Kepiting memiliki bentuk tubuh pipih dan cara jalan yang unik miring. Namun, dari mana asal muasal cara jalan kepiting?
Sebuah studi yang terbit di jurnal eLife pada 21 April 2026 menemukan bahwa jalan miring pada kepiting berkaitan dengan evolusi mereka. Uniknya, bentuk tubuh kepiting diperkirakan berkaitan dengan evolusi hewan purba pada masa lalu.
Peneliti memiliki teori bahwa hewan lain banyak yang melewati fase tubuh berbentuk seperti kepiting. Ini disebut dengan karsinisasi ).
Karsinisasi adalah gagasan bahwa bentuk tubuh seperti kepiting telah muncul pada hewan berkali-kali melalui evolusi konvergen, di mana fitur serupa muncul secara independen pada spesies yang tidak berkerabat dekat. Kata ini pertama kali dicetuskan oleh ahli zoologi Inggris Lancelot Alexander Borradaile pada tahun 1916 yang mendefinisikannya sebagai "salah satu dari banyak upaya alam untuk mengembangkan kepiting"
Cetak biru tubuh mirip kepiting ini diperkirakan telah berkembang setidaknya lima kali dalam sejarah makhluk hidup, sebuah fenomena evolusi yang disebut karsinisasi. Bukan cuma di perairan, bentuk tubuh andalan ini juga menular pada jenis hewan darat, mulai dari laba-laba kepiting hingga kutu kemaluan.
Gerak Menyamping ala Kepiting
Studi terbaru dari Universitas Nagasaki di Jepang menemukan bahwa rancangan tubuh kepiting itu berevolusi berkali-kali pada hewan yang berbeda. Faktanya, cara jalan miring mereka ternyata sangat langka dan tercatat hanya berevolusi satu kali.
"Peristiwa tunggal ini sangat kontras dengan karsinisasi, yang telah terjadi berulang kali di berbagai spesies dekapoda," kata Yuuki Kawabata, penulis utama dari Universitas Nagasaki di Jepang, dikutip dari IFL Science.
"Ini menyoroti bahwa meskipun bentuk tubuh dapat mengalami konvergensi berkali-kali, perubahan perilaku seperti berjalan menyamping bisa jadi jarang terjadi," imbuhnya.
Secara sederhana, rancangan tubuh kepiting dianggap sebagai cetak biru (blueprint) yang sangat efektif untuk bertahan hidup. Tubuhnya yang lebar dan pipih berfungsi layaknya benteng atau tank kokoh yang melindungi mereka dari serangan predator.
Bentuk fisik ini juga memungkinkan mereka untuk bergerak cepat dengan menyelinap ke bawah batu atau masuk ke celah-celah sempit yang sulit dijangkau hewan lain.
Selain itu, sepasang capit yang kuat memberikan kemampuan ganda bagi spesies ini: untuk menangkap mangsa, menghalau penyerang, hingga menjadi jangkar agar tubuhnya tetap stabil di satu posisi. Sementara itu, kaki-kakinya yang ramping membuat mereka bisa bergerak dengan lincah dan gesit.
Para peneliti mengungkapkan bahwa cara jalan miring yang ikonik tersebut hanya berevolusi satu kali dalam sejarah, kemungkinan besar berasal dari satu nenek moyang bersama yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu.
Manfaat Jalan Miring pada Kepiting
Untuk mendapatkan kesimpulan tersebut, Kawabata dan tim melakukan penelitian mendalam dengan merekam pergerakan 50 spesies kepiting sejati. Data tersebut kemudian dicocokkan dengan data genetik dari 344 spesies krustasea.
Dari 50 jenis kepiting yang dipelajari, ditemukan sebanyak 35 spesies berjalan menyamping dan 15 spesies lainnya berjalan maju.
Analisis mereka menunjukkan bahwa gerak horizontal atau jalan miring ini hanya muncul satu kali dari nenek moyang yang awalnya berjalan maju. Sejak saat itu, ciri khas tersebut tetap bertahan dan tidak banyak berubah selama jutaan tahun.
Mengapa cara jalan miring ini hanya muncul sekali dan tidak pernah berevolusi lagi pada kelompok lain masih menjadi misteri bagi para ilmuwan. Namun, peneliti menduga hal ini berkaitan dengan strategi bertahan hidup yang sangat efisien.
Gerakan menyamping yang tidak terduga dianggap mampu mengecoh dan membingungkan penyerang, sehingga memudahkan kepiting untuk melarikan diri dari ancaman predator.
"Hasil penelitian ini menyoroti bahwa jalan miring pada kepiting sejati adalah sifat inovatif yang langka dan kemungkinan berkontribusi pada kesuksesan ekologis mereka," pungkas Kawabata.




