Sampah Jadi Ancaman, Evaluasi Proyek In Flores Soroti Masa Depan Pariwisata Riung
Nofri Fuka May 06, 2026 05:45 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Persoalan sampah menjadi ancaman serius bagi masa depan pariwisata Riung, Kabupaten Ngada. Isu tersebut mencuat dalam evaluasi program In Flores bersama Forum Konservasi Mbou Ngada yang digelar di Kecamatan Riung, Rabu (6/5/2026).

Ekosistem pariwisata Riung dinilai menghadapi tantangan besar, terutama pengelolaan sampah yang belum berjalan secara berkelanjutan. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku wisata, masyarakat, hingga pemerintah daerah.

Forum tersebut dihadiri perwakilan United Nations Development Programme (UNDP), Bappenas RI, BKSDA Ruteng, Pemerintah Kabupaten Ngada, pemerintah desa, pelaku UMKM, NGO, pelaku pariwisata, serta masyarakat di wilayah konservasi.

Dalam diskusi itu, warga mengapresiasi kerja Forum Konservasi Mbou Riung yang didukung penuh oleh In Flores dan BKSDA NTT. Program pendampingan dinilai membawa manfaat melalui pemberdayaan masyarakat, edukasi, hingga intervensi kebijakan.

 

Baca juga: Dinas Capil Ngada Jemput Bola Lengkapi Data Kependudukan Warga Binaan Rutan Bajawa

 

 

Meski demikian, masalah sampah disebut masih menjadi pekerjaan rumah utama yang perlu segera ditangani.

Pelaku pariwisata Riung, Jumiarsi, mengatakan mayoritas sampah berasal dari rumah tangga dan membutuhkan edukasi pengelolaan yang lebih baik.

“Kalau untuk sampah, ini masih menjadi masalah. Karena ini tempat pariwisata. Sumber sampah dari rumah tangga yang perlu diberikan edukasi dengan pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan,” ujar Jumiarsi.

Ia menilai persoalan sampah dapat mengganggu citra pariwisata Riung, bahkan berpotensi mengancam habitat spesies endemik Mbou yang menjadi ikon kawasan tersebut.

Jumiarsi juga mengapresiasi dukungan In Flores melalui gerakan Riung Bebas Sampah. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Ngada telah membantu menyediakan fasilitas pendukung bagi Bank Sampah Riung yang baru dibentuk.

Menurut dia, kehadiran In Flores juga membawa dampak positif melalui pelatihan bahasa Inggris bagi pelaku pariwisata. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan pelayanan kepada wisatawan.

Ketua KTH Tado Lestari, Nuryani, berharap pendampingan terus dilanjutkan, khususnya untuk pengembangan produk kuliner lokal.

“Kami senang dilibatkan oleh forum ini. Kami masih membutuhkan pendampingan terus dari KSDA dan In Flores untuk membuat produk kuliner,” kata Nuryani.

Pelaku UMKM Masih Butuh Pendampingan

Ia menambahkan, pelaku UMKM juga masih membutuhkan pelatihan manajemen keuangan dan strategi pemasaran.

Sementara itu, Ketua Kelompok KPH Dia Imus, Imelda Sado, mengatakan kelompoknya mendapat manfaat dari pelatihan tenun ikat dan kuliner.

“Kami bergerak dalam bidang budaya, tenun ikat, dan kuliner. Kegiatan selama ini telah berjalan, tetapi kebutuhan wisata kuliner masih besar,” ujarnya.

Kehadiran Forum Konservasi Mbou dinilai menjadi langkah nyata dalam menjaga satwa endemik Mbou (komodo) di Riung. Sementara In Flores diharapkan terus mendorong kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.

Masyarakat juga diharapkan semakin sadar menjaga kawasan konservasi dan habitat satwa endemik sebagai ikon pariwisata Riung saat ini. (Cha).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.