Diluncurkan Sultan HB X, Mengenal Pendidikan Khas Kejogjaan, Program Berbasis Budaya di Yogyakarta
ninda iswara May 06, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Program baru diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X bernama Pendidikan Khas Kejogjaan.

Pendidikan Khas Kejogjaaan (PKJ) kini resmi diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

PKJ merupakan sebuah program pendidikan berbasis budaya.

Program ini akan mempelajari pembentukan karakter melalui kebiasaan sehari-hari.

Hasil awal penerapannya pun dinilai positif, terlihat dari nilai karakter siswa yang mencapai 4,1 dari skala 5. 

Baca juga: Dugaan Penggelapan Dana SPPG di Kulon Progo Yogyakarta, Merugi Insentif Dipotong, Polisi Selidiki

Yogyakarta
Yogyakarta (Kompas Yogyakarta)

Konsep Pendidikan Khas Kejogjaan

Dalam program ini, siswa akan mempelajari pendidikan karakter dengan memasukkan nilai-nilai budaya Yogyakarta ke dalam proses belajar.

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa menuturkan bahwa program ini akan diterapkan dalam berbagai kegiatan belajar.

Siswa akan dibiasakan dengan nilai-nilai budaya sehingga memiliki karakter yang telah dipelajari.

"Pertama, mengenai gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan itu lebih ke pembiasaan atau habituasi. Jadi, tidak sekadar program, tetapi benar-benar terlaksana dan dibiasakan, sehingga akan menjadi milik karakter itu," ujar Sutrisna, dikutip dari TribunJogja.

Mengikuti Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Dalam PKJ, siswa akan belajar memahami hingga mempraktikkan nilai-nilai budaya.

PKJ mengusung konsep sesuai pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Ada tiga tahapan dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara yakni memahami, merasakan, dan melakukan.

"Prosesnya itu, kalau menurut Ki Hadjar Dewantara 'kan ada tiga: ngerti (memahami), ngerasa (merasakan), dan ngelakoni (melakukan). Nah, pembudayaan itu mencakup tiga unsur ini. Kalau dalam bahasanya ahli pendidikan karakter, Thomas Lickona, itu juga ada tiga, sama sebenarnya dengan Ki Hadjar. Pertama adalah moral knowing (pengetahuan moral). Kedua adalah moral feeling (perasaan moral). Ketiga adalah moral action (tindakan moral), yang artinya berupa gerakan atau implementasi. Jadi, gerakan itu kalau bahasa Ki Hadjar adalah ngelakoni, sementara bahasa Lickona adalah moral action. Tidak sekadar pengetahuan," papar Sutrisna.

Siswa yang mempelajari PKJ diharapkan bisa memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, PKJ juga menggabungkan budaya dan pendidikan modern.

Ada banyak sumber nilai yang diambil dalam PKJ.

Mulai dari Keraton Yogyakarta, Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga pendidikan modern. 

Di Pendidikan Khas Kejogjaan itu namanya Widya Soko Tunggal. Pengetahuan dari sumber-sumber utama itu kita gali nilai atau value-nya. Keenam sumber tersebut adalah: (1) Keraton, (2) Pakualaman, (3) Nahdlatul Ulama (NU), (4) Muhammadiyah, (5) Taman Siswa, dan (6) Pendidikan Modern. Sumber-sumber ini kita gali untuk menguatkan akar Jogja yang kita sebut sebagai Widya Soko Tunggal," tegasnya.

Nilai-nilai yang digali dari berbagai sumber tidak berhenti sebagai konsep semata.

Baca juga: Angkringan Plataran Senopati Yogyakarta, Hasil Patungan Jukir yang Kehilangan Lahan, Sentra Kuliner

PENDIDIKAN KHAS KEJOGJAAN - Sri Sultan Hamengku Buwono X luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan, program berbasis budaya dan modern di Yogyakarta (Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo)

Nilai tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pedoman hidup yang bisa diterapkan sehari-hari.

"Filosofi itu 'kan pandangan hidup. Ini kita jadikan pedoman bagi Kawula Jogja, khususnya anak-anak kita, bahwa kita harus bersikap Hamemayu Hayuning Bawana, memelihara kedamaian dunia, tidak menumbuhkan pertengkaran, dan saling bertoleransi. Itu sebenarnya menyatukan, sehingga dunia menjadi indah dan damai," terang Sutrisna.

Implementasi Pendidikan Karakter Jogja (PKJ) mulai menunjukkan hasil yang positif di lapangan.

Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menyebutkan nilai karakter siswa telah mencapai 4,1 dari skala 5.

Capaian ini menjadi dasar untuk memperluas program ke seluruh jenjang pendidikan, dari PAUD hingga SMA/SMK.

Pemerintah daerah menilai penguatan karakter penting untuk menyeimbangkan perkembangan akademik dan moral siswa.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya pendidikan karakter yang menyeluruh.

"Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri," tegasnya.

Dengan demikian, pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan budaya.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.