BANJARMASINPOST.CO.ID- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali terjadi per 4 Mei 2026. Pemerintah melakukannya karena konflik di Timur Tengah belum juga mereda.
Setelah naik pada 28 April 2026, harga Pertamax Turbo kembali berubah dari Rp 20.250 per liter menjadi Rp 20.750. Pertamina Dex dari Rp 24.950 menjadi Rp 29.100 dan Dexlite dari harga Rp 24.650 menjadi Rp 27.150.
Sedangkan BBM lain tidak ada perubahan, yaitu jenis Pertalite tetap Rp 10.000 per liter, Pertamax Rp 12.900 dan Biosolar Rp 6.800.
Dari pantauan di SPBU Basirih Banjarmasin, jalur pengisian Dexlite tampak sepi. Sebaliknya, antrean panjang terlihat di jalur Biosolar.
Baca juga: Harga Dexlite, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex Naik Lagi, Banjarmasin Kurangi Jatah BBM Truk Sampah
“Orang banyak beralih ke Biosolar karena lebih murah ketimbang Dexlite. Apalagi sekarang harganya sampai Rp 27 ribu, makin bengkak saja biaya,” ujar Samani, sopir pikap bermesin diesel, Senin (4/5).
Hal serupa juga terlihat di SPBU S Parman Banjarmasin. Meski stok Dexlite disebut aman, jalur pengisian terlihat kosong.
“Kenaikan terjadi malam tadi yah. Kalau stok alhamdulillah ada, cuma karena naik jadi sepi yang antri,” kata Yandi, pengawas SPBU S Parman.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang cukup drastis membuat sebagian besar warga memilih beralih ke BBM subsidi demi menekan pengeluaran.
“Kalau pakai Dexlite banyak sekali pengeluarannya, tak sebanding dengan keuntungan. Makanya saya beralih ke Biosolar,” ungkap Odi, sopir truk towing.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Selatan, Hj Shinta Laksmi Dewi SE, mengungkapkan kenaikan harga BBM yang sangat tajam sangat memberatkan pengusaha
. Hal tersebut mengakibatkan inflasi. Naiknya harga barang selanjutnya menurunkan daya beli dan belanja modal.
“Menurunnya produktivitas menjadi masalah bagi kelangsungan industri yang berisiko pada pemutusan hubungan kerja (PHK),” katanya, Selasa (5/5/2026)
Diakui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalsel, Winardi Sethiono, ketegangan global mendorong kenaikan biaya bahan bakar di seluruh dunia, dengan efek domino yang sangat memukul pelaku bisnis.
“Pelaku usaha akan cooling down, serta melakukan efisiensi seketat mungkin demi menjaga kelangsungan usaha, serta tidak menutup kemungkinan merumahkan tenaga kerja yang kurang produktif,” tandasnya.
Baca juga: Ungkap Penyelewengan BBM dan Elpiji Bersubsidi, Kapolda Kalsel: Tindak Tegas Bila Ada Oknum Nakal
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi adalah bagian dari mekanisme pasar yang mengikuti perkembangan harga global.
“Namun sebagai BUMN yang menjalankan mandat strategis negara, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata, tetapi juga memperhatikan kondisi terkini di masyarakat, daya beli pelanggan golongan pengguna BBM Non Subsidi, serta stabilitas nasional,” ujar Roberth, Selasa. (sai/dea/kompas)