TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Nia duduk di ruang tamu rumahnya dengan wajah sayu, Sabtu (2/5/2026) siang. Trauma masih menghinggapi keluarganya, sepekan pascapenusukan yang menewaskan suaminya, Indra Kusuma (41), di rumahnya, RT 10, Kelurahan Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.
Perempuan itu masih mengalami trauma berat, karena menyaksikan secara langsung tindakan brutal tiga orang pembunuh suaminya.
Hingga kini, Nia masih merasa takut karena keluarga pelaku masih berada di sekitar lokasi.
Akhirnya, Nia dan anak-anaknya lebih banyak mengurung diri di dalam rumah dan selalu waspada terhadap orang yang datang.
Trauma juga dirasakan anak bungsunya
Anak bungsu Nia yang masih berusia 18 bulan pun mengamalami trauma. Dia terus menangis dan mencari sosok ayahnya.
“Anak saya yang kecil masih sakit, sering menangis cari ayahnya,” ucapnya lirih.
Datang Bawa Sajam
Ada tiga orang yang pada Minggu (27/4) lalu mendatangi rumahnya sembari membawa senjata tajam, lalu mengeroyok suami Nia dan anaknya.
Mereka adalah seorang anak SMA yang merupakan terduga pelaku, serta dua lelaki yang merupakan paman terduga yang kini tersangka.
"Sekarang saya masih lemas, masih trauma melihat kejadian itu. Berat sekali,” ujar Nia saat ditemui, Minggu (3/5).
Peristiwa penyerangan yang mengakibatkan suami Nia meninggal dunia berlangsung cukup cepat.
Saat itu, anak ketiga Nia bersama beberapa anak lainnya sedang bermain dekat rumah warga pelaku.
Saat bermain, seekor anjing menggonggong sehingga anak-anak tersebut menyebut kata “anjing”.
Oleh ibu dari anak SMA yang saat ini masih jadi terduga pembunuhan, ucapan itu diduga disalahartikan sebagai hinaan kepada anaknya.
Ibu terduga pelaku kemudian mengejar anak Nia hingga berlari dan bersembunyi di semak-semak karena ketakutan.
Beberapa warga sempat melihat suasana memanas antara ibu korban dan ibu terduga pelaku, namun belum sampai terjadi kekerasan fisik pada tahap ini.
Malam harinya, ibu korban mendatangi ibu pelaku untuk menanyakan persoalan yang terjadi sebelumnya.
Namun, situasi justru makin memanas karena perbedaan versi soal kejadian antara anak-anak mereka.
Tidak lama kemudian, pihak pelaku diduga memanggil anggota keluarganya, termasuk seorang pria yang kemudian menjadi tersangka utama dalam penyerangan.
Kedatangan Pelaku dengan Senjata
Pada Minggu malam, terduga pelaku yang datang bersama dua pamannya kembali ke lokasi kejadian.
Mereka membawa senjata tajam berupa mandau dan pisau.
Sesampainya di rumah korban, tanpa ada perselisihan yang jelas, terduga pelaku langsung menyerang korban.
Serangan terjadi saat korban berada di depan rumahnya di saat keluarga berada di sekitar lokasi.
Korban mengalami beberapa luka tusuk di bagian pinggang dan punggung akibat serangan tersebut.
Meski sempat mencoba berlari masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri, pelaku dan sejumlah anggota keluarga pelaku diduga terus mengejar dan mengeroyok korban hingga akhirnya terjatuh dan tidak berdaya.
Penyerangan Brutal
Saat itu, suaminya tidak mengetahui akan adanya serangan. Tiba-tiba, tiga orang pelaku datang dan langsung menyerang korban memakai senjata tajam secara brutal.
“Suami saya tidak tahu mau diserang. Tiba-tiba mereka bertiga langsung menyerang, mengejar, dan menusuk suami saya berkali-kali,” ungkapnya.
Ia mengaku menjadi saksi mata saat suaminya diserang hingga tak berdaya.
Anak Nia, Ferdi juga ikut menjadi korban setelah mencoba mendekat ke lokasi kejadian.
“Setelah bapaknya diserang, Ferdi juga kena. Lukanya parah,” katanya.
Nia menduga aksi tersebut telah direncanakan dan melibatkan lebih dari satu orang, termasuk sosok bernama Baim dan Linda.
Sebelum kejadian, sempat terjadi konflik terkait dugaan ejekan terhadap anak Nia yang berulang kali dilakukan oleh pihak pelaku.
Kemudian, hal itu memicu cekcok antarorang dewasa hingga hingga terjadilah peristiwa berdarah tersebut.
"Anak saya sering diejek dengan kata-kata kasar. Itu yang memicu awal masalah,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyebut adanya dugaan keterlibatan pihak lain yang berada di dalam rumah saat kejadian, yang menurutnya mengetahui rencana tersebut.
Bingung Penghidupan
Sebagai ibu rumah tangga, Nia mengaku kini kebingungan untuk melanjutkan hidup setelah kehilangan suami yang menjadi satu-satunya pencari nafkah.
"Sejak menikah saya tidak pernah bekerja. Semua dari suami. Sekarang kami bingung harus bagaimana,” katanya.
Kini, dia harus menghidupi anak-anaknya, termasuk yang masih sekolah dan balita.
Nia berharap pihak kepolisian dapat memberikan keadilan yang setimpal atas kematian suaminya.
Ia meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya atas perbuatannya.
