Tentang Akal Manusia dan Binatang
Abdul Azis Alimuddin May 06, 2026 01:21 AM

Oleh: Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita seharusnya mengenali lebih jauh binatang agar kita faham.

Bukan karena kita hendak menandingi dokter hewan.

Bukan pula karena kita kurang kerjaan.

Bukan juga karena keperluan untuk ternak lalu menghasilkan uang.

Bukan juga karena faktor gaya hidup, seperti orang-orang besar yang hobby memelihara binatang.

Bukan karena itu semua kita harus faham akan binatang.

Tapi agar kita tahu perbedaan kita (sebagai manusia) dengan binatang.

Ini urusan perkaran besar yang selalu dikecilkan.

Selalu disepelekan.

Padahal ini urusan penting.

Mengapa penting?

Karena kita jarang bertanya pada diri sendiri; benarkah kita manusia?

Jangan-jangan hanya kita yang mengaku-mengaku sebagai manusia.

Atau jangan-jangan hanya kita yang merasa sebagai manusia.

Jangan-jangan hanya karena kita bisa makan-minum lalu merasa sebagai manusia?

Binatang juga makan dan minum bukan?

Atau jangan-jangan hanya karena kita dapat mencari makan hingga kita merasa manusia?

Tapi bukankah binatang juga pandai mencari makanan pula?

Lantas, dengan apa kita disebut manusia?

Baik sains maupun agama (khususnya Islam) sama-sama menunjuk “akal” sebagai pembeda pokok yang mendasar antara manusia dan binatang.

Dalam pandangan sains, khususnya neurosains dan psikologi kognitif, “akal” didefinisikan sebagai kemampuan berpikir kompleks yang dihasilkan dari aktivitas biologis dan elektrokimia otak manusia.

Kalimat “Kemampuan berfikir” disitu memaknakan bahwa “akal” bukanlah organ material.

Ia sesuatu yang abstrak, namun nyata terasa.

Dalam Islam, akal didefinisikan sebagai daya rohaniah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia untuk memahami, menganalisis, serta membedakan antara yang benar (haq) dan yang salah (batil).

Akal berfungsi untuk memperoleh ilmu dan membimbing manusia menuju kebaikan.

“Daya rohaniah”, “memahami”, dan “menganalisis” diatas menunjukkan pula bahwa “akal” bukanlah organ material.

Ibnu Sina mempertegasnya lagi, bahwa akal adalah substansi rohaniah.

Secara etimologis akal berakar dari kata “al-imsak” yang berarti mengikat/menahan.

Fungsi akal dalam pengertian ini sebagai tali pengikat atau pengendali abstarak yang menahan manusia dari dorongan hawa nafsu yang menyesatkan dan perilaku tercela.

“Sebagai tali pengikat” diatas menunjukkan bahwa manusia punya potensi kuat bersifat buas, bringas, liar dan anatagonis.

Akallah yang menahan/mengikat potensi sifat negatif itu sekaligus mengarahkannya agar manusia berlaku baik.

Dan inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

Binatang tak dibekali “al-imsak” (pengendali), itu karenanya binatang punya watak dasar liar, bringas, tak jinak dan posisinya jauh dibawah level manusia.

Namun bila manusia bringas, tak terkendali seringkali diassosiasikan sebagai binatang.

Mengapa? Karena akalnya tak berfungsi.

Dengan mengaktifkan akallah manusia menjadi manusia, bukan sebagai binatang.

Al-Qur’an telah menyampaikannya.

Kata akal dalam Al-Qur’an disebut kurang lebih 49 kali sebagai “kata kerja” yaitu ‘aqala, ya’qilun, ‘aqalu, ta’qilun, na’qilu, dan ya’qilu.

Penyebutan akal sebagai kata kerja bermakna bahwa akal harus diaktifkan—difungsikan sebagaimana seharusnya.

Lalu bagaimana cara mengaktifkan akal?

Akal harus diusahakan menyerap sumber-sumber kebenaran, sumber kebaikan dan moral.

Solusinya adalah pelajarilah kitab suci keyakinanmu, kitab kebudayaanmu, dan kitab kebangsaanmu, sebab disitu tertera kebenaran, kebaikan, dan moralitas dengan terang.

Dengan demikian, indikator keberfungsian atau aktifasi akal bukanlah kecerdasan.

Sebab kecerdasan adalah produk otak.

Otak adalah organ, sementara akal non-organ.

Indokator keberfungsian akal adalah lahirnya produk kebaikan-kebenaran-moralitas dalam berpikir dan bertindak seseorang.

Akal adalah sarang kebaikan, kebenaran, dan moral positif.

Itulah karenanya, banyak manusia cerdas, tetapi tak berakal sebab kecerdasannya digunakan untuk merusak/merugikan  mahluk lain atau alam semesta demi ambisi tinggi bendawi, demi jabatan, demi balas dendam-kedengkian, dan hal-hal negatif lainnya.

Para koruptor tergolong orang-orang cerdas, alumni sekolahan, sayangnya tak berakal.

Benarkah kita manusia?

Periksalah akalmu setiap saat dimanapun kau berada.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.