Gubernur Lampung Dorong Kemitraan Industri Tapioka dengan Petani Singkong Perkuat Hilirisasi Ekspor
taryono May 06, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan pentingnya penguatan ekosistem hulu–hilir industri tapioka melalui perluasan kemitraan strategis antara pelaku pengolahan dengan petani singkong lokal. 

Ia berharap hubungan tersebut tidak sekadar hubungan jual-beli bahan baku, tetapi berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang yang mampu memastikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. 

“Saya ingin setiap kontainer yang berangkat ini membawa kesejahteraan bagi petani kita, sehingga ada korelasi positif antara naiknya volume ekspor dengan tingkat kemakmuran petani di desa-desa,” ujar Mirza.

Dorongan itu mengemuka seiring dengan kembali dibukanya keran ekspor tepung tapioka asal Lampung ke Tiongkok. 

Sebanyak 3.330 ton atau setara 180 kontainer produk tapioka diberangkatkan untuk memenuhi kebutuhan industri di negara tersebut. Komoditas hasil olahan CV Central Intan (Intan Group) itu tercatat memiliki nilai transaksi sekitar Rp 26 miliar.

Gubernur juga menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut yang sekaligus memperkuat posisi Lampung di pasar global. Ia menyebut, hingga April 2026, total ekspor tapioka dari daerahnya telah mencapai 7.600 ton, mencerminkan tren positif hilirisasi sektor pertanian yang mulai menunjukkan hasil konkret.

Prosesi pelepasan ekspor dilakukan di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5), ditandai dengan pemecahan kendi tanah liat sebagai simbol keberangkatan. 

Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan itu, di antaranya Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Darma Panca Putra, Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf, serta CEO Intan Group Jeremy Gozal.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza menegaskan bahwa penetrasi produk Lampung ke pasar internasional hanya bisa dipertahankan melalui konsistensi kualitas dan standar keamanan pangan yang ketat. 

“Kita harus sadar bahwa dunia melihat Lampung, maka menjaga kualitas adalah harga mati agar kepercayaan para pembeli mancanegara ini tidak luntur,” katanya.

Ia juga menyoroti perlunya efisiensi biaya logistik untuk menjaga daya saing tapioka Lampung di tengah kompetisi regional. Menurutnya, sebagai salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia, Lampung memiliki keunggulan bahan baku yang harus dimaksimalkan melalui sistem industri yang efisien dan terintegrasi.

Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus memperkuat dukungan regulasi serta infrastruktur guna memperlancar aktivitas ekspor. “Pemerintah akan terus memfasilitasi kemudahan regulasi dan infrastruktur agar para eksportir kita bisa bergerak lebih lincah dan kompetitif di panggung dunia,” ujarnya.

Mirza juga memberikan apresiasi kepada Badan Karantina Indonesia dan Polda Lampung atas pengawalan distribusi ekspor, baik dari sisi administrasi maupun keamanan. 

Ia menilai sinergi lintas sektor tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan pasar global terhadap produk daerah.

Keberhasilan ekspor Intan Group ini diharapkan menjadi pemicu bagi pelaku usaha lain di Lampung untuk memperluas orientasi pasar hingga ke level internasional, dengan tetap bertumpu pada penguatan hilirisasi dan keberpihakan pada petani singkong lokal.

Intan Group

CEO Intan Group Jeremy Gozal mengatakan, pihaknya meminta pemerintah menjajaki kerja sama dengan negara-negara muslim untuk menjadi konsumen ekspor tepung tapioka Lampung. Jeremy mengakui China adalah pasar tapioka terbesar di dunia. Namun, persaingan harga di sana sangat ketat.

"China itu pasar tapioka terbesar di dunia. Semua produsen masuk ke sana, jadi kita bersaing pahit di sana," ujar Jeremy.

Ia menjelaskan, harga jual tapioka di China saat ini berada di angka 510 dolar AS per metrik ton. Menurutnya, harga tersebut merupakan yang terendah dibandingkan potensi pasar lainnya.

Sebagai perbandingan, Jeremy mengungkapkan bahwa pasar Bangladesh menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dan menguntungkan bagi pengusaha, yakni mencapai 710 dolar AS per metrik ton. Sementara Korea Selatan berada di kisaran 560 dolar AS per metrik ton.

"Ke depannya saya berharap kita cari segmen yang pasarnya lebih empuklah dibanding pasar China, target terdekat kita Korea Selatan, lalu negara-negara muslim seperti Bangladesh, Pakistan, dan India," tuturnya.

Meski begitu, Jeremy juga mengapresiasi peran besar Pemprov Lampung yang telah mendorong pengusaha lokal untuk berani menembus pasar internasional. "Pak Gubernur menekankan kepada kami, para pengusaha, untuk cari pasar ekspor, dan ekspor perdana kami ini adalah 'produk' dari arahan Pak Gubernur sendiri," beber Jeremy seraya menyampaikan terima kasih karena Pemprov Lampung telah memberikan dukungan penuh dan memfasilitasi segala kebutuhan para pelaku usaha ekspor.

Jaga Kualitas

Badan Karantina Indonesia (Barantin) menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan komoditas ekspor unggulan sebagai kunci utama membangun kepercayaan pasar internasional. Hal itu diungkapkan Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Darma Panca Putra dalam acara pelepasan ekspor 3.330 ton tapioka senilai Rp 26 miliar menuju China di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5).

Darma memaparkan, realisasi ekspor tapioka Lampung hingga April 2026 telah mencapai 7.600 ton dan diperkirakan segera menyentuh angka 10.000 ton. Dia memberikan apresiasi tinggi kepada Provinsi Lampung karena menjadi daerah yang paling dominan dalam menyumbang angka ekspor tapioka nasional dibandingkan provinsi lainnya.

