Kenang Nanda Sebelum Anak Tewas Kecelakaan di Silayur Semarang: Ar Rasya Minta McD
deni setiawan May 06, 2026 01:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Insiden kecelakaan di Kawasan Silayur, Jalan Prof Dr Hamka, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (4/5/2026) menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.

Duka itu dirasakan Nanda Tiarawati (25), warga Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang kehilangan anak satu-satunya, Ar Rasya Devinka Putri Azzah (5).

Nanda masih mengingat betul akhir pekan sebelum kecelakaan yang menewaskan anaknya.

Dia menyebut, dua hari sebelum kejadian, masih menghabiskan waktu bersama Rasya.

Baca juga: Duka Beruntun Markonah, Rumah di Kalialang Semarang Rusak Imbas Longsor, Cucu Tewas Kecelakaan

• Bukti Terbaru Kasus Viral Video Asusila di Batang, Dijual Pacar Korban Seharga Rp220 Juta

"Minggu kami nonton festival balon udara di Tembalang. Terus malamnya pulang ke rumah bapak," kata Nanda, Selasa (5/5/2026).

Saat itu tidak ada hal yang terasa berbeda dari rutinitas keluarga. Bahkan setelah kegiatan akhir pekan, dia sempat mempertimbangkan untuk meliburkan anaknya dari aktivitas sekolah.

"Pikirnya Senin mau saya ajak libur sekolah, mau ke rumah pamannya karena minta dikunjungi. 'Sore ya Dik, nanti sore' minta," ujarnya.

Di sela rencana itu, Nanda menyebut anaknya juga sempat meminta hal sederhana untuk makan makanan kesukaan.

"'Nanti kalau mau makan McD dibungkus, nanti beli,'" ujarnya mengingat permintaan makanan kesukaan anaknya.

Menurut Nanda, Senin (4/5/2026) pagi mereka berangkat sekira pukul 10.00 menggunakan sepeda motor bersama ayahnya atau kakek dari Ar Rasya.

Perjalanan itu, katanya, seperti perjalanan biasa yang sering dilakukan.

"Pukul 10.30 kecelakaan," ungkapnya.

Dia mengingat mereka berboncengan bertiga saat itu. Tidak ada yang menurutnya terasa janggal sebelum kejadian.

"Enggak ada apa-apa, jalan biasa. Enggak turunan, jalan biasa," kata Nanda.

Kecelakaan terjadi di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan ketika motor yang ditumpangi tiga orang tersebut terlibat kecelakaan dengan truk ringan tanpa muatan.

"Hari apes tidak ada di kalender. Bapak saya di depan, anak saya di tengah saya pegangi, saya di belakang," ungkapnya.

Rumah Terdampak Longsor

TERDAMPAK LONGSOR - Insiden tanah longsor terjadi di RT5/RW1 Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang. Tercatat, sebanyak tiga unit rumah terdampak dan menimbulkan sebagian bangunan roboh.
TERDAMPAK LONGSOR - Insiden tanah longsor terjadi di RT5/RW1 Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang. Tercatat, sebanyak tiga unit rumah terdampak dan menimbulkan sebagian bangunan roboh. (TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah)

Sementara itu, Nanda juga harus menerima kenyataan pahit terkait rumah yang dihuni bersama keluarganya. Rumah milik mertuanya yang dihuni bersama suami dan mertua tersebut terdampak tanah longsor bertahap sejak awal Mei 2026. 

Retakan dan pergerakan tanah membuat kawasan itu berbahaya untuk dihuni.

Nanda memilih sementara waktu kembali ke rumah orangtuanya di Semarang Utara.

Dia meninggalkan rumah mertuanya yang kini dalam kondisi terancam.

"Saya pulang ke rumah Bapak dulu, di Semarang Utara. Belum mau di sini. Saya mau menenangkan diri di sana," ungkapnya.

Baca juga: Terbongkar, Modus Love Scam Berkedok Investasi di Purworejo, Rp452 Juta Lenyap

• 3 Jam KPK Periksa Plt Bupati Cilacap, Ammy Bersumpah Tak Tahu Modus Pemerasan Koleganya

Nanda mengungkapkan, mulai tinggal di Kalialang Lama sejak 2019, setelah menikah.

Dia mengaku, tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum dia menetap di sana.

"Awal-awal rumah yang belakang itu hilang. Itu ada rumah satu. Cuma saya belum ke sini sudah hilang."

"Jadi pas ke sini sudah ada rumah. Ternyata tidak tahunya merembet-merembet,. Ini turun masih 15 meter. Jauh sebenarnya," ceritanya.

Saat longsor terbaru terjadi, Nanda sedang bekerja. Dia mengetahui kondisi tersebut dari media sosial dan warga sekitar, lalu segera kembali untuk menyelamatkan barang-barang penting.

Dia pun sempat mengamankan kebutuhan anaknya, termasuk seragam sekolah di tengah kekhawatiran longsor susulan.

"Sudah apa-apa tak ambil. Seragamnya juga tak bawa. Masih kotor tak cuciin. Terus bilang minta tas, tasnya rusak," ujarnya.

Di tengah situasi sulit, Nanda hanya berharap perhatian dari pemerintah. Bukan semata bantuan materi, tetapi kehadiran yang dirasakan langsung oleh warga terdampak.

"Sebenarnya kami cuma mau diperhatikan, dikunjungi," ucapnya.

Nanda sehari-hari bekerja di sebuah cafe di kawasan Gombel, Kecamatan Banyumanik.

"Sementara saya izin cuti sampai membaik," ungkapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.