Populasi paus kanan selatan yang dulu dianggap kisah sukses konservasi kini menghadapi masa-masa sulit. Penurunan jumlah individu dan berkurangnya angka kelahiran menunjukkan bahwa spesies ini mulai terdampak serius oleh perubahan iklim.
Pemanasan global tak hanya mengubah cuaca di daratan, tetapi juga ikut mengganggu keseimbangan kehidupan laut yang selama ini menjadi penopang ekosistem bumi. Para ilmuwan menyebut kondisi paus ini sebagai cerminan perubahan besar yang sedang terjadi di Samudra Selatan.
Dilansir dari laman Flinders University, penelitian ini menunjukkan perubahan suhu laut dan berkurangnya es di Antartika telah memengaruhi kemampuan paus untuk mencari makan dan berkembang biak.
Iklim Berpengaruh Terhadap Reproduksi Paus
Selama sepuluh tahun terakhir, paus kanan selatan mengalami penurunan kemampuan berkembang biak. Penelitian menunjukkan interval waktu antarkelahiran menjadi lebih panjang dibandingkan dekade sebelumnya. Para peneliti mengaitkan hal ini dengan berkurangnya es laut di Antartika dan perubahan kondisi laut yang memengaruhi ketersediaan makanan mereka.
Dr Claire Charlton, pemimpin Australian Right Whale Research Program, menjelaskan fenomena ini menunjukkan betapa sensitifnya paus terhadap perubahan lingkungan.
"Penurunan reproduksi ini adalah tanda bahaya bagi spesies ini dan menyoroti perlunya upaya konservasi yang lebih kuat di Samudra Selatan," tegasnya.
Peneliti juga mencatat bahwa penurunan jumlah anak paus telah terjadi secara konsisten sejak 2017. Jika pada 2016 tercatat 222 ekor anak paus lahir, maka pada 2024 jumlahnya menurun menjadi 200 ekor. Angka ini menunjukkan tren penurunan jangka panjang yang dapat memengaruhi populasi paus di masa depan.
Ancaman dari Perubahan Iklim dan Aktivitas Manusia
Selain perubahan iklim, paus juga menghadapi berbagai ancaman dari aktivitas manusia, mulai dari tabrakan kapal, kebisingan bawah laut, jaring perikanan, hingga kerusakan habitat di jalur migrasi mereka. Kondisi ini memperburuk peluang paus untuk bertahan hidup di lautan yang makin hangat.
Menurut data terbaru, jumlah paus kanan selatan di Australia kini hanya sekitar 2.300-3.900 ekor. Jumlah ini baru sekitar seperlima dari jumlah sebelum era perburuan paus.
"Dulu paus ini sempat dianggap punah, tetapi kini masa depannya kembali diragukan," ujar Dr Robert Brownell Jr dari NOAA.
Selain itu, perubahan pola migrasi juga mulai terlihat. Beberapa paus kini berpindah dari wilayah perairan dingin di Antartika menuju daerah sub-Antartika untuk mencari makanan alternatif.
Adanya perubahan perilaku ini tentu harus menjadi perhatian bersama. Hal ini juga menunjukkan bagaimana hewan laut besar seperti paus harus beradaptasi cepat terhadap perubahan drastis di lingkungannya.
Hasil studi tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports dengan judul "Climate-driven reproductive decline in Southern right whales", 11 Februari 2026.





