Peneliti Muda China di Luar Negeri 'Pulang Kampung', Didukung Kebijakan
GH News May 06, 2026 11:09 AM
Jakarta -

Selama ini, banyak talenta terbaik dunia memilih berkarier di pusat teknologi global seperti Boston atau Silicon Valley, AS. Namun, tren terbaru menunjukkan pergeseran besar.

Para peneliti muda China yang menempuh studi di luar negeri kini berbondong-bondong pulang ke tanah airnya. Membawa ilmu dan teknologi, mereka berencana menggerakkan roda inovasi nasional.

Dilansir dari Xinhua, fenomena ini bukan sekadar kepulangan biasa, melainkan gelombang besar yang didorong oleh peluang pasar domestik dan dukungan kebijakan yang masif.

Data Kementerian Pendidikan China mencatat, pada tahun 2025 saja, terdapat 535.600 orang lulusan luar negeri yang kembali ke negaranya. Dari jutaan pelajar yang studi di luar negeri sejak 1978, sekitar 87 persen di antaranya baru memilih pulang setelah tahun 2012, bertepatan dengan ekspansi besar-besaran sektor teknologi China.

Pertimbangan Pulang dari AS

Sementara itu, dikutip dari laman Stanford Center on China's Economy and Institutions, terdapat sejumlah faktor yang mendorong ilmuwan kelahiran China di AS untuk pulang ke tanah air.

Salah satunya didorong Inisiatif China, yakni investigasi Departemen Hukum AS pads 2018-2022 untuk mengantisipasi mata-mata perekonomian dan kekayaan intelektual AS, serta mengurangi pengaruh China di AS.

Dalam studi Yu Xie dan rekan-rekan yang dipublikasi "Caught in the crossfire: Fears of Chinese-American scientists" dalam PNAS (2023), tim peneliti salah satunya menelusuri emigrasi ilmuwan bermarga China di AS berdasarkan perubahan afiliasinya ke kampus atau institusi riset luar AS di karya ilmiah masing-masing menggunakan database Microsoft Academic Graph.

Mereka mendapati, setelah implementasi Inisiatif China pada 2018, emigrasi ilmuwan kelahiran China yang berbasis di AS meningkat sebesar 75%. Sebelumnya pada 2010, para ilmuwan keturunan China yang meninggalkan AS antara lain pindah ke daratan China dan Hong Kong (48%), sisanya ke negara lain (52%).

Pada 2021, persentase ilmuwan yang pindah ke China meningkat menjadi 67%. Para ilmuwan yang pindah dari AS mayoritas dari bidang ilmu hayati, yakni lebih dari 1.000 orang pada 2021.

Hasil survei daring tim peneliti pada 1.304 ilmuwan keturunan China di AS pada Desember 2021-Maret 2022 menunjukkan sejumlah faktor ketidaknyamanan dan ketakutan yang mendorong eksodus mereka:

  • 35% ilmuwan Tionghoa di AS merasa tidak diterima
  • 72% merasa tidak aman sebagai peneliti akademis
  • 42% takut melakukan penelitian
  • 65% khawatir soal bekerja sama dengan China
  • 86% merasa lebih sulit merekrut mahasiswa internasional terbaik dibandingkan lima tahun lalu
  • 83% pernah mengalami penghinaan di lingkungan nonprofesional pada tahun sebelumnya.
  • Dosen teknik, ilmu komputer, dan ilmu hayati, penerima hibah federal, dosen senior, dan laki-laki lebih cenderung merasa takut melakukan penelitian di AS.

Mereka juga merasa tidak aman sebagai peneliti di AS, dengan rasa khawatir pada:

  • Penyelidikan pemerintah AS terhadap peneliti keturunan Tionghoa( 67%)
  • kebencian dan kekerasan anti-Asian di AS (65%)
  • Serangan pejabat pemerintah AS pada kebijakan atau pemerintah China (38%)
  • Keluarga, teman, atau kolaborator berisiko jadi sasaran pemerintah AS atau China sebagai pembalasan atas perkataan atau perbuatan saya (37%)
  • Orang lain mungkin melaporkan apa yang saya katakan atau lakukan kepada pemerintah AS atau China (31%)

Dengan rasa tidak nyaman dan takut tersebut, 89% responden menyatakan keinginan mereka untuk berkontribusi pada kepemimpinan AS di bidang sains dan teknologi.

Karpet Merah dan "Gaji Sultan" bagi Peneliti Muda

Menangkap risiko dan peluang ini, Pemerintah China menyusun sejumlah kebijakan dan fasilitas pendukung agar talentanya bisa berkarya di dalam negeri saja. Berikut beberapa di antaranya, dikutip dari Xinhua:

  • Dana startup: Provinsi Sichuan memberikan pendanaan awal hingga 300.000 yuan (sekitar Rp 765 juta) bagi lulusan luar negeri yang ingin membangun bisnis.
  • Gaji fantastis: Southwest Jiaotong University menawarkan gaji tahunan mulai dari 600.000 yuan (sekitar Rp 1,53 miliar) serta subsidi pemukiman hingga lebih dari 1 juta yuan (sekitar Rp 2,55 miliar).
  • Layanan satu pintu: Kawasan seperti Hangzhou Future Sci-Tech City menyediakan dukungan teknis khusus sehingga para peneliti bisa fokus pada inovasi tanpa terhambat prosedur administratif.

Ekosistem industri dan dukungan pemerintah yang agresif diharapkan menarik banyak ilmuwan muda berinovasi, mengembangkan industri dan menggerakkan ekonomi.

"Visi pragmatis ini memberikan rasa aman dan kepercayaan diri bagi para talenta yang pulang," ujar Zhu Hao, lulusan University of Illinois Urbana-Champaign sekaligus pendiri perusahaan teknologi desain spasial, dikutip dari Xinhua.

Menurutnya, fokus China terhadap teknologi inti kini jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Misi Besar Menguasai Teknologi Masa Depan

Kepulangan para talenta ini menandai adanya dinamika inovasi di China. Jika generasi sebelumnya membangun era internet, generasi baru lulusan luar negeri ini kini terjun langsung ke bidang-bidang "garis depan" seperti kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, hingga antarmuka otak-komputer ().

Han Bicheng, lulusan Harvard University, menjadi salah satu contoh nyata. Ia memindahkan riset teknologinya dari Boston ke Hangzhou setelah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah setempat, terutama saat perusahaannya menghadapi hambatan dalam perekrutan tenaga ahli.

Dukungan jangka panjang ini bantu para peneliti percaya bahwa mereka benar-benar bisa sukses di tanah kelahiran sendiri.

Upaya menarik talenta global ini diprediksi akan semakin kuat di bawah Rencana Lima Tahun ke-15 China (2026-2030), yang menekankan pada kemandirian teknologi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.