TRIBUNMATARAMAN.COM, NGANJUK - Pembangunan Rumah Singgah dan Museum Marsinah telah tuntas.
Beragam koleksi perjalanan hidup Pahlawan Nasional Marsinah terpajang di museum.
Keluarga Marsinah, Marsini dan Wijiati, mengaku punya keterikatan dengan benda-benda tersebut.
Koleksi itu menyimpan kisah yang sampai kini tetap melekat dalam ingatannya.
Baca juga: Melihat Lebih Dekat Bangunan Museum Marsinah di Nganjuk yang Bakal Diresmikan Presiden Prabowo
Adik Marsinah, Wijiati mengatakan dirinya sempat menengok bangunan dan isi museum beberapa hari lalu.
Wijiati bertandang ke sana setelah menghadiri peresmian Monumen Marsinah di area makam, Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
"Bermacam koleksi mbak Marsinah sudah ada di museum," katanya kepada Tribun Jatim Network, Selasa (5/5/2026).
Dari deretan koleksi itu, pandangannya terpusat pada pakaian blazer krem. Atasan tersebut kerap dikenakan oleh Marsinah.
Termasuk ketika Marsinah menghadiri acara resepsi pernikahan Wijiati dengan sang suami di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, tahun 1993.
"Mesti, begitu melihat lagi pakaian tersebut, saya jadi ingat momen mbak Marsinah datang ke resepsi saya," jelasnya.
Wijiati mengungkap kebanggaannya Rumah Singgah dan Museum Marsinah terbangun.
Dia juga berterima kasih kepada Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea atas perannya dalam pembangunan rumah singgah dan museum.
"Bangunan rumah singgah dan museum megah sekali. Saya sebagai keluarga senang dan bangga," ucapnya.
Baca juga: Soft Launching Galeri DIKTA SuaR, Mbak Cicha: Dukungan Pemkab Kediri untuk Disabilitas Mandiri
Kakak Marsinah, Marsini menyebut koleksi yang tersedia di museum, meliputi pakaian, tas jinjing, tikar serat untuk taplak meja, rantang, ijazah, piagam, foto, dan sepeda ontel.
Barang pribadi Marsinah, terlebih baju, selama ini dia yang menjaganya.
"Baju itu saya taruh di lemari. Pindah-pindah rumah saya bawa dan rawat. Tersimpan rapi sekitar 32 tahun. Rantang dipakai membawa bontotan makanan Marsinah," sebutnya.
"Sementara tas, itu juga milik Marsinah. Dulu dia pernah berjualan tas tatkala bekerja di Sidoarjo. Pabrik tempat dia bekerja, di Porong, Sidoarjo, dekat Tanggulangin, pusat kerajinan," tambahnya.
Namun, bagi Marsini, ada satu benda peninggalan yang paling tak terlupakan. Benda itu, yakni sepeda onthel.
Ia bercerita, sepeda onthel digunakan temurun, mulai dia berlanjut ke Marsinah.
"Sepeda onthel awalnya orang tua beli baru untuk saya. Kemudian, setelah saya lulus sekolah, sepeda itu dipakai adik (Marsinah)," urainya.
(Danendra Kusuma/TribunMataraman.com)