BANGKAPOS.COM -- Segini harta kekayaan Grace Natalie Sekretaris Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dilaporkan 40 ormas ke Bareskrim Polri.
Dia dilaporkan puluhan organisasi kemasyarakatan terkait polemik pernyataan mengenai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK).
Terkait hal itu Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menegaskan partainya tidak memberikan bantuan hukum dalam perkara tersebut.
Menurutnya, pernyataan Grace merupakan sikap pribadi dan tidak mewakili posisi resmi partai.
Baca juga: Sudah Ditahan KPK, Ini Alasan Ajudan Bupati Tulungagung Dwi Yoga Ambal Masih Terima Gaji
“Pernyataan yang disampaikan oleh anggota partai, katakan Mbak Grace, itu adalah pernyataan pribadi,” ujar Ahmad Ali di Kantor DPP PSI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, partai tidak akan memberikan pendampingan hukum karena persoalan yang dihadapi tidak berkaitan dengan kebijakan maupun instruksi organisasi.
“Secara kelembagaan kami pastikan tidak memberikan bantuan hukum karena ini harus dipertanggungjawabkan secara pribadi,” pungkasnya.
Tak cuma Grace Natalie, laporan juga mencantumkan akademisi Ade Armando dan Permadi Arya.
Ketiganya dilaporkan oleh 40 ormas yang tergabung dalam Aliansi untuk Kerukunan Umat Beragama.
Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI.
Perwakilan pelapor dari LBH Syarikat Islam, Gurun Arisastra, menyatakan laporan berkaitan dengan polemik unggahan potongan video ceramah Jusuf Kalla di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Kami mempermasalahkan polemik unggahan potongan video ceramah Bapak Jusuf Kalla yang dinilai mengandung narasi penghasutan,” ujar Gurun.
Para terlapor dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tentang ujaran kebencian.
Selain itu, terdapat sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait penghasutan di muka umum.
Perkara masih dalam tahap awal penanganan oleh kepolisian.
Mengutip e.lhkpn.go.id, Grace Natalie Louisa diketahui melaporkan harta kekayaannya satu kali khusus awal menjabat pada 30 Maret 2025.
Harta kekayaannya itu dilaporkan saat dirinya menjabat sebagai dewan komisaris PT MINERAL INDUSTRI INDONESIA (PERSERO) (MIND ID).
Tercatat ia memiliki harta kekayaan dengan total 31.086.519.917.
Berikut rinciannya:
II. DATA HARTA
A. TANAH DAN BANGUNAN Rp. 1.200.000.000
1. Tanah dan Bangunan Seluas 96 m2/53 m2 di KAB / KOTA KOTA
DEPOK , HASIL SENDIRI Rp. 1.200.000.000
B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp. 930.000.000
1. MOBIL, TOYOTA VOXY Tahun 2018, HASIL SENDIRI Rp.
330.000.000
2. MOBIL, BYD SEAL Tahun 2024, HASIL SENDIRI Rp. 600.000.000
C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp. 3.483.345.540
D. SURAT BERHARGA Rp. 9.662.262.041
E. KAS DAN SETARA KAS Rp. 24.845.699.523
F. HARTA LAINNYA Rp. 965.212.813
Sub Total Rp. 41.086.519.917
III. HUTANG Rp. 10.000.000.000
IV. TOTAL HARTA KEKAYAAN (II-III) Rp. 31.086.519.917
Grace Natalie Louisa lahir pada 4 Juli 1982 di Jakarta.
Grace mengenyam pendidikan di SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta.
Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di Jurusan Akutansi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII).
Dilansir TribunnewsWiki.com, sebelum berkecimpung di dunia politik, Grace pernah berkarier sebagai seorang jurnalis.
Di antaranya, Grace pernah menjadi penyiar di Liputan 6 yang tayang di SCTV.
Grace juga sempat mengembangkan kariernya di stasiun TV lain, seperti ANTV dan TVOne.
Ketika bekerja di TVOne, Grace Natalie berkesempatan mengikuti kursus kilat di Maastricht School of Management di Belanda pada Januari hingga April 2009 silam.
Namun, tak hanya di studio, Grace Natalie juga sempat terjun ke lapangan untuk liputan.
Grace Natalie pernah meliput tragedi tsunami Aceh 2004 dan meletusnya Gunung Talang Sumatera Barat.
Kemudian konflik Poso di Sulawesi Tengah hingga liputan terorisme Agustus 2009 di Temanggung, Jawa Tengah.
Grace Natalie pernah mendapat gelar Anchor of The Year 2008, serta Runner Up Jewel of the Station 2009 versi News Anchor Admirer.
Sebagai jurnalis, ia berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan beberapa tokoh internasional.
Beberapa diantaranya adalah Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta, CEO Forbes Steve Forbes, dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva.
Namun, pada Juni 2012 Grace Natalie meninggalkan Tv One dan mencoba beralih dalam jabatan baru sebagai CEO Saiful Mujani Research and Consulting.
Karier Politik
Grace Natalie memutuskan untuk terjun ke dunia politik pada tahun 2014.
Ia mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan partai yang bebas korupsi.
Grace kemudian mendirikan Partai Solidaritas Indonesia.
Ia sempat menjabat sebagai Ketua Umum PSI dan kini dirinya bertugas sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina PSI.
Pada Pileg 2024, Grace berkontestasi sebagai calon legislatif (caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta III.
Namun, dirinya gagal melenggang ke Senayan karena PSI tak memenuhi ambang batas parlemen sebesar empat persen pada Pemilu 2024.
Padahal, Grace Natalie meraup 193.556 suara.
Grace juga diketahui menjabat sebagai Komisaris Independen MIND ID dan pernah menjadi Staf Khusus Presiden Joko Widodo.
(Bangkapos.com/Tribunnews/TribunnewsWiki.com)