BREAKING NEWS Beli Pertalite Pertamax di Palangka Raya Kalteng Dibatasi, ini Pesan Fairid Naparin
Nia Kurniawan May 05, 2026 09:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM - RESMI Pemerintah Kota Palangka Raya membatasi pembelian Pertalite dan Pertamax lengkap aturan baru, hal tersebut melalui surat edaran tertanda Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, Selasa (5/5/2026).

Ya, hal ini agar menjadi perhatian masyarakat di Palangka raya, surat edaran terkait pembatasan penjualan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah setempat.

Baca juga: Kenaikan Harga BBM, Sejumlah SPBU di Palangka Raya Tambah Jam Operasional Antisipasi Antrean Panjang

Surat edaran juga disebar ke pengelola SPBU di wilayah Palangka Raya. Berikut isi lengkap surat edaran dengan nomor 500.2.1/198/DPKUKMP-Bid.1/V/2026 tentang pembatasan penjualan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan non subsidi.

Disebutkan bahwa sehubungan dengan penyesuaian harga jual Bahan Bakar Khusus (BBK) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diwilayah Kalimantan Tengah Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non subsidi, serta melihat kondisi dan dinamika yang terjadi untuk pemerataan dalam penyaluran/distribusi.

Maka dirasa perlu untuk mengambil langkah- langkah strategis menyikapi pengaturan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) dan Pertamax nonsubsidi.

Lebih rinci disebutkan sebagai berikut: 

1. Melakukan pembatasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non subsidi kepada konsumen/pengendara dengan rincian :

Ya, khusus pengisian kendaraan bermotor roda 4 (empat) saat pembelian Pertalite tentu wajib menggunakan QR Code melalui sistem Subsidi Tepat MyPertamina) maksimal cuma Rp. 200.000.

Kemudian pembelian Pertamax maksimal Rp. 400.000.

2. Pengisian kendaraan bermotor roda 2 (dua)

Khusus kendaraan bermotor roda dua, pembatasan Pertalite maksimal Rp 50.000.

Kemudian Pertamax maximal Rp. 100.000.

Aturan yang tak kalah penting diinformasikan dari surat edaran tersebut, tidak diperbolehkan melayani pengisian kendaraan bermotor roda 4 (empat) dan roda 2 (dua) yang menggunakan tangki modifikasi dan pengisian berulang-ulang.

Ditegaskan juga agar pihak SPBU tidak melayani pembelian dengan jerigen/drum yang digunakan untuk diperjual belikan kembali (pengecer), namun masih dapat diperbolehkan untuk sektor pertanian dan perikanan dengan syarat melampirkan rekomendasi perangkat daerah terkait.

Aturan berikutnya, kendaraan dinas plat merah tidak boleh melakukan pengisian BBM Pertalite (JBKP) dan Biosolar (JBT), kecuali ambulance, mobil jenasah dan kendaraan pengangkut sampah milik Pemerintah Daerah.

Dari surat edaran, diharapkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dapat mensosialisasikan pengaturan pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui media cetak (spanduk) dimasing-masing Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diwilayah Kota Palangka Raya.

Antre di SPBU

Hari ini, Selasa 5 Mei 2026. Selain naiknya harga BBM kini diperparah dengan kelangkaan sejumlah jenis BBM, termasuk Pertamax yang hampir tak tersedia alias kosong di SPBU.

Ya, di depan SPBU ada plang yang bertuliskan Pertama dalam pengiriman.

Pantauan Tribunkalteng.com, puluhan kendaraan tampak mengular di sejumlah SPBU di Palangka Raya Selasa (5/5/2026). Kondisi ini dikeluhkan warga, karena harus mengantre dan mengganggu pekerjaan.

Antrean panjang juga terlihat di SPBU Jalan Imam Bonjol, Palangka Raya atau di depan Kantor Kejati Kalteng, Jalan G Obos, hingga Jalan Diponegoro, baik roda 2 dan 4.

Hanafi (47), satu antara warga yang mengantre mengaku, ia sudah menunggu selama kurang setengah jam. Itu pun belum masuk ke gerbang SPBU.

"Kalau sampai masuk ke dalam nanti mungkin bisa sampai satu jam," ujar Hanafi, saat ditemui di SPBU Jalan Imam Bonjol.

Saat mengantre, Hanafi yang mengemudikan mobil bak terbuka itu, juga sedang membawa sejumlah perabotan rumah yang harus segera di antara ke toko.