“Saya minta keadilan. Pelaku dihukum seberat-beratnya. Apa yang mereka lakukan sudah merenggut nyawa suami saya dan hampir merenggut nyawa anak saya juga,” tegasnya.
Suasana Sepi Sekitar Rumah Korban
Suasana lingkungan di lokasi penusukan yang menewaskan Indra (41) di RT 10, Kelurahan Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, tampak lengang saat Tribun di sana, Minggu (3/5).
Lingkungan itu merupakan kawasan permukiman yang relatif sepi dan jarang dihuni.
Bahkan, rumah almarhum Indra Kusuma dan keluarganya tidak ada tetangga yang berhadapan langsung. Sementara di sisi kanan rumah juga tidak terdapat hunian warga.
Hanya terdapat satu rumah warga di sebelah kiri yang menjadi tetangga terdekat korban.
Suasana di sekitar lokasi pun sunyi. Aktivitas warga sangat minim.
Saat tim Tribunjambi mencoba mencari keterangan tambahan dari warga sekitar, tidak banyak warga yang dapat ditemui di lokasi.
Beberapa rumah tampak tertutup. Tidak terlihat aktivitas warga di luar rumah.
Sepinya lingkungan tersebut diduga menjadi salah satu faktor minimnya saksi mata di sekitar lokasi kejadian saat peristiwa penusukan berlangsung.
Pak RT Kecewa Lingkungan Tercoreng
Lingkungan RT 10, Kelurahan Pinang Merah, yang selama ini dikenal tenang dengan adanya gotong royong dan siskamling, mendadak ramai akibat penusukan yang merenggut nyawa Indra Kusuma.
Ketua RT 10, Zulkarnus (40), menuturkan Indra merupakan warga yang aktif bermasyarakat. Dia kerap hadir dalam kegiatan gotong royong dan ronda malam.
Adanya peristiwa tersebut mengejutkan sekaligus menyisakan rasa kehilangan bagi warga sekitar.
Sementara itu, pelaku penusukan, menurut Zulkarnus, bukan warga setempat dan tidak dikenalnya.
"Sepengetahuan kami, saya tidak mengenal pelakunya itu orang dari mana. Apakah saling kenal atau tidak, kami juga tidak tahu," jelasnya, Selasa (5/5).
Dia menyesalkan kejadian tersebut, terlebih informasi yang diterimanya menyebut insiden diduga dipicu persoalan sepele.
"Sangat kita sayangkan. Kalau benar bermula dari masalah kecil, apalagi sampai menghilangkan nyawa, tentu masyarakat jadi resah," katanya.
Zulkarnus berharap kejadian serupa tidak terulang dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat penegak hukum.
Adik Korban Lapor
Zulkarnus mendapat kabar penusukan itu seusai menunaikan salat Magrib, Minggu (27/4).
Saat itu, dia baru saja keluar dari masjid dan berada di parkiran, sebelum berjalan pulang ke rumah.
"Sesampai saya di teras rumah, datang salah satu keluarga korban menyampaikan bahwa adik beliau yang bernama Indra itu kena tikam," kata Zulkarnus saat ditemui di rumahnya, Selasa (5/5).
Zulkarnus diajak kakak korban menuju rumah sakit. Korban, Indra Kusuma, saat itu telah lebih dulu dibawa warga ke RSUD Abdul Manap.
Zulkarnus berboncengan kakak korban, Nurdi Akbar, sementara korban diangkut menggunakan mobil warga.
"Setelah sampai di rumah sakit, kami memastikan rupanya korban sudah tidak bernyawa lagi," ujarnya lirih.
Pantauan Tribun Jambi di lokasi, lokasi permukiman tempat kejadian berjarak sekira 3,7 kilometer dari Jalan Lingkar Barat. Sementara jarak ke rumah ketua RT sekitar 2 kilometer.
Suasana lingkungan masih tampak asri dengan pepohonan di sepanjang jalan. Namun pascakejadian, kawasan TKP terlihat sepi, hanya beberapa warga yang beraktivitas.
Polisi Masih Proses
Kapolsek Kotabaru, Kompol Helrawaty Siregar, mengatakan selain fokus proses hukum, polisi memperhatikan kondisi psikologis keluarga korban yang mengalami trauma berat usai kejadian tersebut.
“Untuk kondisi keluarga korban, saat ini sudah mulai membaik setelah dilakukan pendampingan trauma healing oleh Tim Psikologi dari Polda Jambi. Namun, pemulihan masih terus berjalan dan tetap dalam pendampingan,” ujar Helrawaty.
Pendampingan tersebut terutama difokuskan kepada anak korban yang masih balita dan menyaksikan langsung peristiwa penusukan.
Di sisi lain, Helrawaty memastikan proses penyelidikan kasus ini masih terus berlanjut. Polisi masih melakukan pengembangan untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat.
"Benar, penyelidikan masih terus berjalan. Saat ini kami masih melakukan pengembangan dan memburu satu orang pelaku lainnya yang masih dalam pengejaran," tegasnya, Minggu (3/5).
Sebelumnya, dua orang terduga pelaku berinisial RG dan DH telah diamankan oleh Unit Reskrim Polsek Kotabaru dan kini tengah menjalani pemeriksaan intensif.
Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat penegak hukum. (Tribun Jambi/Rifani Halim/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Mahasiswa Asal Jambi Raih Ki Hajar Dewantara Award di Moskow, Teguh Imanullah 10 Tahun di Rusia
Baca juga: Besok Menteri Kesehatan ke Jambi, Kematian Dokter di RSUD KH Daud Arif Ada yang Janggal?