyisakan luka, Ahmad menceritakan langsung detik-detik mencekam yang dialaminya pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 15.30 Wita.

PENGEROYOKAN - Ahmad (62) seorang imam Masjid As Salam, Kelurahan Benteng, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo mengalami penganiyaan yang dilakukan oleh 4 orang setelah menegur anak-anak yang bermain mikrofon masjid.
PENGEROYOKAN - Ahmad (62) seorang imam Masjid As Salam, Kelurahan Benteng, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo mengalami penganiyaan yang dilakukan oleh 4 orang setelah menegur anak-anak yang bermain mikrofon masjid. (Tribun Timur/Muh. Sauki Maulana)

Saat itu, ia baru saja selesai menunaikan salat Asar dan berjalan pulang dari Masjid As Salam menuju rumahnya.

Namun di tengah perjalanan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ahmad dihadang seorang wanita yang langsung meluapkan emosi.

Wanita tersebut menuding Ahmad telah memukul anaknya, bahkan sambil menunjuk-nunjuk wajah korban.

Baca juga: Ucapan Terakhir Nur Ainia Karyawati Kompas TV Korban Tewas Kereta Bekasi, Ingin Cuti Jauh: Diantar

"Dia marah-marah, bilang 'Kenapa pukul anak saya? Nanti saya lapor polisi'. Saya jawab, saya tidak pukul. Kalau mau lapor, silakan, itu hak Anda," ujar Ahmad mengingat kejadian tersebut, Senin (4/5/2026).

Ahmad mengaku berusaha tetap tenang dan memberikan penjelasan. Namun situasi berubah drastis hanya dalam hitungan detik.

Tanpa diduga, sebuah pukulan keras datang dari arah belakang.

Serangan mendadak itu membuat Ahmad tak sempat menghindar hingga akhirnya tersungkur ke tanah.

Di momen itulah aksi kekerasan terjadi secara brutal.

PENGANIAYAAN - Ilustrasi penganiayaan. Seorang guru Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga dianiaya orangtua siswa. Korban mengalami luka pada bagian pipi dan pelipis.
PENGANIAYAAN - Ilustrasi penganiayaan. Seorang guru Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga dianiaya orangtua siswa. Korban mengalami luka pada bagian pipi dan pelipis. (KOMPAS.com/LAKSONO HARI W)

"Ada empat orang yang mengeroyok, tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka menyerang beruntun ke bagian wajah dan dada. Pandangan saya langsung nanar, muka saya penuh darah," bebernya.

Dalam kondisi tak berdaya, Ahmad hanya bisa menerima serangan bertubi-tubi yang menghantam wajah dan tubuhnya.

Kisah Ahmad ini pun menjadi sorotan, memperlihatkan bagaimana seorang imam masjid harus mengalami kekerasan di tengah tudingan yang ia bantah keras.

Baca juga: Motif Pembunuhan Ustazah di Banjarbaru Terungkap, Pelaku Kepepet Kebutuhan, Sempat Pinjam Uang

Ahmad menyebut, sebenarnya ada jemaah lain yang ingin menolong.

Namun dihalangi oleh kerumunan pelaku sehingga ia tetap menjadi bulan-bulanan.

Dalam kondisi pusing dan wajah bersimbah darah, Ahmad menyempatkan diri mencuci muka di keran masjid.

Sebelum dirinya dibawa ke Polsek Wara, Kota Palopo, untuk melapor.

PENGEROYOKAN IMAM - Kondisi Ahmad (62) imam Masjid As Salam Kelurahan Benteng, Kota Palopo, Sulawesi Selatan masih lemah saat ditemui di rumahnya, Senin (4/6/2026). Ahmad mengalami luka lebam dan robek di bagian muka usai dikeroyok 4 orang. (Tribun Timur/Muh. Sauki Maulana)

Setibanya di sana, ternyata ibu yang menghadangnya tadi sudah lebih dulu melapor dengan klaim anaknya dipukuli hingga benjol.

"Polisi langsung periksa anak itu di tempat. Mana yang sakit? Ternyata tidak ada benjol. Karena saya memang tidak memukul," tegas Ahmad.

Kendati demikian, ia tak menampik, hanya menjitak kepala anak tersebut sebagai bentuk teguran.

Ahmad menjelaskan, teguran yang ia berikan adalah akumulasi dari rasa sabarnya menghadapi perilaku anak-anak tersebut yang sudah melampaui batas.

Menurutnya, informasi di Facebook yang menyebut anak-anak itu dipukul hanya karena lari-larian.

"Itu tidak benar. Anak-anak ini memang sudah lama bikin ulah. Mereka teriak-teriak di mimbar pakai mikrofon, ada yang salto-salto, bahkan main sepeda di dalam masjid," ungkapnya.

Ahmad membeberkan, fasilitas masjid berupa kaca railing sudah pecah sebanyak empat buah akibat ulah anak-anak tersebut.

Sebelum Ahmad turun tangan, seorang remaja masjid sudah menegur mereka, namun tidak diindahkan.

"Kami sudah cukup sabar. Hari itu saya marahi karena mereka bermain di saat perangkat masjid sudah menyala untuk persiapan salat," ungkapnya.

Ahmad menambahkan, luka yang diderita ternyata cukup serius.

Saat berada di Mapolsek Wara, ia sempat jatuh pingsan karena pendarahan di wajah yang tak kunjung berhenti.

Keluarga dan petugas kemudian melarikan Ahmad ke RS Mega Buana.

Sebelum akhirnya dirujuk ke RS Palemmai Tandi untuk menjalani perawatan intensif dan visum.

Ahmad kini berharap pihak kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku pengeroyokan.

Kasi Humas Polres Palopo, AKP Marzuki, menyebut kasus Ahmad yang menjadi korban pengeroyokan masih dalam penyelidikan.

Sebanyak 4 saksi sudah diperiksa menyusul terduga pelaku yang akan dimintai keterangan pekan depan.

"Namun masih menunggu hasil visum dari dokter untuk dinaikkan proses sidik kemudian yang diduga pelaku sudah dipanggil ke kantor Polsek Wara," tandasnya. (*)

(Tribunnewsmaker.com/Tribun-Timur.com/Muh Sauki Maulana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.