"Ini saya bawa dari gudang dan harus di antar ke toko, kalau antrean panjang seperti ini yang menyulitkan kami," kata dia.

Hanafi menyebut, perabotan yang dibawanya itu mesti buru-buru di antar ke toko, karena ia harus segera melanjutkan perjalanan ke Kasongan.

Ia juga tak menyangka antrean di SPBU di Palangka Raya bisa begitu panjang, sehingga pekerjaannya terhambat.

"Kalau di Banjarmasin saya lihat tidak seperti ini antreannya, kita di Palangka Raya ini saja," ucap Hanafi.

Keluhan karena pekerjaannya terganggu juga disampaikan Ahmad Salapudin (35), satu di antara driver ojol di Palangka Raya.

Ahmad mengatakan, selama mengantre ia harus mematikan aplikasi ojek online agar tak ada ada pesanan masuk.

"Kalau ada pesanan masuk dan dikonfirmasi sistem, sementara saya lagi antre, menunggunya juga jadi lebih lama," ungkapnya.

Antrean panjang di SPBU ini juga membuat Ahmad serba salah, jika mengambil orderan dan memaksakan membeli BBM di eceran, keuntungan dari ongkos kirim tak seberapa.

Sementara jika harus menunggu hingga satu jam, pendapatan Ahmad tentu akan berkurang.

Ahmad menyebut, sebelum mengantre di SPBU di Jalan Imam Bonjol ia telah berkeliling di SPBU lainnya.

"Tadi di Jalan dr Murjani sudah lama antre ujungnya habis juga," tandasnya.

Pertamax Kosong

Sejumlah SPBU di Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir terlihat mengalami kekosongan BBM jenis Pertamax. 

Kondisi ini berdampak pada meningkatnya antrean kendaraan di SPBU, terutama pada pengisian Pertalite, bahkan hingga memakan badan jalan.

Berdasarkan pantauan TribunKalteng.com di lapangan, antrean panjang terjadi di sejumlah titik, khususnya pada jam-jam sibuk. 

Selain di SPBU, kelangkaan juga mulai dirasakan di tingkat pedagang eceran, di mana stok Pertamax maupun Pertalite diketahui kosong.

Menanggapi kondisi tersebut, Sales Area Manager Retail Kalteng PT Pertamina Patra Niaga, Donny Prasetya memastikan, stok Pertamax sebenarnya tersedia, namun terjadi keterlambatan dalam proses distribusi.

“Untuk stok Pertamax tersedia, namun ada sedikit keterlambatan distribusi karena sebagian pengiriman melalui Fuel Terminal BBM di Banjarmasin, sehingga waktu distribusi menjadi lebih panjang,” ujarnya saat dikonfirmasi TribunKalteng.com, Selasa (5/5/2026).

Saat ditanya kapan kondisi tersebut akan kembali normal, pihaknya belum dapat memastikan.

Ia mengatakan, saat ini tengah diupayakan percepatan distribusi agar pasokan BBM di Palangka Raya segera kembali normal.

“Insya Allah kami usahakan percepatan pengiriman lebih awal, sehingga secepatnya bisa selesai,” katanya.

Sebagai informasi, harga BBM yang tertera pada papan informasi di sejumlah SPBU di Palangka Raya, menunjukkan Pertamax Turbo Rp20.350 per liter, Pertamax Rp12.600 per liter, Pertalite Rp10.000 per liter, dan Dexlite Rp26.600 per liter. 

Sementara itu, mengacu pada informasi resmi PT Pertamina (Persero), harga Pertamina Dex juga mengalami penyesuaian menjadi Rp28.500 per liter.

Penyesuaian harga ini berlaku secara nasional, termasuk di wilayah Palangka Raya.

Jika dibandingkan dengan harga sebelumnya yang berlaku sejak 18 April 2026, kenaikan kali ini terlihat cukup signifikan, terutama pada kelompok solar non-subsidi.

Dexlite naik Rp2.450 dari Rp24.150 menjadi Rp26.600 per liter. Pertamina Dex mencatat kenaikan paling tinggi, yakni Rp4.050 dari Rp24.450 menjadi Rp28.500 per liter. 

Sementara Pertamax Turbo naik lebih moderat sebesar Rp500, dari Rp19.850 menjadi Rp20.350 per liter.

Adapun Pertamax dan Pertalite tidak mengalami perubahan harga pada penyesuaian kali ini.

(tribunkalteng.com/tim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.