Rahasia Bintang Terpecahkan oleh Ilmuwan Perempuan Ini
GH News May 05, 2026 08:08 PM
Jakarta -

Nama Cecilia Payne-Gaposchkin mungkin belum sepopuler ilmuwan besar lain, tetapi penemuannya mengubah cara manusia memahami alam semesta. Astronom perempuan kelahiran Inggris ini menjadi sosok pertama yang menjelaskan bahwa bintang sebagian besar tersusun dari hidrogen dan helium.

Kini, jasanya kembali dikenang usai English Heritage memasang blue plaque atau plakat biru di rumah masa mudanya di 70 Lansdowne Road, Notting Hill, London. Penghargaan itu diberikan untuk mengenang perjalanan hidup dan kontribusi ilmiahnya.

Perempuan Pertama yang Bongkar Isi Bintang

Dilansir dari BBC dan English Heritage, Cecilia Payne-Gaposchkin lahir pada 10 Mei 1900 di Buckinghamshire, Inggris. Saat muda, ia tinggal di Notting Hill dan kemudian meraih beasiswa ke Newnham College, Cambridge.

Minatnya pada astronomi semakin kuat setelah menghadiri kuliah ahli astrofisika dan matematika Arthur Eddington. Namun, peluang karier bagi perempuan di bidang sains saat itu sangat terbatas.

Ia lalu pindah ke Harvard University pada 1923. Di sana, Cecilia meneliti ribuan pelat fotografi bintang dan pada 1925 menulis tesis berjudul Stellar Atmospheres.

Lewat riset tersebut, ia menyimpulkan, atmosfer bintang terutama terdiri dari hidrogen dan helium. Temuan itu bertentangan dengan keyakinan ilmiah saat itu yang mengira komposisi bintang mirip dengan Bumi.

Sempat Diragukan, Kini Jadi Dasar Astronomi Modern

Penemuan Cecilia awalnya tidak langsung diterima. Beberapa ilmuwan senior meragukan hasilnya, termasuk Henry Norris Russell. Namun, beberapa tahun kemudian, bukti ilmiah lain justru menguatkan kesimpulan Cecilia.

Kini, rasio hidrogen dan helium yang ditemukan di Milky Way sesuai dengan perhitungan Cecilia pada 1925.

Sejarawan senior English Heritage, Howard Spencer, menyebut Cecilia sebagai ilmuwan luar biasa.

"Seorang ilmuwan dengan kecerdasan dan tekad yang luar biasa. Kisahnya bukan hanya tentang penemuan besar, tetapi juga ketekunan menghadapi hambatan yang membatasi perempuan di dunia sains," ujarnya.

Jadi Profesor Perempuan Pertama di Harvard

Selain menjadi perempuan pertama yang meraih PhD astronomi di Harvard, Cecilia juga mencetak sejarah sebagai profesor perempuan pertama di Fakultas Humaniora dan Sains Harvard pada 1956.

Sepanjang hidupnya, ia menerbitkan karya ilmiah dan meneliti atmosfer bintang serta bintang variabel. Bersama suaminya, Sergei Gaposchkin, ia turut memperluas pemahaman tentang evolusi bintang dan pembentukan galaksi.

Cecilia wafat pada 1979, tetapi warisannya tetap hidup. Dari rumah masa kecilnya di London hingga observatorium Harvard, namanya dikenang sebagai perempuan yang membantu manusia memahami apa isi bintang di langit malam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.