Berdasarkan data tahun 2025, Lampung sukses mengekspor 22.500 ton tapioka dengan nilai lebih dari Rp 130 miliar ke berbagai negara seperti China, Filipina, Selandia Baru, dan Taiwan. Darma mengingatkan bahwa tantangan pasar global saat ini bukan hanya soal kontinuitas stok, tetapi juga tuntutan kualitas produk yang sangat ketat di pasar internasional.

Barantin berkomitmen menjalankan fungsinya sebagai fasilitator perdagangan dengan memastikan setiap produk turunan singkong memenuhi standar kesehatan tumbuhan dan persyaratan teknis negara tujuan melalui sertifikasi karantina.

"Kualitas dari produk ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama mulai dari tahap produksi, pengolahan, sampai transportasi, karena penanganan pasca produksi adalah kunci," tegas Darma.

Lebih lanjut, Drama menegaskan bahwa penguatan ekspor harus didukung sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. "Sesuai arahan Bapak Presiden dalam Asta Cita, hilirisasi adalah kunci kemandirian industri. Badan Karantina Indonesia, dalam fungsinya sebagai penjamin mutu sekaligus fasilitator perdagangan (trade facilitator), hadir sebagai jembatan untuk memastikan setiap produk, termasuk turunan singkong, memenuhi standar keamanan pangan negara tujuan, sebagai keunggulan kompetitif Indonesia di pasar internasional," beber dia.

Selain itu, kelancaran ekspor juga didukung oleh kolaborasi lintas instansi yang solid. Menurutnya, sinergi antara Pelindo, Bea Cukai, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag), Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menjadi kunci dalam memastikan proses ekspor berjalan efisien dan tepat waktu.

"Pelindo berperan dalam penyediaan layanan kepelabuhanan. Bea Cukai mempercepat proses kepabeanan. Perindag memberikan fasilitasi perdagangan dan dukungan terhadap pelaku usaha, serta Dinas Ketahanan Pangan sebagai pembina pelaku usaha. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem perdagangan yang semakin terintegrasi," tambah Drama.

Dengan dukungan sistem karantina yang andal serta kolaborasi lintas instansi yang kuat, ekspor tapioka diharapkan tidak hanya menjadi capaian jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong kesejahteraan petani dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

Jamin Transparansi

Di sisi lain, petani singkong memberikan catatan kritis di tengah langkah besar Pemprov Lampung yang mulai menembus pasar internasional. Apresiasi yang diberikan petani menyusul terbukanya keran ekspor tepung tapioka ke China itu diiringi dengan harapan yang mendesak pemerintah dan pengusaha untuk menjamin transparansi harga serta menghapus praktik potongan berat (rafaksi) yang dinilai tidak adil.

Unus, petani singkong di Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, mengungkapkan bahwa geliat ekspor memang meningkatkan serapan hasil tani. Namun, ia memperingatkan adanya ancaman penurunan produksi bahan baku karena banyak petani yang mulai jenuh dan beralih ke tanaman lain seperti jagung dan padi.

"Secara peluang memang bagus karena permintaan meningkat, apalagi ada rencana untuk etanol. Cuma sekarang bahan baku mulai berkurang karena petani banyak yang beralih tanaman. Kalau mau petani bertahan, pabrik harus menghargai kualitas singkong kami, jangan disamakan harganya antara yang sudah jaga kualitas dengan yang asal cabut," ujar Unus, Selasa (5/5).

Hal senada disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Tengah Dasrul Aswin. Ia menyoroti adanya ketimpangan margin keuntungan yang sangat lebar antara nilai ekspor dan harga beli di tingkat petani.

Dasrul menjelaskan, dengan nilai ekspor Rp 26 miliar untuk 3.330 ton, harga tapioka di pasar global mencapai kisaran Rp 7.800 per kilogram. Sementara itu, catatan PPUKI pada tahun 2025 menunjukkan praktik potongan rafaksi di pabrik bahkan sempat menyentuh angka 50 persen.

"Kalau harga singkong dibeli Rp 1.200 tapi potongannya 50 persen, petani hanya terima Rp 600. Itu untung pengusaha sangat besar. Sekarang di 2026 harga memang sudah Rp 1.600-an dengan potongan 15 persen, itu lumayan. Tapi harapan kami, pengusaha jangan bermain-main lagi. Jaga standar harga minimal sesuai Pergub Lampung," tegas Dasrul.

Menurutnya, kemitraan yang sehat adalah kunci. Dasrul mengatakan, jika harga tidak kompetitif dan potongan tetap tinggi, pemerintah tidak bisa melarang jika petani bermigrasi total ke komoditas jagung atau padi yang saat ini harganya juga sedang menjanjikan.

Iswan Rudi, petani lainnya, mengaku menaruh harapan besar pada kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Baginya, ekspor perdana ini adalah bukti bahwa pemerintah tidak salah dalam mengambil langkah solusi.

"Kami mengapresiasi upaya gubernur. Harga sekarang di Rp 1.680 dengan potongan 15 persen sudah mulai bagus. Namun, pemerintah harus menjamin harga ini tidak jatuh lagi supaya kami tidak ragu untuk terus menanam singkong," kata Iswan.

Dia membenarkan bahwa pelepasan ekspor 180 kontainer menuju China menjadi tonggak sejarah baru bagi komoditas unggulan Lampung. Namun, kata dia, keberlanjutannya kini bergantung pada kesanggupan industri pengolahan untuk menerapkan praktik perdagangan yang adil bagi para petani singkong di akar rumput. 

(Tribunlampung.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.