Lawan Stigma 'Sok Intelek', Wacan Urakan Trenggalek Konsisten Gelar Lapakan Buku di Ruang Publik
Sudarma Adi May 06, 2026 03:14 AM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Madchan Jazuli 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Sekelompok anak muda di Kabupaten Trenggalek yang tergabung dalam kolektif 'Wacan untuk Kerakyatan' atau lebih dikenal sebagai 'Wacan Urakan' terus konsisten menghidupkan geliat literasi melalui lapakan buku di ruang publik.

Gerakan ini hadir sebagai bentuk intervensi sosial untuk mematahkan stigma negatif terhadap aktivitas membaca di tempat umum.

Pegiat Wacan Urakan Trenggalek, Huzein Ridho, menjelaskan geliat ini dikelola secara sukarela tanpa adanya struktur organisasi formal.

Baca juga: Serunya Nonton Balap Dayung Nelayan Karanggongso Trenggalek, Bentuk Wujud Syukur Masyarakat 

Ia menegaskan di dalam komunitas tersebut tidak mengenal jabatan. Baik ketua, sekretaris, maupun bendahara guna menjaga kesetaraan antar anggota.

"Kami berjalan tanpa struktur organisasi formal dan menolak sistem hierarkis serta budaya senioritas. Kami ingin membangun ruang belajar yang setara bagi semua orang," ujar Huzein saat ditemui di sela-sela aktivitas lapakan bukunya, Selasa (5/5/2026).

Mengenai ketersediaan pustaka, Huzein mengungkapkan bahwa seluruh buku yang mereka kelola merupakan hasil sumbangan masyarakat. Baik dari warga lokal Trenggalek maupun donatur dari luar daerah. 

Pada masa awal perintisan, koleksi buku didapatkan dengan cara meminjam milik rekan-rekan terdekat.

Namun, seiring berjalannya waktu, dukungan publik terus mengalir sehingga koleksi buku kini telah bertambah signifikan. Pihak Wacan Urakan tetap membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mendonasikan buku, tenaga, maupun gagasan untuk memperluas akses pengetahuan.

"Termasuk tujuan utama dari gerakan ini adalah menormalisasi kegiatan membaca di ruang publik. 

Menurut Huzein, di banyak lingkungan sosial di Indonesia, membaca buku di tempat umum masih sering dianggap sebagai perilaku yang asing atau bahkan mendapat label negatif.

"Membaca di ruang publik masih berpotensi dianggap terlalu serius atau dicap sok intelektual. Melalui perpustakaan jalanan ini, kami berupaya menjadikan membaca sebagai perilaku yang normal dan diterima secara kolektif," bebernya.

Ia menilai individu sering kali bertindak berdasarkan norma sosial atau aturan tidak tertulis di lingkungannya. 

Oleh karena itu, hadirnya lapakan buku di trotoar atau taman kota diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat agar memandang aktivitas literasi sebagai hal yang wajar dan inklusif.

Baca juga: Nekat Curi Gerobak di Ponorogo, Dua Pelaku Diringkus di Trenggalek, Sempat Terekam CCTV

Pentingnya Nalar Kritis di Era Digital

Aktivitas literasi jalanan ini mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan, salah satunya dari aktivis Saga Tanjung. Ia mengaku senang melihat geliat literasi di Trenggalek yang tetap tumbuh di tengah gempuran teknologi.

Beni menekankan bahwa membaca adalah instrumen utama dalam memupuk nalar kritis. Ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap generasi muda saat ini yang cenderung terbuai oleh arus teknologi digital hingga melupakan kualitas kedekatan dengan teks bacaan.

"Membaca merupakan jendela dunia. Tanpa membaca, kita akan kehilangan arah," ujar Saga Tanjung.

Ia menambahkan teknologi sering kali menjauhkan individu dari waktu berkualitas' yang intim dengan buku.

Baginya, kehadiran komunitas seperti Wacan Urakan sangat penting untuk memastikan nalar kritis tetap terjaga dan ruang publik tetap berfungsi sebagai ruang tumbuh bersama bagi seluruh lapisan masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.